Mengenal Fenomena Earworm Saat Lagu Terus Berputar di Kepala
Nisrina - Monday, 30 March 2026 | 09:15 PM


Pernah nggak sih kalian lagi asyik-asyiknya melamun di atas motor saat lampu merah, atau lagi serius ngerjain deadline yang bikin pusing, tiba-tiba ada satu potongan lagu yang muncul entah dari mana? Potongan liriknya cuma seuprit, mungkin cuma bagian reff yang nggak nyampai sepuluh detik, tapi dia terus-terusan berputar di otak kayak kaset rusak. Parahnya lagi, lagu itu kadang bukan lagu favorit kita. Bisa jadi itu lagu dangdut koplo yang nggak sengaja terdengar di angkot, atau jingle iklan sosis yang lewat di TV tetangga.
Kondisi ini dalam dunia psikologi punya istilah keren: Involuntary Musical Imagery (INMI). Tapi, kita lebih mengenalnya dengan sebutan earworm. Secara harfiah, kalau diterjemahkan mentah-mentah, artinya "cacing telinga". Kedengarannya menjijikkan, ya? Tapi memang begitulah rasanya; seolah ada makhluk kecil yang menggeliat di dalam otak kita dan memutar musik yang sama berulang-ulang tanpa tombol stop.
Lantas, kenapa sih otak kita yang katanya canggih ini malah hobi melakukan hal absurd kayak gini? Kenapa dia nggak milih untuk memutar rekaman materi ujian atau poin-poin presentasi besok pagi daripada lagu "Cikini ke Gondangdia"? Mari kita bedah pelan-pelan biar nggak makin penasaran.
Sirkuit Otak yang Gagal Move On
Banyak peneliti berpendapat kalau earworm ini sebenarnya adalah produk sampingan dari cara otak kita memproses informasi. Otak manusia itu sangat suka dengan pola dan repetisi. Ketika kita mendengar lagu yang punya struktur sederhana, nada yang mudah ditebak, dan lirik yang berulang, korteks auditori di otak kita bakal langsung "nyantol".
Bisa dibilang, earworm itu semacam gatal di dalam otak. Ibarat kulit yang gatal, kita punya keinginan untuk menggaruknya. Nah, cara otak "menggaruk" rasa gatal karena potongan melodi tadi adalah dengan memutarnya kembali. Sialnya, bukannya hilang, tindakan mengulang-ulang lagu ini malah bikin sirkuit saraf kita makin hafal dan makin susah buat berhenti. Benar-benar sebuah lingkaran setan yang sangat tidak estetik.
Selain itu, ada sebuah fenomena psikologi yang namanya Efek Zeigarnik. Teori ini bilang kalau otak manusia cenderung lebih ingat hal-hal yang sifatnya belum selesai atau menggantung. Kalau kalian cuma hafal potongan reff sebuah lagu tanpa tahu lirik lengkapnya, otak kalian bakal merasa punya utang buat nyelesain lagu itu. Karena dia nggak tahu kelanjutannya, dia bakal muter potongan yang dia tahu itu-itu saja terus sampai kalian merasa ingin teriak.
Kenapa Lagu Tertentu Lebih "Nempel" dari yang Lain?
Nggak semua lagu punya bakat jadi earworm. Coba perhatikan, lagu-lagu yang viral di TikTok atau yang sering masuk top chart Spotify biasanya punya formula yang mirip. Temponya agak cepat, nadanya gampang diikuti (singable), dan biasanya ada lompatan nada yang unik tapi nggak terlalu rumit. Peneliti dari Durham University menemukan kalau lagu-lagu dengan tempo yang ceria cenderung lebih sering jadi earworm dibanding lagu balada yang bikin galau maksimal.
Selain struktur musiknya, faktor kebiasaan juga berpengaruh. Kalau kalian sering dengerin satu lagu yang sama setiap hari, peluang lagu itu jadi earworm bakal meningkat berkali-kali lipat. Tapi yang aneh, kadang pemicunya bisa sangat acak. Misalnya, kalian lagi jalan di supermarket, lalu mencium aroma parfum yang dulu sering dipakai mantan, tiba-tiba otak kalian memutar lagu kenangan kalian berdua. Indra penciuman, penglihatan, atau bahkan suasana hati tertentu bisa jadi saklar yang menyalakan radio internal di kepala kita.
Siapa Saja yang Sering Jadi Korban?
Apakah semua orang mengalami hal ini? Jawabannya: hampir semua orang (sekitar 90% populasi dunia) pernah merasakannya minimal seminggu sekali. Tapi, ada kelompok orang tertentu yang emang lebih rentan kena serangan earworm akut. Para musisi, misalnya, karena hidup mereka memang nggak jauh-jauh dari nada, otak mereka jadi lebih terlatih untuk merekam suara secara otomatis.
Selain itu, orang-orang dengan kepribadian tertentu, seperti mereka yang punya kecenderungan obsesif-kompulsif (OCD) atau tingkat neurotisme yang tinggi, juga sering melaporkan serangan earworm yang lebih intens. Tapi nggak usah minder dulu, orang yang sering ngalamin earworm biasanya punya koneksi yang lebih kuat antara bagian otak yang memproses pendengaran dan bagian yang mengatur emosi. Jadi, anggap saja itu tanda kalau kalian adalah makhluk yang sangat perasa dan punya memori auditori yang oke.
Gimana Cara Menghentikannya?
Kalau earworm sudah mulai mengganggu konsentrasi, bahkan sampai kebawa mimpi, tenang, ada beberapa cara buat melawannya. Cara pertama yang disarankan para ahli justru terdengar kontra-intuitif: dengarkan lagu itu sampai habis. Ya, dengarkan secara utuh dari intro sampai outro. Ini dilakukan buat menipu Efek Zeigarnik tadi. Begitu otak merasa lagunya sudah "selesai", biasanya rasa penasaran bawah sadar itu bakal hilang.
Cara kedua, carilah pengalihan yang menguras otak. Main teka-teki silang, baca buku yang bahasanya agak berat, atau ngobrol sama teman bisa membantu mengalihkan perhatian otak dari loop musik tadi. Tapi ingat, jangan pilih tugas yang terlalu gampang, karena kalau terlalu gampang, otak kalian masih punya sisa energi buat tetap muter lagu itu di latar belakang.
Ada juga tips yang unik dari para peneliti di University of Reading: kunyah permen karet. Gerakan rahang saat mengunyah ternyata bisa mengganggu area otak yang digunakan untuk membayangkan musik di dalam kepala. Dengan kata lain, mulut yang sibuk bikin otak jadi susah buat "nyanyi" diam-diam.
Penutup: Nikmati Saja Dramanya
Pada akhirnya, earworm adalah salah satu dari sekian banyak keanehan manusia yang bikin hidup jadi sedikit lebih berwarna (dan kadang menyebalkan). Sebenarnya nggak ada yang perlu dikhawatirkan secara medis kecuali kalau lagu yang nempel itu adalah suara jeritan atau sesuatu yang bikin kalian cemas berlebihan. Selebihnya, itu cuma cara otak kita buat tetap terhibur di kala sepi.
Jadi, kalau besok pagi kalian bangun dan tiba-tiba otak kalian memutar lagu iklan obat masuk angin, jangan stres. Ambil permen karet, dengerin lagu itu sampai habis, atau sekalian saja ikut nyanyi sekencang-kencangnya di kamar mandi. Siapa tahu dengan begitu, cacing-cacing di telinga kalian jadi bosan dan mutusin buat cari inang lain. Selamat berjuang melawan konser pribadi di kepala kalian!
Next News

Pilih Estetika Totebag atau Fungsi Ransel? Ini Panduannya!
8 minutes ago

Digital Detox: Solusi dari Kebiasaan Scroll Tanpa Henti di Era Digital
3 hours ago

Selama Ini Dibenci, Kecoak Justru Punya Kebiasaan yang Lebih Higienis dari Kita
4 hours ago

Transformasi Gaya: Pilih Makeup Baddie Bold atau Soft Korean Kalem
6 hours ago

Lebih dari Pelindung: Fungsi Tersembunyi Casing HP Lipat Ala Bapak-bapak
7 hours ago

Mengenal Midnight Craving: Alasan Ilmiah Perut Keroncongan Saat Scrolling Medsos di Malam Hari
8 hours ago

Kamar Cantik Tapi Lembap? Waspada Bahaya Jamur dan Atasi Masalah Udara Sekarang
9 hours ago

Bukan Malas, Ini Alasan Kenapa Kamu Merasa Lelah Luar Dalam
a day ago

Anak Lewati Fase Merangkak? Waspadai Dampaknya di Masa Depan
a day ago

Bahaya Tersembunyi di Balik Praktisnya Wadah Plastik dan Alat Masak Berbahan Plastik
a day ago




