PERSEBAYA Putus Kerjasama dengan Coach Edu
Nuryadi - Sunday, 23 November 2025 | 03:40 PM


Ketika Kursi Panas Persebaya Memakan Korbannya: Kisah Pahit Sang Pelatih
Di dunia sepak bola, ada beberapa kursi yang panasnya melebihi bara api neraka. Salah satunya, tentu saja, adalah kursi pelatih klub-klub besar di Indonesia. Dan kalau ngomongin kursi panas level ekstrim, niscaya nama Persebaya Surabaya akan langsung melambung ke puncak daftar. Ya, klub legendaris dengan sejarah panjang dan basis suporter yang militan ini memang punya cerita uniknya sendiri soal pergantian nahkoda. Terbaru, drama pemecatan pelatih kembali menghiasi jagat sepak bola nasional, bikin sebagian pendukung lega, sebagian lagi cuma bisa geleng-geleng kepala.
Persebaya: Kisah Cinta dan Derita di Lapangan Hijau
Siapa sih yang gak kenal Persebaya? Tim berjuluk Bajul Ijo ini bukan cuma sekadar klub sepak bola; dia adalah ruh, darah daging, dan kebanggaan bagi Arek-arek Suroboyo. Dari Sabang sampai Merauke, militansi Bonek, sebutan untuk suporter Persebaya, sudah jadi legenda. Mereka bisa jadi pendukung paling setia di kala menang, tapi juga kritikus paling pedas di kala tim kesayangan mereka terpuruk. Ekspektasi dari Bonek, dan tentu saja dari manajemen, selalu setinggi langit: Persebaya harus juara, atau setidaknya bersaing di papan atas. Enggak ada kata "proses" yang terlalu panjang di kamus mereka.
Kondisi ini menciptakan tekanan yang luar biasa besar bagi siapa pun yang duduk di kursi kepelatihan. Ibaratnya, jadi pelatih Persebaya itu seperti sedang menunggang banteng rodeo. Harus kuat, punya strategi jitu, dan siap kalau sewaktu-waktu dibanting. Sedikit saja oleng, sedikit saja hasil minor beruntun, siap-siap saja digoyang habis-habisan. Bukan cuma dari media, tapi langsung dari ribuan suara yang bergemuruh di stadion, atau bahkan di media sosial yang sekarang jadi corong utama kemarahan publik. Jadi, jangan heran kalau durasi seorang pelatih bertahan di Persebaya seringkali lebih pendek dari masa pacaran anak ABG zaman sekarang.
Detik-detik Kejatuhan: Ketika Strategi Tak Lagi Mempan
Kisah pemecatan ini biasanya punya pola yang mirip. Awal musim, semua serba optimis. Pelatih datang dengan janji-janji manis, strategi baru, dan rekrutan pemain idaman. Beberapa pertandingan awal mungkin berjalan mulus, atau setidaknya menjanjikan. Tapi, namanya kompetisi, ada kalanya roda berputar ke bawah. Satu kekalahan, disusul hasil imbang, lalu kekalahan lagi. Nah, dari sinilah alarm mulai berbunyi. Kritikan mulai muncul, awalnya bisik-bisik, lalu perlahan mengeras jadi teriakan.
Di media sosial, tagar #GantiPelatih mulai sering wara-wiri. Banner-banner protes di Gate 21 Stadion Gelora Bung Tomo mulai bermunculan. Atmosfer di ruang ganti juga pasti tidak lagi nyaman. Pemain mungkin mulai kehilangan kepercayaan, atau setidaknya bertanya-tanya. Pelatih sendiri, meski sudah pasang badan dan mencoba berbagai taktik, seolah-olah semua usahanya sia-sia. Bola tak mau masuk, wasit tidak berpihak, Dewi Fortuna enggan menyapa. Dari luar, kita melihatnya sebagai ketidakmampuan pelatih. Tapi dari dalam, bisa jadi itu adalah puncak dari berbagai masalah, mulai dari komunikasi, motivasi, hingga bahkan keberuntungan. Pahit getirnya hidup memang begitu.
Keputusan Pahit: Angkat Koper di Tengah Jalan
Setelah rentetan hasil yang tidak memuaskan dan tekanan yang kian memuncak, manajemen pun akhirnya tak punya pilihan lain. Rapat internal digelar, diskusi alot terjadi, dan pada akhirnya, keputusan pahit itu pun diambil: pelatih harus angkat koper. Biasanya, pengumuman ini disampaikan secara resmi, dengan bahasa yang diplomatis dan penuh hormat. "Kedua belah pihak telah sepakat untuk mengakhiri kerja sama..." begitu kira-kira redaksinya. Tapi, di balik kalimat manis itu, tersimpan kekecewaan, rasa frustrasi, dan tentu saja, impian yang kandas di tengah jalan.
Bagi sang pelatih, ini pasti pukulan yang berat. Semua rencana, semua pengorbanan, semua kerja keras, seolah menguap begitu saja. Tak jarang, pelatih yang dipecat itu bahkan harus merelakan diri jauh dari keluarga demi Persebaya. Tapi, apa daya? Dunia profesional memang kejam. Hasil adalah segalanya. Dan ketika hasil tak kunjung datang, bahkan di tim sebesar Persebaya, tak ada ampun. Ini bukan sekadar tentang kalah dan menang, tapi juga tentang menjaga marwah dan stabilitas tim di mata suporter dan publik.
Dampak dan Refleksi: Bukan Sekadar Ganti Nakhoda
Lalu, apakah dengan bergantinya pelatih masalah selesai? Belum tentu. Seringkali, pemecatan pelatih hanyalah solusi instan untuk meredakan gejolak. Efek "new coach syndrome" atau sentuhan pelatih baru mungkin akan memberikan angin segar sesaat, tapi akar masalah bisa jadi masih terpendam. Apakah masalahnya ada di strategi? Atau di kualitas pemain? Atau bahkan di manajemen yang kurang optimal? Pertanyaan-pertanyaan ini seringkali terabaikan di tengah hiruk pikuk pergantian pelatih.
Pemecatan ini juga menyisakan PR besar bagi Persebaya. Siapa yang akan jadi pengganti? Apakah sosok baru ini bisa langsung beradaptasi dengan karakter tim dan tekanan Bonek? Dan yang paling penting, apakah manajemen sudah belajar dari pengalaman sebelumnya agar lingkaran setan pergantian pelatih ini tidak terus berulang? Ini bukan cuma soal menemukan pelatih yang tepat, tapi juga tentang membangun sistem yang kokoh dan berkelanjutan. Apalagi Persebaya punya sejarah besar, yang mana setiap pelatih yang duduk di sana harus tahu beban dan tanggung jawab yang mereka emban.
Melongok ke Depan: Harapan dan Tantangan Baru
Bagaimanapun, roda kompetisi harus terus berputar. Setelah drama pemecatan, Persebaya harus segera bangkit. Harapan besar kini digantungkan pada pelatih selanjutnya, siapa pun dia. Kita berharap pelatih baru nanti punya tangan dingin, strategi jitu, dan mental sekuat baja untuk menghadapi gelombang di Surabaya. Tentunya, dukungan penuh dari Bonek dan manajemen juga jadi kunci. Tanpa itu, kursi pelatih Persebaya akan selalu jadi tempat paling rawan untuk diduduki.
Semoga saja, episode pahit ini bisa jadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Bahwa sepak bola bukan cuma soal hasil akhir, tapi juga soal proses, kesabaran, dan sinergi. Persebaya adalah kebanggaan, dan kebanggaan itu layak mendapatkan yang terbaik, dengan atau tanpa drama pergantian pelatih yang bikin hati dag dig dug ser!
