Ceritra
Ceritra Uang

Rupiah Rebound di Perdagangan Jumat 23 Januari 2026, Optimisme Davos dan Pelemahan Dolar Jadi Kunci

Refa - Friday, 23 January 2026 | 10:30 AM

Background
Rupiah Rebound di Perdagangan Jumat 23 Januari 2026, Optimisme Davos dan Pelemahan Dolar Jadi Kunci
Rupiah (pexels.com/Ahsanjaya)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Jumat (23/1/2026) dibuka di level Rp16.847 per USD, mengalami penguatan sebesar 49 poin atau 0,29% dari posisi penutupan sebelumnya.

Penguatan nilai tukar rupiah pada akhir pekan ini terjadi akibat perpaduan sentimen eksternal dan faktor domestik yang mulai membuka ruang bagi mata uang negara berkembang untuk kembali menguat. Sejumlah katalis berikut menjadi pendorong utamanya.

Meredanya tekanan global muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan melunak dalam isu ancaman tarif perdagangan terhadap Uni Eropa. Perkembangan ini menenangkan pasar keuangan global yang sebelumnya dibayangi ketidakpastian berkepanjangan.

Dari sisi domestik, kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) ke-56 di Davos, Swiss, turut menyuntikkan optimisme investor terhadap prospek dan stabilitas perekonomian Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Selain itu, pergerakan indeks dolar AS (Dollar Index/DXY) yang mulai mengalami koreksi teknikal setelah sempat menguat pada awal Januari yang ditopang data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid, memberikan momentum bagi rupiah untuk bangkit dan mencatatkan penguatan.

Selain terhadap dolar AS, rupiah juga bergerak beragam di hadapan mata uang global lainnya.

Kurs Rupiah Terhadap Mata Uang Utama:

  • EUR (Euro): Rp19.659
  • JPY (Yen): Rp10.591 per 100 yen
  • GBP (Poundsterling): Rp22.584
  • AUD (Dolar Australia): Rp11.440
  • SGD (Dolar Singapura): Rp13.097
  • CNY (Yuan): Rp2.415

*Data berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia

Dengan dinamika pasar global yang masih bergerak cepat, pelaku usaha dan masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan kurs harian, terutama memerhatikan rilis data ekonomi domestik serta perkembangan kebijakan suku bunga The Fed yang diperkirakan masih akan tetap tinggi hingga kuartal kedua tahun ini.

Logo Radio
🔴 Radio Live