Ramadan Harusnya Hemat, Tapi Kenapa Malah Boros?
Refa - Sunday, 01 February 2026 | 01:00 PM


Sebuah ironi klasik terjadi setiap bulan Ramadan. Secara logika, karena kita menahan lapar dan haus seharian (mengurangi jatah makan siang), pengeluaran seharusnya menurun. Namun kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Pengeluaran bulanan sering kali membengkak drastis dibandingkan bulan biasa.
Fenomena ini bukan hal mistis. Ini adalah reaksi biologis dan psikologis. Saat perut kosong dan kadar gula darah turun drastis di sore hari, otak manusia merespons dengan memproduksi hormon Ghrelin secara berlebihan. Hormon inilah yang meningkatkan nafsu makan dan memicu fenomena "Lapar Mata".
Akibatnya, otak kehilangan rasionalitas. Segala jenis makanan, mulai dari gorengan berminyak hingga es warna-warni, terlihat sangat menggoda. Anda merasa sanggup menghabiskan semuanya, padahal kapasitas lambung Anda terbatas.
Agar Ramadan tahun ini tidak diakhiri dengan penyesalan finansial, berikut adalah 3 strategi praktis untuk mengerem nafsu belanja dan mengamankan uang Anda.
1. Terapkan Aturan "Uang Tunai Pas" (Matikan QRIS Sementara)
Kesalahan fatal saat pergi ngabuburit ke pasar takjil atau bazar Ramadan adalah membawa dompet tebal atau membawa HP dengan akses Mobile Banking/QRIS tanpa batas. Kemudahan transaksi digital ("tinggal scan") sering membuat "rasa sakit" saat mengeluarkan uang menjadi hilang, sehingga orang lupa diri.
Strateginya: Kembali ke cara "kuno". Sebelum berangkat mencari takjil, tinggalkan dompet utama dan kartu debit di rumah. Bawa uang tunai (cash) dengan nominal "pas" sesuai anggaran harian yang sudah Anda tetapkan saat logika Anda sedang waras.
- Contoh: Tetapkan batas maksimal jajan Rp30.000 per hari. Masukkan uang selembar 20 ribu dan 10 ribu ke saku.
- Aturan Main: Jika uang di tangan habis, maka aktivitas belanja selesai. Tidak ada tawar-menawar. Cara ini memaksa otak untuk memprioritaskan makanan yang benar-benar diinginkan saja, bukan yang sekadar "ingin coba".
2. Hindari Belanja di "Jam Rawan" atau Buat Daftar
Kapan waktu terburuk untuk mengambil keputusan finansial terkait makanan? Jawabannya adalah pukul 17.00 - 17.30 WIB. Di jam ini, rasa lapar mencapai puncaknya. Jika Anda masuk ke pasar takjil tanpa persiapan di jam ini, Anda hampir pasti akan membeli makanan berlebih yang berakhir di tempat sampah.
Strateginya:
- Geser Waktu Belanja: Cobalah membeli bahan makanan atau takjil sedikit lebih awal (siang atau sore hari pukul 15.00) saat logika masih berjalan baik.
- Buat Daftar Spesifik: Jika harus keluar sore, buat catatan dari rumah. "Beli Es Buah 2 bungkus dan Tempe Mendoan 5 biji". Patuhi daftar itu seperti SOP perusahaan.
- Ingat Kapasitas Lambung: Tanamkan pola pikir bahwa lambung yang kosong seharian akan kaget jika diisi terlalu banyak. Membeli 5 jenis kue, 2 jenis es, dan makanan berat hanya akan berujung pada perilaku Mubazir (membuang-buang harta untuk hal sia-sia) yang sangat dibenci dalam agama.
3. THR Bukan untuk "Pesta" Buka Puasa (Bukber)
Euforia Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali menjadi jebakan. Banyak orang merasa "kaya mendadak" lalu menggunakan dana THR untuk menutupi biaya Buka Puasa Bersama (Bukber) di restoran mewah yang harganya tidak masuk akal.
Ingat, THR didesain untuk kebutuhan Hari Raya, bukan kebutuhan operasional puasa.
Strategi Alokasi THR: Segera setelah THR cair, lakukan Pemisahan Rekening (Split):
- Amankan 50-70% Dulu: Pindahkan dana ini ke rekening tabungan yang tidak terhubung dengan akses belanja harian. Dana ini wajib dialokasikan untuk Zakat Fitrah/Mal, sedekah, amplop lebaran sanak saudara, dan biaya mudik.
- Gunakan Gaji Bulanan untuk Makan: Biaya sahur dan buka puasa (termasuk bukber wajar) harus diambil dari pos gaji bulanan biasa, sama seperti biaya makan siang/malam di bulan lain.
- Jangan "Top-Up" Gaya Hidup: Jangan biarkan THR habis hanya untuk konsumsi yang lewat di tenggorokan. Biarkan THR berfungsi sesuai namanya: Tunjangan Hari Raya, bukan Tunjangan Buka Puasa.
Kesimpulan
Inti dari puasa adalah Imhaak (menahan diri). Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan nafsu konsumtif.
Jangan sampai pahala puasa kita tergerus oleh sifat boros dan mubazir. Dengan menerapkan strategi uang tunai pas dan bijak mengelola THR, Anda bisa menutup bulan Ramadan dengan kemenangan spiritual sekaligus kemenangan finansial (tabungan aman).
Next News

Waspada Bocor Halus! 5 Kebiasaan Kantor yang Diam-Diam Menguras Gaji
in 2 hours

Mau KPR Aman? Simak Tips Memilih Skema Bunga yang Paling Menguntungkan
17 hours ago

Update Lengkap Tarif Listrik PLN Februari 2026
a day ago

Beli Rumah Bukan Mimpi! Ini 5 Langkah Amankan Rumah Pertama dengan Gaji Standar
18 hours ago

Masihkah Emas Jadi Safe Haven Terbaik?
2 days ago

Deteksi Dini! 6 Red Flags Manipulasi Laporan Keuangan yang Wajib Diketahui Investor
2 days ago

Gajian dari Saham? Ini Cara Kerja Dividen
2 days ago

Jangan Terjebak Saham 'Gorengan'! Inilah Cara Cek Rapor Asli Emiten Lewat Laporan Keuangan
2 days ago

Jangan Tertipu! 6 Cara Mudah Cek Keaslian Emas Sendiri di Rumah Tanpa Alat Mahal
2 days ago

Jangan Salah Pilih! Bedah Plus-Minus Emas Fisik vs Digital Agar Investasimu Gak Boncos
2 days ago





