Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Locus of Control: Berhenti Menyalahkan Keadaan dan Ambil Kendali

Nisrina - Thursday, 05 March 2026 | 01:20 PM

Background
Mengenal Locus of Control: Berhenti Menyalahkan Keadaan dan Ambil Kendali
Ilustrasi (Verywell/Theresa Chiechi)

Pernah nggak sih kamu ngerasa hari kamu berantakan banget cuma gara-gara hal sepele? Misalnya, pagi-pagi mau berangkat kerja, eh ban motor bocor. Di saat itu, reaksi kamu gimana? Apakah kamu bakal ngedumel, "Duh, emang dasar sial banget hari ini, semesta kayaknya lagi musuhan sama gue," atau kamu justru mikir, "Aduh, ini pasti gara-gara gue males ngecek kondisi ban semalem, harusnya gue lebih teliti"?

Nah, perbedaan cara pandang itu bukan cuma soal optimis atau pesimis, gaes. Dalam dunia psikologi, hal ini dikenal dengan istilah Locus of Control. Konsep yang dipopulerkan sama Julian Rotter di tahun 1954 ini intinya nanyain satu hal mendasar: siapa sih yang sebenarnya pegang kendali atas hidup kita? Apakah itu diri kita sendiri (Internal), atau justru kekuatan luar kayak nasib, keberuntungan, atau malah bos kita yang galak (External)?

Tim "Gue Bisa": Si Internal Locus of Control

Orang-orang dengan Internal Locus of Control itu ibarat sopir di mobil hidupnya sendiri. Mereka percaya banget kalau apa yang terjadi dalam hidup mereka—baik itu sukses atau gagal—adalah hasil dari tindakan, kerja keras, dan keputusan mereka sendiri. Kalau mereka dapet promosi jabatan, mereka bakal bilang, "Ya jelas lah, gue kan lembur terus tiap malem." Kalau mereka putus cinta, mereka bakal refleksi, "Mungkin gue emang kurang komunikatif kemarin."

Punya mentalitas kayak gini sebenernya keren banget buat produktivitas. Biasanya, orang tipe ini lebih tangguh, nggak gampang menyerah, dan punya motivasi yang tinggi. Mereka nggak nunggu "keajaiban" datang dari langit. Mereka yang bikin keajaiban itu sendiri. Tapi ya gitu, ada sisi gelapnya juga. Karena merasa semuanya ada di bawah kendali mereka, orang tipe internal ini sering banget kena stres berat atau burnout. Mereka cenderung menyalahkan diri sendiri secara berlebihan kalau ada hal yang nggak sesuai rencana. "Self-blame" ini bisa jadi racun kalau nggak dikontrol.

Tim "Pasrah Aja": Si External Locus of Control

Di sisi lain, ada tim External Locus of Control. Mereka ini ngerasa kalau hidup mereka itu lebih banyak dipengaruhi sama faktor luar yang nggak bisa mereka kendalikan. "Ah, dia dapet proyek itu mah karena hoki aja, bokapnya kan kenal sama direktur," atau "Gue gagal tes CPNS karena soalnya emang sengaja dibikin nggak masuk akal."

Banyak orang bilang tipe ini tuh "victim mentality" atau mentalitas korban. Tapi jujurly, nggak selamanya buruk kok. Orang dengan locus of control eksternal cenderung lebih santai dan nggak gampang stres kalau ada bencana melanda. Mereka punya mekanisme pertahanan diri yang bikin mental mereka lebih stabil saat menghadapi kegagalan yang emang bener-bener di luar kendali manusia, kayak pandemi atau krisis ekonomi global. Masalahnya, kalau kebablasan, mereka jadi pasif. Mereka jadi males berusaha karena ngerasa, "Toh mau kerja keras bagaimanapun, kalau nasibnya udah begini ya udah."

Kenapa Kita Butuh Keduanya?

Kalau kita ngomongin soal hidup di zaman sekarang yang serba nggak pasti, kita nggak bisa cuma pakai satu kacamata doang. Bayangin kalau kamu terlalu internal, kamu bakal ngerasa gagal jadi manusia cuma gara-gara ekonomi lagi resesi. Padahal kan itu bukan salah kamu. Sebaliknya, kalau kamu terlalu eksternal, kamu bakal jadi kaum rebahan abadi yang nunggu dipatuk ayam baru gerak, sambil nyalahin pemerintah atas kemiskinanmu.

Dunia ini penuh dengan variabel yang campur aduk. Ada hal yang bisa kita kontrol (usaha, sikap, respon), dan ada hal yang mutlak di luar kendali kita (cuaca, perasaan orang lain, harga BBM). Keseimbangan itu kunci, istilah kerennya "balance". Kita butuh semangat internal buat terus berkembang, tapi kita juga butuh kebijaksanaan eksternal buat menerima hal-hal yang emang nggak bisa diubah.

Privilese dan Realita Lapangan

Mari kita bicara jujur. Seringkali obrolan soal Locus of Control ini jadi bias kalau kita nggak masukin faktor privilese. Gampang banget bilang "hidup itu pilihan" buat orang yang lahir dari keluarga berada. Tapi buat anak muda yang harus jadi tulang punggung keluarga sambil kuliah malam, variabel "eksternal" itu nyata banget dan beratnya bukan main. Di sini kita harus jeli melihat bahwa locus of control itu spektrum, bukan hitam putih.

Kadang, lingkungan emang nggak mendukung. Tapi bukan berarti kita harus menyerah sama keadaan. Yang paling sehat adalah mengakui bahwa keadaan emang sulit (eksternal), tapi kita masih punya power buat milih gimana cara kita merespon kesulitan itu (internal). Mirip-mirip ajaran Stoikisme-lah, fokus pada apa yang ada dalam kendali kita.

Gimana Cara Geser Kendalinya?

Kalau kamu ngerasa selama ini terlalu banyak nyalahin keadaan, coba deh mulai dari hal kecil. Jangan langsung pengen ngerubah dunia. Mulai dengan ngerubah rutinitas pagi atau cara kamu ngerespon chat yang bikin kesel. Sadari kalau kamu punya "hak pilih" untuk nggak marah-marah. Sebaliknya, kalau kamu tipe yang dikit-dikit ngerasa bersalah, coba belajar buat bilang, "It's not my fault, and it's okay."

Pada akhirnya, siapa yang memegang kendali hidup kita? Jawabannya adalah kolaborasi antara diri kita dan semesta. Kita yang megang setirnya, tapi semesta yang nentuin apakah jalannya bakal mulus atau penuh lobang. Tugas kita cuma satu: tetep nyetir dengan sebaik mungkin, mau jalannya kayak gimanapun bentuknya. Jangan sampai kita cuma duduk di kursi penumpang sambil ngerutuk sepanjang jalan, padahal tangan kita sebenernya bisa nyentuh kemudi.

Jadi, hari ini kamu mau jadi sopir atau cuma mau jadi penumpang yang hobi ngedumel? Pilihan ada di tanganmu, tapi jangan lupa isi bensin dulu ya!

Logo Radio
🔴 Radio Live