Ceritra
Ceritra Warga

Panduan Nilai Luhur Jawa Pembentuk Pribadi Santun dan Bijaksana

Nisrina - Monday, 16 February 2026 | 09:15 AM

Background
Panduan Nilai Luhur Jawa Pembentuk Pribadi Santun dan Bijaksana
Ilustrasi (sabilulhuda.org/)

Kehidupan modern yang serba cepat dan didominasi oleh teknologi digital sering kali membuat umat manusia kehilangan arah dalam menjaga esensi budi pekerti. Di tengah gempuran tren budaya asing persaingan karier yang ketat dan gaya hidup individualis yang semakin menjamur kita sering kali melihat fenomena merosotnya etika serta tata krama di masyarakat. Banyak orang pintar secara akademis namun gagal menjadi manusia yang bijaksana secara emosional dan sosial.

Untuk mengatasi krisis moralitas ini kita sebenarnya tidak perlu mencari solusi hingga jauh ke ujung dunia. Nenek moyang kita di Nusantara khususnya masyarakat Jawa telah mewariskan sebuah pedoman hidup yang sangat luar biasa sempurna. Merujuk pada kajian kebudayaan dan spiritualitas dari Sabilulhuda nilai nilai luhur falsafah Jawa adalah mata air kebijaksanaan yang tidak akan pernah kering dimakan zaman.

Falsafah Jawa bukanlah sekadar aturan kuno yang kaku dan usang melainkan sebuah sistem etika yang sangat dinamis untuk membentuk karakter manusia yang tangguh santun dan penuh empati. Mengaplikasikan ajaran ajaran agung ini dalam kehidupan sehari hari terbukti ampuh menciptakan kedamaian batin dan keharmonisan sosial. Artikel ini akan membedah secara mendalam pilar pilar utama falsafah Jawa yang wajib Anda jadikan pedoman untuk menjadi pribadi yang lebih baik di era modern ini.

Fondasi Andhap Asor Sebagai Puncak Kedewasaan

Langkah pertama untuk menjadi pribadi yang santun adalah dengan menanamkan prinsip Andhap Asor di dalam dada. Secara harfiah Andhap Asor berarti merendahkan diri atau bersikap rendah hati. Namun penting untuk dipahami secara mendalam bahwa rendah hati di sini sama sekali bukan berarti rendah diri merasa inferior atau kehilangan rasa percaya diri saat berhadapan dengan orang lain.

Andhap Asor adalah sebuah bentuk kedewasaan mental di mana seseorang menyadari kapasitas dan kelebihan dirinya sendiri tanpa perlu memamerkannya untuk mendapatkan validasi atau pengakuan dari orang luar. Orang yang memiliki sifat Andhap Asor akan selalu bersikap sopan menghormati siapa saja tanpa memandang status sosial jabatan atau kekayaan lawan bicaranya.

Dalam dunia kerja modern sikap ini sangat dibutuhkan. Seorang pemimpin yang Andhap Asor tidak akan segan untuk mendengarkan masukan dari bawahannya tidak anti terhadap kritik dan selalu menggunakan bahasa yang santun saat memberikan instruksi. Sikap inilah yang akan menumbuhkan rasa segan dan rasa hormat yang tulus dari orang orang di sekitarnya bukan rasa takut yang dipaksakan.

Tepa Selira Sebagai Wujud Empati Sosial Tertinggi

Setelah memiliki kerendahan hati falsafah Jawa menuntut kita untuk memiliki Tepa Selira. Istilah ini secara sederhana dapat diartikan sebagai tenggang rasa atau kemampuan untuk mengukur perasaan orang lain menggunakan ukuran perasaan diri kita sendiri. Ini adalah bentuk paling murni dari kecerdasan emosional dan empati sosial.

Prinsip dasar dari Tepa Selira sangatlah logis dan universal. Jika Anda merasa sakit saat dicubit maka janganlah Anda mencubit orang lain. Jika Anda merasa sakit hati saat dihina atau direndahkan di depan umum maka pantang bagi Anda untuk melontarkan kata kata kasar yang melukai harga diri sesama manusia.

Dalam era media sosial saat ini di mana orang orang sangat mudah melontarkan komentar kebencian dan perundungan siber prinsip Tepa Selira adalah tameng penyelamat peradaban. Dengan menerapkan falsafah ini kita akan berpikir ribuan kali sebelum menyebarkan berita bohong atau mengetik komentar jahat karena kita mampu merasakan seberapa besar penderitaan mental yang akan dialami oleh korban di seberang layar.

Prinsip Ojo Dumeh Penangkal Kesombongan Duniawi

Manusia sangat mudah terbuai ketika mereka sedang berada di puncak kejayaan. Ketika harta melimpah jabatan sedang tinggi tingginya atau popularitas sedang meroket godaan untuk bersikap arogan menjadi sangat besar. Untuk mencegah manusia jatuh ke dalam jurang kesombongan budaya Jawa memiliki peringatan keras yang berbunyi Ojo Dumeh.

Ojo Dumeh secara bahasa berarti jangan mentang mentang. Jangan mentang mentang Anda saat ini sedang kaya lalu Anda memandang rendah orang miskin. Jangan mentang mentang Anda sedang berkuasa lalu Anda menindas yang lemah dan membuat aturan yang menyengsarakan rakyat. Jangan mentang mentang Anda memiliki gelar sarjana yang tinggi lalu Anda meremehkan nasihat dari orang tua yang tidak bersekolah.

Falsafah ini mengingatkan kita pada hukum alam bahwa kehidupan ini ibarat roda yang terus berputar. Posisi kita saat ini hanyalah titipan sementara dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang bisa diambil kembali kapan saja dalam kedipan mata. Menanamkan Ojo Dumeh akan membuat kita selalu membumi bersyukur atas apa yang dimiliki dan menggunakan kelebihan kita untuk membantu mereka yang sedang berada di bawah roda kehidupan.

Falsafah Mikul Dhuwur Mendhem Jero

Nilai luhur selanjutnya sangat berkaitan dengan tata krama dalam berorganisasi berkeluarga maupun berbangsa yaitu Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Secara harfiah kalimat ini berarti memikul tinggi tinggi dan memendam dalam dalam. Makna filosofis dari pepatah ini adalah ajaran untuk selalu menghormati dan menjaga nama baik orang tua guru pemimpin atau leluhur kita.

Mikul dhuwur mengajarkan kita untuk selalu menjunjung tinggi prestasi kebaikan dan nama harum pendahulu kita. Kita dituntut untuk melanjutkan perjuangan mereka dan membuat mereka bangga. Sementara itu mendhem jero mengajarkan kebesaran jiwa untuk memaafkan menutupi dan mengubur dalam dalam segala kekurangan aib atau kesalahan masa lalu yang pernah mereka lakukan.

Dalam kehidupan bermasyarakat mempraktikkan falsafah ini berarti kita tidak mengumbar aib keluarga ke ranah publik tidak menjelek jelekkan mantan pemimpin di tempat kerja yang lama dan selalu fokus pada kebaikan yang bisa kita wariskan. Sikap ini akan menciptakan rantai penghormatan lintas generasi yang sangat kuat dan mencegah perpecahan akibat dendam masa lalu.

Memayu Hayuning Bawana Harmoni dengan Alam Semesta

Falsafah Jawa tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan alam semesta tempat kita berpijak. Hal ini terangkum dengan sangat indah dalam prinsip Memayu Hayuning Bawana yang berarti memperindah keindahan dunia.

Tugas manusia hidup di bumi bukanlah sebagai penakluk yang serakah melainkan sebagai khalifah atau perawat alam semesta. Kita dituntut untuk menjaga kelestarian lingkungan merawat bumi agar tetap hijau menjaga kebersihan air dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara membabi buta hanya demi keuntungan ekonomi sesaat.

Lebih dari sekadar pelestarian alam Memayu Hayuning Bawana juga mencakup upaya menciptakan kedamaian ketertiban dan kesejahteraan bagi seluruh makhluk hidup. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan seperti membuang sampah pada tempatnya menolong hewan yang terluka hingga mendamaikan tetangga yang sedang berselisih adalah wujud nyata dari pengamalan nilai luhur ini.

Narimo Ing Pandum Seni Bersyukur Tanpa Syarat

Terakhir untuk mendapatkan kedamaian batin dan kebahagiaan sejati falsafah Jawa menawarkan konsep Narimo Ing Pandum. Konsep ini mengajarkan kita untuk menerima dengan lapang dada segala pemberian porsi atau ketetapan dari Sang Pencipta setelah kita berusaha dengan sekuat tenaga.

Banyak orang modern yang terjebak dalam budaya kerja keras tanpa henti atau hustle culture hingga akhirnya mengalami kelelahan mental yang parah atau burnout. Mereka terus membandingkan pencapaian hidup mereka dengan orang lain sehingga tidak pernah merasa puas. Narimo Ing Pandum hadir sebagai penawar racun tersebut.

Sikap ini bukanlah bentuk kemalasan atau kepasrahan tanpa usaha. Seseorang harus tetap bekerja keras dan cerdas namun ketika hasil akhir sudah ditetapkan mereka menerimanya dengan senyuman dan rasa syukur yang dalam. Jika hasilnya melimpah mereka tidak sombong jika hasilnya sedikit mereka tidak mengutuk Tuhan atau menyalahkan keadaan. Hati yang pandai bersyukur adalah kunci utama untuk hidup yang tenteram sehat dan panjang umur.

Menjadi manusia yang santun dan bijaksana adalah sebuah proses belajar seumur hidup yang tidak akan pernah ada kata tamat. Dengan menggali kembali dan mengamalkan nilai nilai luhur Jawa ini kita tidak hanya melestarikan warisan nenek moyang tetapi juga sedang membangun benteng karakter yang kokoh untuk menghadapi segala badai tantangan di masa depan. Mari kita wariskan kebijaksanaan ini kepada generasi penerus agar bangsa ini senantiasa dikenal sebagai bangsa yang beradab berbudi pekerti halus dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Logo Radio
🔴 Radio Live