Singapura Main Cambuk buat Vapers, Indonesia Malah Jadi Surga Ngebul yang Hakiki
Nisrina - Tuesday, 20 January 2026 | 12:15 PM


Singapura kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara dengan peraturan paling ketat di dunia terkait peredaran dan konsumsi rokok elektrik atau vape. Baru-baru ini, otoritas setempat meningkatkan intensitas razia di berbagai pintu masuk negara, mulai dari Bandara Changi hingga pos pemeriksaan darat di Woodlands dan Tuas. Langkah agresif ini diambil untuk membendung masuknya produk tembakau alternatif yang dianggap ilegal dan berbahaya bagi kesehatan publik di negara tersebut. Bagi wisatawan maupun warga lokal, membawa perangkat ini bukan lagi sekadar pelanggaran ringan, melainkan tindakan yang bisa berujung pada sanksi hukum yang sangat serius.
Sorotan utama dari pengetatan aturan ini adalah adanya ancaman hukuman fisik berupa cambuk bagi pelanggaran spesifik. Penting untuk dipahami bahwa hukuman berat ini, termasuk penjara jangka panjang dan hukuman cambuk, diberlakukan khusus untuk kasus rokok elektrik yang mengandung zat narkotika atau psikotropika, seperti etomidate. Etomidate sebenarnya adalah obat bius atau anestesi kerja cepat yang disalahgunakan dalam cairan vape. Otoritas Narkotika Pusat (CNB) Singapura mengklasifikasikan zat ini sebagai bahan berbahaya. Pengguna atau pengedar yang tertangkap membawa vape dengan kandungan ini bisa dijerat dengan undang-undang penyalahgunaan narkoba yang terkenal tanpa ampun di Singapura.
Sementara untuk pengguna vape biasa tanpa kandungan narkoba, sanksi yang diterapkan tetaplah memberatkan secara finansial. Siapa pun yang tertangkap membeli, menggunakan, atau memiliki produk tembakau imitasi ini dapat dikenakan denda hingga ribuan Dolar Singapura. Pemerintah Singapura bersikeras bahwa pelarangan total ini diperlukan untuk mencegah efek pintu gerbang atau gateway effect, di mana penggunaan vape dikhawatirkan akan memicu kebiasaan merokok konvensional atau penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda.
Ketegasan Singapura ini menciptakan kontras yang tajam dengan situasi di negara tetangganya, Indonesia. Di saat Singapura menutup rapat pintu bagi industri vape, Indonesia justru tumbuh menjadi pasar yang subur dan ramah bagi pengguna rokok elektrik. Dengan adanya regulasi resmi yang memungut cukai dari cairan vape, Indonesia secara tidak langsung melegalkan dan mengakui keberadaan industri ini. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai "tempat pelarian" atau alternatif bagi para pengguna rokok elektrik di kawasan Asia Tenggara.
Fenomena ini terlihat dari banyaknya wisatawan yang merasa lebih leluasa menikmati gaya hidup vaping mereka saat berkunjung ke kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, atau Bali. Di Indonesia, komunitas vape berkembang pesat dengan ribuan toko ritel dan acara pameran berskala internasional yang rutin digelar. Bagi sebagian pengamat ekonomi, perbedaan kebijakan ini menempatkan Indonesia pada posisi yang unik. Indonesia bisa menarik devisa dari wisata dan pajak industri vape, namun di sisi lain juga menghadapi tantangan kesehatan jangka panjang yang coba dihindari oleh Singapura.
Perbedaan pendekatan antara kedua negara ini mencerminkan dilema global dalam mengatur produk tembakau alternatif. Singapura memilih pendekatan kesehatan preventif yang radikal dengan pelarangan total, sementara Indonesia memilih pendekatan pragmatis melalui regulasi dan perpajakan. Bagi para pelancong, situasi ini menjadi peringatan penting untuk selalu memeriksa hukum setempat sebelum bepergian. Benda yang dianggap legal dan wajar di Jakarta bisa menjadi tiket menuju masalah hukum serius hanya dalam penerbangan kurang dari dua jam menuju Singapura. Kepatuhan terhadap aturan lokal adalah kunci agar perjalanan tidak berubah menjadi mimpi buruk hukum.
Akan tetapi, situasi ini memancing tawa getir. Di satu sisi, kita bangga bisa menjadi negara yang "selow" dan demokratis soal pilihan gaya hidup. Tapi di sisi lain, kok ada perasanya miris ya? Tetangga kita sibuk melindungi paru-paru warganya dengan tangan besi, sementara kita di sini malah sibuk berdebat soal rasa liquid apa yang paling enak bulan ini. Apakah kita yang terlalu santai, atau mereka yang terlalu kaku?
Next News

Mengapa Cuaca Ekstrem Mengamuk dengan Angin Kencang dan Petir yang Menyambar Belakangan Ini
a day ago

Cara Daftar dan Syarat Lengkap Mudik Gratis BUMN 2026
2 days ago

Fenomena Unik Draco Malfoy Mendadak Jadi Ikon Keberuntungan Imlek 2026
2 days ago

4 Cara Mudah Cek Status BPJS Kesehatan Aktif atau Tidak Cukup Pakai NIK
3 days ago

Kirim Namamu Untuk Terbang Mengelilingi Bulan Bersama NASA!
4 days ago

Timurnesia Wajah Baru Musik Indonesia Timur di Kancah Dunia
6 days ago

Detail Harga Tiket dan Jadwal Konser Mitski Jakarta 2026
6 days ago

Langkah Baru Roblox Terapkan Klasifikasi Usia IGRS di Indonesia
7 days ago

Strategi Produser Film Jumbo dan Na Willa Hadapi Serangan Kampanye Hitam
7 days ago

Sinopsis Film Lift Aksi Gila Produser The Raid di Netflix
7 days ago






