Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Tubuh Berkeringat dan Kondisi Langka Manusia Tanpa Keringat

Nisrina - Wednesday, 18 March 2026 | 04:15 PM

Background
Rahasia Tubuh Berkeringat dan Kondisi Langka Manusia Tanpa Keringat
Ilustrasi seorang perempuan yang berkeringat (Freepik/Freepik)

Saat matahari sedang terik teriknya atau setelah lari keliling lapangan, baju yang basah kuyup sudah menjadi pemandangan yang sangat lumrah. Keringat menetes deras dari dahi, mengalir di punggung, dan membuat seluruh tubuh terasa lengket. Bagi banyak orang, momen ini sering kali dianggap mengganggu karena bisa merusak penampilan dan memicu bau badan yang kurang sedap. Namun di balik rasa tidak nyaman tersebut, butiran air asin yang keluar dari pori pori kulit ini sebenarnya sedang melakukan tugas penyelamatan nyawa yang sangat krusial.

Tubuh manusia adalah mahakarya biologis yang sangat kompleks. Setiap sistem di dalamnya bekerja tanpa henti untuk menjaga keseimbangan. Berkeringat adalah salah satu mekanisme paling cerdas yang dimiliki tubuh untuk bertahan hidup di berbagai kondisi ekstrem. Namun hal yang sering menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebenarnya proses cairan ini bisa keluar dari kulit kita? Lalu, apakah mungkin ada manusia di dunia ini yang tidak bisa berkeringat sama sekali? Mari kita bedah tuntas fakta medis di balik pendingin alami tubuh ini.

Hipotalamus Sang Termostat Alami Penjaga Suhu

Proses berkeringat tidak dimulai dari kulit, melainkan dari pusat komando di dalam otak yang bernama hipotalamus. Bagian otak yang ukurannya sangat kecil ini bertindak layaknya termostat atau pengatur suhu pintar di dalam ruangan. Suhu normal tubuh manusia berkisar di angka tiga puluh tujuh derajat celsius. Ketika suhu tubuh mulai merangkak naik akibat paparan sinar matahari terik, olahraga berat, atau demam, hipotalamus akan langsung membunyikan alarm tanda bahaya.

Seketika itu juga, hipotalamus mengirimkan sinyal melalui sistem saraf otonom menuju jutaan kelenjar keringat yang tersebar di seluruh permukaan kulit. Sinyal ini adalah perintah tegas bagi kelenjar kelenjar tersebut untuk segera memproduksi dan melepaskan cairan ke permukaan kulit. Ketika cairan keringat ini menguap ke udara, proses penguapan tersebut akan menyerap energi panas dari permukaan kulit. Inilah yang membuat suhu tubuh kita berangsur angsur turun dan kembali normal. Bayangkan tubuh kita seperti mesin mobil bertenaga tinggi, dan keringat adalah air radiator yang mencegah mesin tersebut terbakar atau mengalami overheating.

Dua Pabrik Keringat Utama Ekrin dan Apokrin

Banyak yang belum tahu bahwa keringat yang keluar dari dahi saat kepanasan berbeda jenisnya dengan keringat yang keluar dari ketiak saat kita sedang gugup. Tubuh manusia dibekali dengan dua jenis kelenjar keringat yang memiliki fungsi dan lokasi berbeda.

Pertama adalah kelenjar ekrin. Kelenjar ini jumlahnya sangat masif dan tersebar di hampir seluruh permukaan tubuh manusia, terutama di telapak tangan, telapak kaki, dan dahi. Keringat yang diproduksi oleh kelenjar ekrin sebagian besar terdiri dari air dan sedikit garam mineral. Fungsinya murni untuk mendinginkan suhu tubuh. Cairan ini pada dasarnya tidak memiliki bau sama sekali.

Kedua adalah kelenjar apokrin. Kelenjar ini hanya berkumpul di area tubuh yang memiliki banyak folikel rambut, seperti ketiak dan area pangkal paha. Kelenjar apokrin biasanya baru aktif saat seseorang memasuki masa pubertas. Berbeda dengan ekrin, keringat dari apokrin memiliki tekstur yang lebih kental karena mengandung protein dan lemak. Saat keringat jenis ini bercampur dengan bakteri alami yang hidup di permukaan kulit, bakteri tersebut akan memecah protein dan lemak menghasilkan aroma yang tajam. Inilah biang keladi dari masalah bau badan yang sering membuat orang merasa tidak percaya diri.

Pemicu Keringat Selain Cuaca Panas dan Olahraga

Suhu panas bukanlah satu satunya hal yang bisa membuat tubuh memproduksi keringat. Hipotalamus juga sangat sensitif terhadap berbagai rangsangan lain dari luar maupun dalam tubuh. Emosi yang kuat seperti rasa takut, cemas, atau stres parah bisa memicu respons fight or flight atau insting bertarung dan lari. Respons ini melepaskan hormon adrenalin yang merangsang kelenjar keringat untuk bekerja ekstra cepat, menghasilkan fenomena yang sering kita sebut sebagai keringat dingin.

Selain emosi, makanan yang kita konsumsi juga memegang peranan penting. Makanan pedas yang mengandung senyawa capsaicin bisa menipu reseptor saraf di lidah dan mulut. Saraf saraf ini akan mengirimkan pesan palsu ke otak bahwa tubuh sedang terbakar. Akibatnya otak langsung memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan keringat demi mendinginkan "kebakaran" fiktif tersebut. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal dengan istilah gustatory sweating.

Anhidrosis Bahaya Medis Saat Tubuh Berhenti Berkeringat

Setelah memahami betapa pentingnya peran keringat, kini kita sampai pada pertanyaan yang sangat menarik. Adakah orang yang tidak bisa berkeringat? Jawabannya adalah ada. Kondisi medis di mana tubuh seseorang tidak mampu memproduksi keringat dalam jumlah yang cukup atau bahkan sama sekali tidak bisa berkeringat disebut dengan anhidrosis atau hipohidrosis.

Anhidrosis bukanlah kondisi sepele yang bisa diabaikan. Jika keringat adalah air radiator, maka penderita anhidrosis hidup layaknya mesin tanpa sistem pendingin. Saat mereka berada di lingkungan yang panas atau melakukan aktivitas fisik, panas akan terus terperangkap di dalam tubuh. Suhu inti tubuh akan melonjak tajam dalam waktu singkat. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berujung pada kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heatstroke) yang mematikan karena dapat merusak otak dan organ vital lainnya secara permanen.

Faktor Pemicu Gangguan Anhidrosis

Kondisi tidak bisa berkeringat ini bisa bersifat bawaan sejak lahir atau berkembang perlahan di usia dewasa. Ada beberapa faktor utama yang bisa merusak sistem pendingin alami tubuh manusia.

Pertama adalah kerusakan kulit luar. Trauma fisik yang parah pada kulit seperti luka bakar derajat tinggi, efek samping terapi radiasi, atau penyakit radang kulit parah bisa menyumbat dan merusak saluran kelenjar keringat secara permanen.

Kedua adalah gangguan pada sistem saraf. Kelenjar keringat sangat bergantung pada sinyal dari saraf. Penyakit yang merusak jaringan saraf tepi seperti neuropati diabetik pada penderita diabetes, penyakit Parkinson, hingga sindrom Guillain-Barre dapat mengganggu jalur komunikasi antara otak dan kelenjar keringat. Pesan untuk berkeringat tidak akan pernah sampai ke tujuan.

Ketiga adalah kelainan genetik yang sangat langka yang dinamakan displasia ektodermal hipohidrotik. Orang yang terlahir dengan kelainan kromosom ini memiliki kelenjar keringat yang jumlahnya sangat sedikit, atau kelenjarnya sama sekali tidak berkembang sejak mereka masih berada di dalam kandungan.

Selain itu, konsumsi obat obatan tertentu juga bisa menjadi pemicu anhidrosis sementara. Beberapa jenis obat penenang, obat penurun tekanan darah, serta obat antikolinergik memiliki efek samping yang menghambat kerja reseptor saraf kelenjar keringat.

Mengenali Gejala dan Langkah Pertolongan

Mendeteksi anhidrosis kadang cukup sulit jika gangguan ini hanya terjadi pada sebagian kecil area tubuh. Tubuh biasanya akan mengompensasinya dengan mengeluarkan keringat lebih banyak di area kulit lain yang masih normal. Namun jika anhidrosis menyerang seluruh tubuh, gejalanya akan sangat terasa.

Penderita biasanya akan merasa sangat kepanasan namun kulit mereka tetap kering bersisik saat disentuh. Wajah mereka akan memerah, kepala terasa sangat pusing, napas menjadi dangkal, detak jantung berdebar cepat, hingga mengalami kram otot yang menyakitkan.

Bagi individu yang memiliki kondisi ini, pencegahan adalah kunci utama untuk bertahan hidup. Mereka harus sangat membatasi aktivitas fisik yang berat di siang hari bolong. Berada di ruangan berpendingin udara adalah suatu keharusan. Jika harus keluar rumah, membawa botol semprotan air untuk disemprotkan secara manual ke kulit dapat meniru efek penguapan keringat alami.

Keringat mungkin sering kali membuat baju kita basah dan menciptakan rasa tidak nyaman. Namun setelah mengetahui fakta medis di baliknya, kita sepatutnya jauh lebih bersyukur setiap kali tubuh kita mulai mengeluarkan cairan asin ini. Keringat adalah bukti nyata bahwa tubuh kita masih sehat, responsif, dan siap melindungi kita dari bahaya sengatan suhu ekstrem.

Logo Radio
🔴 Radio Live