Ceritra
Ceritra Update

Mengapa Mengoleksi Buku Masih Menjadi Hobi Banyak Orang?

Shannon - Saturday, 18 July 2026 | 01:00 PM

Background
Mengapa Mengoleksi Buku Masih Menjadi Hobi Banyak Orang?
(Reactor/)

Buku Fisik di Tengah Gempuran PDF: Kenapa Masih Banyak yang Betah Mengoleksi?

Bayangkan sebuah skenario klasik: hujan rintik-rintik di luar, secangkir kopi panas yang mengepul di meja, dan kamu duduk di kursi empuk sambil memegang sebuah buku. Ada suara khas saat lembarannya dibalik, ada aroma kertas tua yang menyeruak—sesuatu yang disebut para ilmuwan sebagai bibliosmia. Momen semacam ini rasanya sulit digantikan oleh usapan jari di layar kaca tablet yang dingin dan licin. Padahal, kita hidup di zaman di mana ribuan judul buku bisa disimpan dalam satu gawai seukuran telapak tangan. Lantas, kenapa sih masih banyak orang yang rela menghabiskan uang demi tumpukan kertas yang berat dan memakan tempat?

Kalau kita mau jujur, mengoleksi buku di tahun 2024 itu sebenarnya agak "absurd". Secara fungsional, buku fisik itu kalah telak dibanding e-book. E-book nggak butuh rak, nggak bisa dimakan rayap, dan bisa dibaca dalam gelap tanpa lampu tambahan. Tapi ya itulah manusia, makhluk yang seringkali tidak digerakkan oleh logika efisiensi semata. Ada sisi emosional dan romantis yang membuat hobi mengoleksi buku tetap bertahan, bahkan makin digandrungi anak muda lewat tren di media sosial seperti BookTok atau Bookstagram.

Lebih dari Sekadar Membaca: Sensasi yang Tak Bisa Di-download

Banyak kolektor buku bakal bilang kalau membaca itu adalah pengalaman sensoris yang utuh. Ini bukan cuma soal menyerap informasi ke otak, tapi soal menyentuh tekstur kertas, merasakan berat buku di tangan, sampai melihat gradasi warna sampul yang mulai menguning. Ada kepuasan tersendiri saat kita menutup buku setelah menyelesaikannya—bunyi "buk" yang mantap itu memberikan rasa pencapaian yang nggak didapat saat kita mematikan layar aplikasi pembaca buku.

Selain itu, buku fisik menawarkan jeda dari dunia digital yang melelahkan. Seharian kita sudah menatap layar untuk bekerja, kuliah, atau sekadar scrolling media sosial. Membaca buku fisik adalah bentuk "digital detox" paling sederhana. Mata kita istirahat dari paparan blue light, dan otak kita dipaksa untuk fokus tanpa gangguan notifikasi WhatsApp atau iklan yang tiba-tiba muncul di tengah paragraf penting.

Fenomena Tsundoku dan Estetika Rak Buku

Pernah dengar istilah Tsundoku? Ini adalah kata dari bahasa Jepang yang menggambarkan kebiasaan membeli buku, menumpuknya, tapi tidak kunjung membacanya. Bagi orang awam, ini mungkin terdengar mubazir. Tapi bagi seorang pecinta buku, tumpukan buku yang belum dibaca itu adalah simbol harapan. Setiap buku yang dibeli adalah janji untuk pengetahuan baru atau petualangan baru di masa depan. Ada rasa aman yang muncul ketika kita dikelilingi oleh rak yang penuh, seolah-olah kita memiliki akses instan ke ribuan pemikiran orang lain.

Jangan lupakan juga faktor estetika. Di era yang serba Instagramable ini, rak buku adalah dekorasi interior yang paling berkelas. Rak buku memberikan karakter pada sebuah rumah. Ia bercerita tentang siapa pemiliknya, apa minatnya, dan bagaimana cara dia memandang dunia tanpa dia harus mengucapkan sepatah kata pun. Tidak heran jika banyak orang berburu edisi sampul keras (hardcover) atau edisi terbatas hanya demi mempercantik tampilan koleksi mereka. "Shelfie" atau foto rak buku telah menjadi salah satu jenis konten paling populer di kalangan netizen yang ingin terlihat intelektual namun tetap estetik.

Sensasi Perburuan dan Harta Karun Tersembunyi

Bagi sebagian orang, mengoleksi buku adalah soal adrenalin saat berburu. Ada keseruan yang tak tergambarkan saat kita blusukan ke pasar buku bekas seperti di Kwitang, Blok M Square, atau toko buku loak di pinggir jalan. Menemukan buku langka yang sudah tidak cetak lagi dengan harga miring rasanya seperti menemukan harta karun peninggalan bajak laut. Belum lagi kalau di dalam buku bekas itu kita menemukan coretan tangan pemilik sebelumnya, pembatas buku jadul, atau bahkan surat cinta yang tertinggal. Hal-hal seperti ini memberikan konteks sejarah dan kemanusiaan yang membuat buku tersebut terasa lebih hidup.

Hobi ini juga sering kali menjadi bentuk investasi emosional. Banyak orang yang tetap menyimpan buku-buku masa kecilnya meski sudah robek di sana-sini. Buku itu menjadi mesin waktu. Saat membukanya kembali, mereka tidak hanya membaca cerita, tapi juga mengingat kembali perasaan, aroma, dan suasana saat mereka pertama kali membaca buku tersebut bertahun-tahun yang lalu.

Kesimpulan: Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat

Pada akhirnya, alasan mengapa mengoleksi buku masih menjadi hobi banyak orang adalah karena buku memberikan sesuatu yang jarang kita dapatkan di era modern: ketenangan dan kepemilikan nyata. Di dunia di mana semuanya serba langganan (subscription) dan digital, memiliki sesuatu yang fisik dan permanen terasa sangat berharga. Buku tidak akan hilang kalau sinyal internet mati, dan buku tidak akan terhapus kalau kita lupa membayar biaya langganan bulanan.

Mengoleksi buku adalah cara kita merayakan pemikiran manusia. Ia adalah bukti bahwa di tengah hiruk-pikuk teknologi, kita masih menghargai hal-hal yang bersifat organik dan membutuhkan waktu untuk dinikmati. Jadi, buat kamu yang masih suka diprotes orang tua atau pasangan karena rak buku sudah hampir jebol, tenang saja. Kamu tidak sedang menumpuk sampah kertas, kamu sedang membangun perpustakaan pribadi yang berisi fragmen-fragmen ilmu dan kenangan. Lagipula, apalah artinya ruangan yang luas kalau tidak ada aroma kertas di dalamnya?


Kebiasaan mengoleksi buku hanyalah satu bagian dari budaya membaca yang terus berkembang. Untuk memahami gambaran yang lebih luas, kunjungi artikel utama "Mengapa Membaca Buku Masih Penting di Tengah Gempuran Konten Digital?"

Baca juga:Membaca Sebelum Tidur: Kebiasaan Sederhana yang Punya Banyak Manfaat untuk mengetahui bagaimana kebiasaan membaca secara rutin dapat memberikan dampak positif bagi kualitas istirahat dan keseharian.

Popular Article
Logo Radio
🔴 Radio Live