Ceritra
Ceritra Warga

Ragam Nama Warna Indah Bahasa Indonesia yang Jarang Diketahui

Nisrina - Monday, 02 February 2026 | 03:15 PM

Background
Ragam Nama Warna Indah Bahasa Indonesia yang Jarang Diketahui
Ilustrasi (Freepik/Freepik)

Dalam percakapan sehari hari kita sering kali lebih fasih menyebut nama warna menggunakan istilah serapan dari bahasa asing. Kita lebih nyaman mengatakan "navy" daripada biru dongker atau lebih sering menyebut "maroon" ketimbang merah hati. Fenomena ini membuat kosakata asli Bahasa Indonesia perlahan lahan tergeser dan menjadi asing di telinga penuturnya sendiri.

Padahal jika kita menelusuri kembali kamus besar dan sastra lama Bahasa Indonesia menyimpan perbendaharaan kata yang sangat kaya untuk mendeskripsikan warna. Nama nama warna ini tidak muncul begitu saja. Mereka lahir dari pengamatan leluhur kita terhadap alam sekitar. Istilah tersebut diambil dari nama tumbuhan batu mulia kondisi langit hingga getah pepohonan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Nusantara.

Menggunakan istilah asli ini tidak hanya melestarikan bahasa tetapi juga memberikan nuansa puitis dan elegan yang berbeda. Artikel ini akan mengajak Anda berkenalan kembali dengan 11 nama warna dalam Bahasa Indonesia yang jarang dipakai namun memiliki makna visual yang sangat indah. Mari kita telusuri satu per satu.

Kelasi Sebagai Pengganti Navy Blue

Warna biru gelap yang memberikan kesan tegas dan profesional sering kita sebut sebagai warna navy. Namun tahukah Anda bahwa Bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang sangat akurat untuk warna ini yaitu Kelasi.

Secara harfiah kelasi berarti awak kapal atau pelaut rendahan. Istilah warna kelasi merujuk pada warna seragam para pelaut yang berwarna biru sangat tua menyerupai kedalaman samudra. Menggunakan kata "biru kelasi" memberikan nuansa bahari yang kuat dan sangat Indonesia. Jadi saat Anda melihat jas atau celana berwarna biru gelap cobalah menyebutnya sebagai warna kelasi.

Tarum untuk Biru Elektrik yang Menyala

Salah satu warna yang populer di dunia desain grafis dan fesyen adalah cobalt blue atau biru elektrik. Warna ini cerah menyala dan menarik perhatian. Nenek moyang kita mengenal warna ini dengan sebutan Tarum.

Tarum sebenarnya adalah nama tanaman (Indigofera) yang daunnya digunakan sebagai pewarna alami untuk kain tradisional seperti batik dan tenun. Hasil rendaman daun tarum menghasilkan warna biru nila yang pekat dan khas. Mengembalikan penggunaan kata tarum sama dengan menghargai sejarah panjang wastra atau kain tradisional Nusantara yang pewarnaannya sangat bergantung pada alam.

Pirus Padanan Indah untuk Toska

Warna perpaduan antara biru dan hijau yang segar sering kita sebut sebagai turquoise atau toska. Padahal kita memiliki kata yang jauh lebih ringkas dan indah yaitu Pirus.

Kata pirus diambil dari nama batu permata pirus yang memang memiliki warna biru kehijauan yang memikat. Batu ini telah lama menjadi perhiasan yang berharga dalam budaya kita. Menyebut gaun berwarna pirus tentu terdengar lebih mewah dan klasik dibandingkan menyebutnya toska. Ini adalah contoh sempurna bagaimana kekayaan alam diadopsi menjadi istilah bahasa.

Wilis Simbol Hijau yang Alami

Jika Anda melihat warna hijau tua yang segar seperti daun daun di hutan pegunungan itulah yang disebut dengan warna Wilis. Dalam istilah asing warna ini sering disamakan dengan myrtle green.

Wilis bukan hanya nama gunung di Jawa Timur tetapi juga representasi dari warna hijau yang kehitam hitaman atau hijau tua yang asri. Warna ini melambangkan kesuburan dan ketenangan alam. Penggunaan kata wilis sangat cocok untuk menggambarkan keindahan bentang alam Indonesia yang zamrud khatulistiwa.

Kecubung Nuansa Ungu yang Mistis

Ungu muda atau yang kini tren dengan sebutan lilac sebenarnya memiliki padanan yang sangat cantik dalam bahasa kita yaitu Kecubung. Nama ini diambil dari batu kecubung atau amethyst yang merupakan batu mulia berwarna ungu berkilau.

Warna kecubung merepresentasikan kemewahan misteri dan keanggunan. Jika lilac hanya merujuk pada nama bunga di Eropa kecubung merujuk pada kekayaan mineral tanah air kita sendiri. Istilah ini sangat layak untuk dipopulerkan kembali dalam dunia mode tanah air.

Cokelat Sampang yang Lebih Elegan dari Maroon

Warna merah tua yang agak kecokelatan sering kali kita sebut maroon atau rosewood. Dalam khazanah Bahasa Indonesia warna ini dikenal dengan nama Cokelat Sampang.

Sampang adalah jenis pohon yang kayunya sering dimanfaatkan. Warna cokelat sampang menggambarkan warna kayu yang matang kemerahan dan hangat. Warna ini memberikan kesan wibawa dan kedewasaan. Menggunakan istilah cokelat sampang akan membuat deskripsi visual kita terasa lebih sastrawi dan berakar pada budaya lokal.

Beram Si Merah Tua yang Berani

Selain cokelat sampang ada juga istilah Beram untuk menyebut warna merah yang sangat tua atau cardinal red. Beram sendiri aslinya adalah air peram dari beras ketan merah (tapai) yang telah difermentasi.

Warna air beram ini merah pekat dan menggoda. Ini adalah warna yang penuh gairah dan keberanian. Sangat menarik bagaimana leluhur kita mengambil nama warna dari hasil olahan pangan yang mereka konsumsi sehari hari.

Getah Manggis dan Kayu Manis

Warna kuning kecokelatan atau kuning tua yang sering disebut gamboge memiliki padanan unik yaitu Getah Manggis. Meskipun kulit manggis berwarna ungu gelap getah yang dihasilkannya justru berwarna kuning pekat yang khas. Ini menunjukkan ketelitian orang zaman dahulu dalam mengamati detail alam.

Sementara itu untuk warna cokelat kemerahan yang hangat (cinnamon) kita bisa menggunakan istilah Kayu Manis. Ini mungkin istilah yang paling familiar di telinga kita namun jarang kita sadari sebagai nama warna resmi. Kita sering menyebutnya "cokelat kayu" saja padahal "kayu manis" adalah deskripsi warna yang spesifik dan aromatik.

Sebam dan Biru Ceraka

Dua warna terakhir yang jarang terdengar adalah Sebam dan Biru Ceraka. Sebam adalah padanan untuk bluish gray atau abu abu kebiruan. Warna sebam menggambarkan sesuatu yang suram agak gelap namun tetap memiliki karakter. Sering kali digunakan untuk menggambarkan warna langit saat mendung atau benda yang mulai memudar warnanya.

Sedangkan Biru Ceraka adalah padanan untuk flax blue. Ceraka adalah nama tanaman perdu yang memiliki bunga kecil. Warna birunya lembut dan menenangkan. Ini bisa menjadi alternatif yang manis untuk menggantikan istilah "biru muda" atau "biru pucat" yang terlalu umum.

Mengapa Kita Harus Kembali Menggunakannya

Bahasa menunjukkan bangsa. Ketika kita mulai menggunakan kembali istilah istilah seperti tarum kelasi wilis dan pirus kita sedang melakukan upaya konservasi budaya. Selain itu istilah istilah ini memiliki bunyi fonetik yang indah dan kaya makna.

Para penulis desainer dan kreator konten memiliki peran besar untuk mempopulerkan kembali kata kata ini. Bayangkan betapa indahnya deskripsi produk yang menggunakan kata "kain sutra berwarna kecubung" dibandingkan "kain sutra warna lilac". Ada rasa lokalitas yang bangkit di sana.

Mulai sekarang mari kita perkaya kosa kata kita. Alam Indonesia sudah menyediakan palet warna yang luar biasa indah dan bahasa kita sudah merekamnya dengan sempurna. Tugas kitalah untuk mengucapkannya kembali agar tidak hilang ditelan zaman.

Logo Radio
🔴 Radio Live