Ceritra
Ceritra Update

Panas! Korut Luncurkan Rudal Jelang Kunjungan Trump

- Thursday, 30 October 2025 | 03:00 PM

Background
Panas! Korut Luncurkan Rudal Jelang Kunjungan Trump

Ketika Rudal Jelajah Korea Utara Menyapa Dunia: Antara Unjuk Gigi dan Pesan Terselubung Jelang Kunjungan Trump

Di tengah riuhnya persiapan menyambut kedatangan orang nomor satu di Amerika Serikat, Donald Trump, ke Korea Selatan, tiba-tiba saja langit di Semenanjung Korea kembali bergejolak. Bukan karena pertunjukan kembang api atau parade militer yang meriah, melainkan suara yang lebih bikin jantung deg-degan: uji coba rudal strategis oleh Korea Utara. Jujur saja, ini bukan kali pertama mereka bikin ulah, tapi kali ini rasanya ada bumbu-bumbu yang bikin kita semua (atau setidaknya para pengamat politik internasional) sedikit mengerutkan dahi.

Jadi ceritanya begini, beberapa hari sebelum Presiden Trump mendarat di Seoul untuk kunjungan yang digadang-gadang bakal membahas banyak hal penting, terutama soal denuklirisasi dan stabilitas regional, Pyongyang malah asyik sendiri meluncurkan rudal jelajah strategis. Kalau kata anak sekarang, "salam pembuka" dari Korut ini lumayan bikin kaget, meski sebenarnya nggak kaget-kaget amat juga, lho. Kenapa? Karena ya, ini Korea Utara. Mereka memang punya caranya sendiri untuk menyapa dunia.

Bukan Sekadar Ledakan, tapi Sebuah Pesan yang Jelas

Kita tahu lah ya, kalau Korea Utara itu terkenal dengan "drama"-nya yang seringkali bikin dunia geleng-geleng kepala. Uji coba rudal ini, mau dibilang iseng atau bukan, jelas bukan tindakan tanpa makna. Banyak yang menafsirkannya sebagai semacam unjuk kekuatan atau "pamer otot" di hadapan dua raksasa, Washington dan Seoul. Ibaratnya, ini kayak anak band yang lagi latihan di garasi, lalu sengaja dibikin berisik biar tetangga pada tahu kalau mereka masih eksis dan jagoan di bidangnya.

Bayangkan saja, Trump mau datang ke halaman tetangga sebelah (Korea Selatan), eh tiba-tiba Korea Utara "batuk-batuk" dengan suara rudal. Pesannya jelas banget: "Hei, jangan lupakan kami! Kami masih ada dan punya taring." Ini adalah cara Pyongyang untuk menegaskan posisi mereka di tengah ketegangan yang masih saja membayangi Semenanjung Korea. Apalagi, perundingan denuklirisasi yang tadinya sempat digadang-gadang bakal bikin adem, eh ternyata malah macet di tengah jalan. Kayak hubungan yang nggak jelas ujungnya, digantung gitu aja.

Ketika Denuklirisasi Macet, Rudal Jadi Solusi?

Situasi denuklirisasi ini memang jadi PR besar. Sejak beberapa pertemuan puncak antara AS dan Korut, kita semua berharap ada titik terang. Tapi kenyataannya, kedua belah pihak masih kokoh pada pendirian masing-masing. Amerika Serikat ingin Korut menyerahkan semua senjata nuklirnya secara total dan terverifikasi, baru kemudian sanksi-sanksi dicabut. Sementara Korut, maunya sedikit-sedikit dulu, "kanibal" sanksinya dikurangi dulu sebagai imbalan awal. Jadinya, ya kayak tarik ulur benang layangan yang nggak ketemu-ketemu, malah jadi benang kusut.

Nah, di tengah kemandekan inilah, rudal jelajah strategis itu muncul. Ini bisa jadi penanda bahwa Korut mulai frustrasi dengan proses negosiasi yang berlarut-larut. Mereka ingin menunjukkan bahwa meskipun perundingan macet, kemampuan militer mereka tidak ikut macet. Bahkan, mungkin malah berkembang. Rudal jelajah, meski tidak se-spektakuler rudal balistik antarbenua (ICBM) yang bisa mencapai daratan AS, tetap merupakan ancaman serius. Kapabilitasnya untuk membawa hulu ledak konvensional atau bahkan nuklir (klaim mereka) dengan presisi, membuat alarm bahaya di Seoul dan Washington berdering kencang.

Gelombang Kekhawatiran dan Kecaman dari Sekutu

Sudah bisa ditebak, aksi Korea Utara ini langsung memicu reaksi keras. Korea Selatan, yang notabene adalah tetangga terdekat dan paling merasakan dampaknya, tentu saja mengecam habis-habisan. Mereka khawatir stabilitas di Semenanjung Korea yang sudah rapuh, makin hancur berantakan. Ini kan sama saja dengan menyiram bensin ke api yang sedang berkobar, bikin suasana makin panas dan mencekam. Buat Seoul, ini bukan cuma soal uji coba, tapi juga ancaman nyata terhadap keamanan nasional mereka.

Amerika Serikat pun tak ketinggalan. Melalui juru bicara dan pejabat tinggi mereka, kecaman keras dilayangkan ke Pyongyang. Mereka mengingatkan bahwa tindakan semacam ini hanya akan memperkeruh suasana dan tidak akan membantu proses denuklirisasi. Ini seperti orang tua yang kesal karena anaknya nakal lagi setelah diberi peringatan berkali-kali. Frustrasi, tapi juga harus memikirkan langkah selanjutnya.

Uji coba rudal ini juga secara tidak langsung menguji kesabaran komunitas internasional. Sudah berapa kali sih kita melihat pola yang sama? Korut uji coba, dunia mengecam, lalu kembali lagi ke titik nol. Rasanya seperti sebuah siklus tanpa henti yang bikin lelah, tapi di sisi lain juga nggak bisa diabaikan begitu saja.

Siklus yang Tak Ada Habisnya?

Melihat sejarahnya, uji coba rudal Korea Utara ini memang sudah menjadi semacam "tradisi" yang sulit dihilangkan. Mereka seolah punya agenda tersendiri setiap kali ada peristiwa penting di kancah politik internasional. Kadang untuk menarik perhatian, kadang untuk menekan pihak lawan, kadang pula untuk menunjukkan kepada rakyatnya bahwa pemimpin mereka punya taring dan mampu menjaga kedaulatan negara. Yang jelas, ini bukan cuma permainan. Ada kemampuan militer yang terus mereka kembangkan di balik setiap ledakan atau peluncuran rudal.

Pertanyaan besarnya sekarang, apakah uji coba ini akan mengubah pendekatan Washington dan Seoul? Ataukah ini hanya akan memperkuat tekad mereka untuk tetap bersikap tegas terhadap Pyongyang? Akankah kunjungan Trump bisa menjadi momentum untuk mencairkan kembali ketegangan, atau malah sebaliknya, Korut akan kembali "menyapa" dengan cara yang lebih bikin jengkel? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, drama di Semenanjung Korea ini masih jauh dari kata "tamat". Kita semua cuma bisa menunggu episode selanjutnya, berharap jalan ceritanya bisa lebih adem dan nggak bikin jantungan lagi.

Logo Radio
🔴 Radio Live