Ceritra
Ceritra Cinta

Selalu Sial dalam Percintaan? Mungkin Ini Penyebab Utamanya

Nisrina - Wednesday, 04 March 2026 | 03:10 PM

Background
Selalu Sial dalam Percintaan? Mungkin Ini Penyebab Utamanya
Ilustrasi inner child (newroadstreatment.org/)

Pernah nggak sih kamu merasa kalau urusan asmara kamu itu kayak kaset rusak? Gitu-gitu melulu polanya. Misalnya, baru putus sama pacar yang posesif, eh, nggak lama kemudian malah deket sama orang baru yang ternyata sama-sama tukang ngatur. Atau mungkin kamu selalu merasa tertarik sama sosok yang "dingin" dan susah digapai, padahal di luar sana banyak orang baik yang antre buat dapet perhatian kamu. Ujung-ujungnya, kamu bakal nanya ke diri sendiri sambil nangis di pojokan kamar, "Kok gue sial banget ya kalau soal cinta?"

Nah, sebelum kamu buru-buru menyalahkan zodiak atau merasa kena kutukan turun-temurun, ada baiknya kita tarik napas dalam-dalam. Di dunia psikologi, fenomena "kebetulan" yang berulang ini sering kali punya akar yang dalam. Kita nggak cuma lagi sial, tapi mungkin kita sedang terjebak dalam apa yang disebut sebagai re-enactment pattern yang dipicu oleh luka dari si inner child kita yang belum sembuh.

Mengenal Inner Child: Bocah Kecil yang Masih Ada di Dalam Sana

Sering dengar istilah inner child di media sosial? Jangan dibayangkan sebagai hantu anak kecil yang ngikutin kamu ke mana-mana, ya. Inner child adalah representasi dari sisi psikis kita yang menyimpan memori, emosi, dan pengalaman masa kecil. Masalahnya, nggak semua pengalaman masa kecil itu isinya pelangi dan permen kapas. Ada di antara kita yang tumbuh dengan orang tua yang terlalu menuntut, ada yang diabaikan secara emosional, atau mungkin tumbuh di lingkungan yang penuh konflik.

Ketika kita mengalami trauma atau kebutuhan emosional yang nggak terpenuhi saat kecil, "anak kecil" di dalam diri kita ini bakal merasa terluka. Celakanya, meski tubuh kita sudah tumbuh dewasa, pakai baju kantoran, dan punya cicilan sendiri, si bocah kecil ini sering kali masih memegang kendali atas cara kita bereaksi terhadap emosi dan hubungan. Dia masih haus akan validasi yang dulu nggak didapatkan, atau masih merasa takut ditinggalkan seperti dulu.

Kenapa Kita Mengulang Pola yang Menyakitkan?

Ini adalah bagian yang paling bikin garuk-garuk kepala: kenapa kita malah mencari orang yang sifatnya mirip dengan sumber luka kita dulu? Logikanya kan kita harus lari menjauh, kan? Tapi otak manusia itu aneh. Ada istilah namanya repetition compulsion atau pola re-enactment.

Singkatnya, bawah sadar kita sering kali merasa bahwa "hal yang familier itu lebih aman daripada hal yang baru," meskipun hal familier itu menyakitkan. Kalau kamu dulu terbiasa harus "menyenangkan hati" orang tua yang galak supaya dapet pujian, besar kemungkinan saat dewasa kamu bakal jadi people pleaser yang hobi cari pasangan yang dominan dan sulit dipuaskan. Kenapa? Karena skenario itu sudah kamu hafal luar kepala. Kamu merasa "ah, saya tahu cara mainnya."

Ada juga faktor harapan terselubung. Si inner child kita berharap bahwa dengan menghadapi orang yang tipenya sama dengan "pelaku" luka lama kita, kali ini kita bisa menang. Kita ingin mengubah pasangan yang dingin itu jadi hangat, dengan harapan kalau kita berhasil, maka luka lama kita otomatis sembuh. Tapi kenyataannya? Ya seringnya malah makin berdarah-darah.

Variasi Pola: Si Penyelamat atau Si Penjaga Jarak

Pola hubungan ini bentuknya macam-macam, lho. Ada yang jadi "The Fixer" atau si tukang servis pasangan. Orang ini biasanya tumbuh di keluarga yang kacau dan merasa harus membenahi semuanya. Jadi pas gede, dia bakal cari pacar yang hidupnya berantakan banget biar bisa dia "selamatkan". Rasanya kayak ada kepuasan tersendiri kalau bisa mengubah seseorang, padahal ya capek banget, kan?

Ada juga yang jadinya avoidant atau malah anxious. Yang anxious bakal nempel terus kayak perangko karena takut ditinggalin (mungkin dulu sering ditinggal orang tua tanpa penjelasan), sementara yang avoidant bakal lari kalau hubungan sudah mulai serius karena merasa kedekatan itu ancaman (mungkin dulu kedekatan emosional di rumah rasanya menyesakkan atau penuh tuntutan).

Lucunya—atau ironisnya—kedua tipe ini sering banget ketemu dan jadian. Yang satu ngejar, yang satu lari. Begitu terus sampai capek sendiri. Pola ini bukan kebetulan, tapi mekanisme pertahanan diri yang sudah karatan di dalam sana.

Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Penting untuk diingat kalau pola ini bukan salah kamu. Kamu nggak "bodoh" karena memilih orang yang salah berulang kali. Ini adalah cara otak kamu mencoba memproses trauma yang belum selesai. Tapi, meskipun itu bukan salahmu, kesembuhanmu adalah tanggung jawabmu sendiri. Kita nggak bisa selamanya menyalahkan masa lalu atau orang tua atas kegagalan hubungan kita di usia 20-an atau 30-an.

Langkah pertama untuk memutus rantai ini adalah kesadaran atau awareness. Mulailah sadar kapan kamu mulai merasa "tertarik" sama seseorang. Apakah karena dia benar-benar cocok, atau karena dia memberikan rasa "familiar pain" yang kamu kenal? Kalau kamu merasa hubunganmu selalu berakhir dengan drama yang sama, mungkin sudah saatnya kamu duduk diam dan ngobrol sama si inner child itu.

Menyembuhkan Sang Anak Dalam Diri

Proses penyembuhan ini nggak bisa instan kayak bikin mi instan. Butuh waktu dan sering kali butuh bantuan profesional seperti psikolog. Kita perlu belajar untuk "re-parenting" diri sendiri—menjadi orang tua yang kita butuhkan dulu bagi diri kita sekarang. Memberikan validasi pada diri sendiri tanpa perlu mencarinya dari pacar yang toxic.

Mulai sekarang, coba deh lebih peka. Kalau ketemu orang yang "terlalu intens" di awal atau malah bikin kamu ngerasa harus berjuang ekstra keras buat dapet perhatiannya, coba tanya: "Ini beneran cinta, atau gue cuma lagi berusaha memenangkan pertandingan lama yang udah usai?"

Memutus pola hubungan yang berulang itu emang berat. Rasanya kayak harus belajar jalan lagi di jalur yang nggak biasa kita lewati. Tapi percayalah, kedamaian yang kamu dapet setelah lepas dari pola itu jauh lebih manis daripada kemenangan semu dari mencoba mengubah seseorang yang nggak mau berubah. Kamu layak mendapatkan hubungan yang tenang, bukan hubungan yang cuma jadi ajang reka ulang luka lama.

Logo Radio
🔴 Radio Live