Persebaya: Pasang Surut Kebanggaan Warga Surabaya
Nuryadi - Monday, 24 November 2025 | 07:40 PM


Siapa Pelatih Persebaya Dengan Prestasi Tertinggi? Sebuah Perjalanan Penuh Romantisme dan HarapanSiapa Pelatih Persebaya Dengan Prestasi Tertinggi? Sebuah Perjalanan Penuh Romantisme dan Harapan
Ketika bicara Persebaya Surabaya, ingatan kita langsung melayang ke tribun yang membiru penuh lautan Bonek, gemuruh chants yang bikin merinding, dan semangat juang yang seolah tak ada matinya. Bajul Ijo bukan sekadar klub sepak bola; ia adalah identitas, kebanggaan, dan bahkan gaya hidup bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Sejarah panjang Persebaya di kancah sepak bola Indonesia diwarnai banyak pasang surut, drama, dan tentu saja, sederet pelatih yang mencoba mengukir sejarah mereka sendiri.
Tapi, dari sekian banyak nama yang pernah menduduki kursi panas pelatih kepala di Persebaya, siapa sih yang pantas menyandang gelar sebagai "pelatih dengan prestasi tertinggi"? Jujur saja, ini bukan pertanyaan yang gampang dijawab. Layaknya perdebatan abadi siapa yang lebih hebat antara Messi atau Ronaldo, memilih satu nama saja rasanya kurang afdol. Pasalnya, setiap era punya tantangannya sendiri, dinamika kompetisi yang berbeda, dan tentu saja, ekspektasi yang berubah.
Rusdy Bahalwan: Sang Maestro Lokal di Era Perserikatan yang Legendaris
Mari kita mulai perjalanan ini ke masa lalu yang penuh nostalgia, ke era di mana sepak bola masih kental dengan romantisme amatirisme namun gairahnya tak kalah membara: era Perserikatan. Di sinilah nama almarhum Rusdy Bahalwan bersinar terang benderang. Jangan salah, sebelum jadi pelatih, Rusdy adalah legenda hidup Persebaya sebagai pemain, bahkan sempat dijuluki "Si Kancil" karena kelincahannya. Darah hijau sudah mengalir deras dalam nadinya. Jadi, ketika ia ditunjuk sebagai pelatih, ekspektasi publik Surabaya langsung membumbung tinggi.
Musim 1987-1988 menjadi panggung bagi Rusdy Bahalwan untuk membuktikan magisnya. Di bawah arahannya, Persebaya tampil perkasa. Mereka berhasil menembus final Perserikatan melawan Persija Jakarta di Stadion Utama Senayan. Momen itu, bagi banyak Bonek lawas, adalah salah satu yang paling dikenang. Dalam pertandingan yang penuh drama dan ketegangan, Persebaya berhasil menundukkan Macan Kemayoran dengan skor 3-2. Gol-gol kemenangan tersebut seolah mengukuhkan Rusdy Bahalwan bukan hanya sebagai mantan pemain hebat, tapi juga seorang arsitek tim yang brilian.
Trofi Perserikatan 1987-1988 itu bukan hanya sekadar piala; itu adalah simbol dominasi, kebanggaan arek-arek Suroboyo, dan bukti nyata dari racikan taktik seorang putra daerah. Rusdy Bahalwan saat itu berhasil meramu tim yang solid, penuh semangat, dan berkarakter Persebaya sejati. Ia paham betul filosofi permainan Bajul Ijo dan bagaimana cara menyuntikkan semangat juang itu ke dalam setiap pemainnya. Prestasi ini tak hanya membawa kebahagiaan sesaat, tapi juga menempatkan Rusdy Bahalwan sebagai salah satu pelatih legendaris Persebaya yang tak akan lekang oleh waktu.
Jacksen F. Tiago: Sentuhan Brasil di Awal Liga Indonesia
Waktu berputar, era Perserikatan berganti menjadi Liga Indonesia, sebuah format kompetisi yang lebih profesional dengan sentuhan modernisasi. Di tengah transisi ini, muncul nama Jacksen F. Tiago. Jangan kaget, Jacksen juga punya cerita legendaris sebagai pemain di Persebaya, bahkan sampai dijuluki "Macan Asia" karena ketajamannya. Jadi, ketika ia beralih profesi menjadi pelatih Persebaya, harapan publik pun kembali membumbung tinggi. Sentuhan ala Brasil dalam permainan Persebaya diharapkan bisa membawa angin segar.
Dan benar saja, Jacksen F. Tiago membuktikan kelasnya di musim Liga Indonesia 1996-1997. Musim itu, Persebaya tampil sangat dominan. Racikan taktiknya yang modern, disiplin, dan efektif membuat lawan-lawan ketar-ketir. Dengan deretan pemain bintang seperti Widodo C. Putro, Aji Santoso (yang nanti juga jadi pelatih), dan tentu saja para pemain asing berkualitas, Persebaya di bawah Jacksen F. Tiago menjelma menjadi tim yang sangat menakutkan. Puncak dari semua itu adalah final melawan Bandung Raya di Stadion Klabat, Manado.
Dalam pertandingan yang cukup sengit, Persebaya berhasil keluar sebagai juara dengan skor 3-1. Kemenangan ini menandai kejayaan Persebaya di era Liga Indonesia, sekaligus mengukuhkan nama Jacksen F. Tiago sebagai pelatih asing pertama yang berhasil membawa Bajul Ijo meraih gelar juara liga profesional. Gayanya yang karismatik di pinggir lapangan, kemampuannya memotivasi pemain, dan pemahaman taktiknya yang mendalam menjadi kunci suksesnya. Ia tak hanya membawa trofi, tapi juga membawa gaya permainan yang atraktif dan bikin penonton betah berlama-lama di stadion.
Alfredo Vera dan Aji Santoso: Kebangkitan dan Konsistensi di Era Modern
Sejarah Persebaya tidak melulu soal kejayaan, ada kalanya mereka harus merasakan pahitnya perjuangan di kasta bawah. Setelah terjerembap ke Liga 2, semangat Bonek dan seluruh elemen tim tidak padam. Justru di sinilah muncul lagi sosok-sosok pelatih yang punya peran krusial dalam kebangkitan. Nama Angel Alfredo Vera, pelatih asal Argentina, patut diacungi jempol. Ia datang saat Persebaya masih berjuang di Liga 2 musim 2017. Dengan segala keterbatasan dan tekanan dari ekspektasi publik, Alfredo Vera berhasil membawa Persebaya menjuarai Liga 2 dan kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Mungkin trofi Liga 2 terkesan "kecil" dibanding Liga Indonesia atau Perserikatan. Tapi, jangan salah, efeknya luar biasa! Mengembalikan Persebaya ke Liga 1 adalah sebuah pencapaian monumental yang membuat seisi Surabaya berpesta dan bernapas lega. Tanpa Alfredo Vera, mungkin cerita kebangkitan Persebaya akan berjalan lebih lama dan berliku. Ia adalah arsitek di balik momen paling mengharukan bagi Bonek modern.
Setelah kembali ke Liga 1, Persebaya mencari identitas dan konsistensi. Di sinilah Aji Santoso, putra daerah yang juga legenda hidup klub, mengambil alih kemudi. Meski belum berhasil membawa Persebaya menjuarai Liga 1, Aji telah membawa Bajul Ijo ke level yang sangat kompetitif. Ia terkenal dengan gaya permainan menyerang, kecepatan, dan keberaniannya memberi panggung untuk pemain muda. Persebaya di bawah Aji kerap kali menjadi tim kuda hitam yang merepotkan dan selalu berada di papan atas Liga 1. Ia juga berhasil membawa Persebaya menjuarai Piala Gubernur Jatim 2020. Lebih dari itu, Aji Santoso merepresentasikan semangat dan identitas Persebaya itu sendiri. Ia membangun tim dengan karakter kuat, yang berani berduel dan tidak kenal menyerah.
Jadi, Siapa yang Paling Tinggi?
Setelah menelisik beberapa nama pelatih top Persebaya, kembali ke pertanyaan awal: siapa yang paling tinggi prestasinya? Jawabannya mungkin tergantung pada kacamata mana kita melihat. Jika tolok ukurnya adalah trofi kasta tertinggi di era masing-masing, maka Rusdy Bahalwan dengan Perserikatan 1987-1988 dan Jacksen F. Tiago dengan Liga Indonesia 1996-1997 adalah dua nama yang paling layak disandingkan. Keduanya berhasil membawa Persebaya ke puncak kejayaan di zamannya, mengukir tinta emas yang tak terbantahkan.
Namun, jika kita bicara tentang impact dan signifikansi di luar sekadar trofi kasta tertinggi, maka peran Alfredo Vera dalam mengembalikan Persebaya ke Liga 1 adalah prestasi yang tak kalah heroik. Itu adalah momen krusial yang mengakhiri penantian panjang dan memulihkan harga diri sebuah klub besar. Sementara Aji Santoso, meski belum menyumbang gelar Liga 1, telah memberikan konsistensi, identitas, dan fondasi kuat bagi Persebaya di era modern, serta keberanian untuk mengorbitkan talenta lokal. Itu juga bukan prestasi kaleng-kaleng.
Pada akhirnya, semua pelatih yang kita bahas di atas, dengan caranya masing-masing, telah memberikan kontribusi tak ternilai bagi Persebaya. Mereka adalah bagian integral dari narasi panjang Bajul Ijo. Mereka bukan hanya membawa taktik atau strategi, tapi juga semangat, harapan, dan kebanggaan. Perdebatan tentang siapa yang "tertinggi" mungkin tak akan pernah berakhir, tapi satu hal yang pasti: nama-nama seperti Rusdy Bahalwan, Jacksen F. Tiago, Alfredo Vera, dan Aji Santoso akan selalu dikenang sebagai pahlawan di hati Bonek. Mereka adalah bagian dari mozaik indah sejarah Persebaya, sebuah klub yang semangatnya tak akan pernah mati.
Sumber Foto : Dok Persebaya
Next News

Anti-Numpang! Raket Padel Terbaik untuk Pemula
4 days ago

Lebih dari Kalah: MU Dipermalukan 10 Pemain Everton
5 days ago

PERSEBAYA Putus Kerjasama dengan Coach Edu
7 days ago

Lima Negara Eropa Tambah Daftar, Total 39 Tim Pastikan Tiket ke Piala Dunia 2026
11 days ago

Resmi! Luca Zidane Bela Aljazair, Bukan Prancis.
12 days ago

Kobbie Mainoo bertahan atau hengkang?
13 days ago

Persebaya Pincang Jelang Derbi: Rivera dan Leo Lelis Absen Lawan Arema di GBT
14 days ago

Garuda Muda Gagal Tembus Pertahanan Mali: Timnas U-22 Digempur 0-3 di Bogor
15 days ago

Norwegia Guncang San Siro, Hajar Italia 4-1 dan Akhiri Penantian 28 Tahun ke Piala Dunia
13 days ago

Portugal Pesta Gol 9-1 ke Armenia, Duel Hattrick Membawa Tiket ke Piala Dunia
13 days ago






