Ceritra
Ceritra Warga

Mengenal Fear of Success dan Alasan Kita Sering Sabotase Diri

Nisrina - Thursday, 05 March 2026 | 12:15 PM

Background
Mengenal Fear of Success dan Alasan Kita Sering Sabotase Diri
Ilustrasi (Verywell/Madelyn Goodnight)

Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja dipanggil atasan atau klien besar. Mereka bilang kalau performa kamu gila banget belakangan ini dan mereka mau kasih kamu tanggung jawab lebih besar, proyek impian yang selama ini kamu idam-idamkan, plus kenaikan gaji yang lumayan buat bayar cicilan atau jajan kopi kekinian tiap pagi. Reaksi normalnya? Harusnya sih senang, lompat-lompat, atau minimal update status penuh syukur di LinkedIn, kan?

Tapi, kenyataannya malah beda. Jantung kamu tiba-tiba deg-degan bukan karena senang, tapi karena panik. Kamu mulai mikir, "Aduh, nanti kalau aku gagal gimana?" atau "Nanti kalau ekspektasi orang jadi ketinggian gimana?" Sampai akhirnya, secara nggak sadar, kamu malah bikin alasan buat nolak peluang itu atau malah kerja asal-asalan biar nggak jadi dipilih. Aneh, kan? Di saat orang lain mati-matian ngejar sukses, kamu malah kayak lagi berusaha kabur dari kejaran hantu bernama keberhasilan. Selamat datang di dunia fear of success.

Apa Sih Sebenernya Fear of Success Itu?

Secara harfiah, fear of success atau ketakutan akan kesuksesan adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa cemas berlebihan terhadap konsekuensi yang muncul setelah mereka berhasil mencapai sesuatu. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Matina Horner pada tahun 1970-an. Awalnya, teori ini banyak dikaitkan sama perempuan yang takut kalau mereka terlalu sukses, mereka bakal dianggap nggak feminin atau susah dapet jodoh. Tapi zaman sekarang, ternyata penyakit mental ini nggak pandang bulu. Cowok, cewek, Gen Z, sampai Boomer bisa kena.

Bedanya sama fear of failure (takut gagal) itu tipis tapi nyata. Kalau takut gagal itu wajar, kita takut malu kalau salah. Tapi kalau takut sukses, kita justru takut pada perubahan hidup yang dibawa oleh kemenangan itu. Sukses itu berat, kawan. Ada beban ekspektasi, ada sorotan mata orang lain, dan ada tanggung jawab yang nggak main-main.

Kenapa Kita Takut Sama Hal yang Bagus?

Mungkin terdengar konyol, tapi ada alasan logis di balik ketakutan yang nggak logis ini. Salah satu alasan utamanya adalah takut dikucilkan. Di lingkungan kita, kadang ada semacam crab mentality atau mentalitas kepiting. Begitu ada satu kepiting yang mau naik ke atas ember, yang lain malah narik kaki si kepiting itu biar balik lagi ke bawah. Kita takut kalau kita terlalu sukses, teman-teman tongkrongan bakal ngerasa minder, kita dianggap sombong, atau malah dijauhin karena "level"-nya udah beda. Akhirnya, kita milih buat tetap "biasa-biasa saja" biar tetap diterima.

Lalu ada yang namanya Imposter Syndrome. Ini adalah perasaan kalau diri kita itu sebenernya cuma tukang tipu yang lagi beruntung. Kita merasa nggak layak sukses. Jadi, pas kesuksesan itu datang, kita ngerasa kayak beban moral. "Duh, nanti kalau mereka tahu aku aslinya nggak sepinter itu gimana?" Ketakutan ketahuan "aslinya" ini bikin kita lebih milih buat nggak usah sukses sekalian daripada harus pura-pura hebat selamanya.

Selain itu, sukses berarti kehilangan zona nyaman. Kalau kamu jadi manajer, kamu nggak bisa lagi santai-santai sambil main game di jam kerja kayak pas jadi staf biasa. Kamu harus mimpin rapat, ambil keputusan sulit, dan mungkin pulang lebih malam. Bagi sebagian orang, kenyamanan hidup yang sekarang itu jauh lebih berharga daripada angka di rekening bank yang bertambah tapi bikin stres makin parah.

Tanda-tanda Kamu Lagi Sabotase Diri Sendiri

Ketakutan ini seringnya nggak muncul dalam bentuk teriakan "Aku takut sukses!", tapi lewat perilaku halus yang namanya self-sabotage. Coba cek, apakah kamu pernah ngalamin hal-hal di bawah ini?

  • Prokrastinasi tingkat dewa: Kamu tahu ada tenggat waktu proyek penting yang bisa bikin karier kamu melesat, tapi kamu malah milih maraton drakor atau bersihin kamar mandi sampai kinclong di malam H-1.
  • Ngeremehin diri sendiri: Pas dipuji orang, kamu selalu bilang "Ah, itu mah hoki aja" atau "Kebetulan lagi gampang kok tugasnya." Kamu nggak pernah benar-benar ngerayain kemenangan kecil kamu.
  • Sengaja bikin kesalahan konyol: Pas presentasi di depan orang penting, tiba-tiba kamu lupa bawa materi atau salah ketik angka yang fatal banget. Padahal biasanya kamu teliti banget.
  • Berhenti tepat sebelum garis finish: Kamu sudah berjuang 90 persen, tapi pas tinggal selangkah lagi menuju sukses, kamu tiba-tiba merasa kehilangan motivasi dan mutusin buat mundur.

Gimana Cara Damai sama Kesuksesan?

Langkah pertama yang paling penting adalah sadar kalau perasaan ini nyata dan valid. Jangan malah overthinking karena kamu merasa aneh. Setelah itu, coba deh bedah ketakutan kamu. Apa sih yang sebenarnya kamu takutin? Kalau takut kesepian karena sukses, carilah lingkungan baru yang juga punya ambisi yang sama. Ingat, sukses bukan berarti kamu harus ninggalin diri kamu yang lama, tapi cuma upgrade versi yang lebih oke.

Terus, ubah narasi di kepala kamu. Sukses itu bukan beban, tapi alat. Dengan sukses, kamu punya lebih banyak sumber daya buat bantu orang lain, buat eksplor hobi yang selama ini tertunda, atau sekadar kasih kehidupan yang lebih layak buat keluarga. Jangan biarkan bayangan buruk tentang masa depan ngerusak peluang yang ada di depan mata sekarang.

Kesimpulannya, hidup ini emang penuh misteri dan rasa takut. Tapi, kalau kamu terus-terusan sembunyi di balik selimut keamanan, kamu nggak bakal pernah tahu seberapa jauh kamu bisa berlari. Peluang besar nggak datang dua kali, dan percaya deh, kamu jauh lebih siap daripada apa yang pikiran negatif kamu katakan. Jadi, kalau nanti ada peluang besar ngetok pintu rumahmu, jangan pura-pura nggak ada di rumah. Buka pintunya, ajak masuk, dan nikmati prosesnya. Kamu pantas buat sukses, titik.

Logo Radio
🔴 Radio Live