Ceritra
Ceritra Cinta

Pasangan Tiba-Tiba Dingin? Kenali Apa Itu Stonewalling

Refa - Wednesday, 04 March 2026 | 08:30 PM

Background
Pasangan Tiba-Tiba Dingin? Kenali Apa Itu Stonewalling
Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (pexels.com/Alex Green)

Seni Mendiamkan Pasangan: Alih-alih Selesai, Masalah Malah Makin Panas

Pernah nggak sih, kamu lagi semangat-semangatnya mau meluruskan masalah sama pasangan, eh, dia malah masang muka tembok? Kamu tanya "Kamu kenapa?", dia jawab "Nggak apa-apa." Kamu coba jelasin poin kamu, dia malah asyik main HP atau malah melengos pergi ke kamar sebelah sambil banting pintu pelan. Kalau kamu pernah ngerasain ini, selamat, kamu baru saja berhadapan dengan fenomena yang namanya stonewalling.

Di jagat media sosial, kita sering dengar istilah red flag atau toxic relationship. Tapi, jarang ada yang bahas betapa ngerinya jurus "diam seribu bahasa" ini. Padahal, menurut para ahli hubungan, mendiamkan pasangan setelah bertengkar itu bukan tanda kamu sabar atau dewasa, tapi justru salah satu pembunuh paling efektif dalam sebuah relasi. Istilah kerennya ya itu tadi, stonewalling.

Apa Sih Stonewalling Itu? Kok Kedengarannya Serem?

Secara harfiah, stonewalling itu kayak kamu lagi membangun tembok batu di depan wajahmu biar orang lain nggak bisa masuk. John Gottman, seorang psikolog yang sudah meneliti ribuan pasangan, memasukkan stonewalling ke dalam "The Four Horsemen of the Apocalypse" alias empat tanda kiamat dalam hubungan. Teman-temannya adalah kritik berlebih, penghinaan, dan sikap defensif.

Bedanya sama sekadar butuh waktu buat tenang (time-out), stonewalling ini sifatnya menutup akses komunikasi secara total. Nggak ada kesepakatan kapan bakal bicara lagi. Kamu cuma ditinggal di ruang hampa, dibiarkan menebak-nebak apa yang salah, sementara pasanganmu bertingkah seolah kamu itu transparan alias nggak ada di situ. Rasanya? Wah, jangan ditanya. Lebih mending dimarahin sekalian daripada dianggap nggak eksis, kan?

Kenapa Kita Suka Banget Pake Jurus Ini?

Mari jujur-jujuran. Kadang kita melakukan stonewalling bukan karena kita jahat banget, tapi karena kita bingung. Biasanya, orang melakukan ini karena merasa overwhelmed atau kewalahan secara emosional. Istilah psikologinya adalah flooding. Rasanya kayak sistem di otak lagi hang karena terlalu banyak emosi yang masuk mulai dari marah, sedih, kecewa, takut jadi akhirnya otak milih buat shutdown.

Tapi, ada juga tipe orang yang pakai stonewalling sebagai senjata buat menghukum pasangan. "Biar dia tahu rasa," atau "Biar dia mikir sendiri salahnya di mana." Nah, kalau niatnya sudah begini, ini sudah masuk ranah manipulasi emosional. Kita pengen memegang kendali atas situasi dengan cara membuat pasangan kita merasa cemas dan merasa bersalah secara berlebihan.

Dampaknya: Dari Overthinking Sampai Putus Beneran

Bayangkan kamu lagi di posisi yang didiamkan. Awalnya mungkin kamu cuma bingung. Tapi kalau sudah lewat satu jam, dua jam, sampai seharian didiamkan, otak kamu bakal mulai bikin skenario film horor sendiri. Kamu mulai overthinking, jantung berdebar, dan merasa ditolak secara mentah-mentah. Secara biologis, rasa ditolak atau diabaikan itu mengaktifkan bagian otak yang sama dengan saat kita ngerasain sakit fisik. Jadi, didiamkan itu beneran sakit, bukan cuma kiasan.

Bahayanya lagi, kalau ini jadi kebiasaan, komunikasi dalam hubungan bakal mati perlahan. Masalah yang harusnya selesai dalam sepuluh menit diskusi, malah jadi dendam yang menumpuk di bawah karpet karena nggak pernah dibahas tuntas. Setiap ada konflik, satu orang bakal lari, satu orang lagi bakal ngejar sampai capek sendiri. Pola pursue-withdraw ini adalah resep paling ampuh buat bikin sebuah hubungan berakhir di meja hijau atau sekadar jadi kenangan di folder archived WhatsApp.

Beda Tipis Antara Butuh Ruang dan Stonewalling

Mungkin kamu bakal tanya, "Lah, terus kalau aku lagi emosi banget dan takut malah ngomong kasar, masak nggak boleh diem dulu?"

Tentu boleh banget! Malah disarankan. Tapi ada etikanya. Bedanya antara butuh ruang (space) yang sehat dengan stonewalling adalah komunikasinya. Kalau kamu bilang, "Sayang, aku lagi emosi banget dan takut salah ngomong. Boleh nggak aku sendirian dulu 30 menit? Nanti jam 8 malam kita bahas lagi ya," itu namanya healthy boundary. Kamu memberi kepastian kapan kamu akan kembali.

Sedangkan stonewalling itu nggak pakai "permisi". Kamu langsung cabut, nggak bales chat, nggak angkat telepon, dan pas ketemu malah buang muka. Di sini letak perbedaannya. Yang satu bertujuan untuk menenangkan diri demi solusi, yang satu lagi bertujuan untuk menghindari masalah atau menyakiti pasangan.

Gimana Cara Tobat dari Kebiasaan Ini?

Kalau kamu sadar bahwa kamu adalah si tukang tembok, langkah pertama adalah belajar mengenali sinyal tubuh. Kalau jantung sudah deg-degan parah atau tangan mulai gemetar pas lagi berantem, itu tandanya kamu mau flooding. Sebelum kamu tutup pintu hati rapat-rapat, bilang ke pasangan kalau kamu butuh jeda. Jangan cuma menghilang kayak hantu.

Buat kamu yang sering jadi korban stonewalling, jangan dipaksa. Makin kamu kejar, makin tinggi tembok yang dia bangun. Kasih dia waktu, tapi kasih tahu juga kalau cara dia mendiamkanmu itu bikin kamu merasa terluka. Hubungan itu kerja tim, bukan ajang siapa yang paling kuat menahan gengsi.

Pada akhirnya, komunikasi itu memang capek. Ngomongin perasaan itu bikin risih dan nggak nyaman. Tapi inget, musuh kalian itu adalah masalahnya, bukan pasangannya. Tembok batu mungkin bisa melindungimu dari pertengkaran sesaat, tapi dia juga bakal menghalangimu buat ngerasain kedekatan yang sesungguhnya. Jadi, yuk, mulai robohin temboknya pelan-pelan, ganti sama jembatan buat saling memahami.

Logo Radio
🔴 Radio Live