Mengapa Lari Bisa Bikin Kecanduan Layaknya Obat Penenang?
Refa - Monday, 15 December 2025 | 02:10 AM


Minggu pagi di kawasan Car Free Day atau stadion olahraga kini makin sesak. Ribuan orang rela bangun subuh, menahan napas yang tersengal-sengal, dan membiarkan kaki pegal linu demi berlari beberapa kilometer.
Bagi yang belum pernah mencobanya, fenomena ini mungkin terlihat aneh. Mengapa orang rela menyiksa diri? Apa untungnya berlelah-lelah seperti itu?
Jawabannya bukan sekadar ingin kurus atau sehat. Ada rahasia biologis di balik keringat itu. Para pelari ini sebenarnya sedang mengejar sebuah sensasi euforia misterius yang disebut "Runner’s High".
Mabuk Alami Tanpa Obat
Runner's High adalah kondisi psikologis di mana rasa sakit dan lelah tiba-tiba hilang setelah berlari dalam durasi tertentu, digantikan oleh perasaan bahagia yang meluap-luap, tenang, dan sangat positif.
Dulu, ilmuwan menduga ini adalah ulah hormon endorfin. Hormon ini memang pereda nyeri alami tubuh yang kerjanya mirip morfin. Namun, studi terbaru menemukan fakta yang lebih mengejutkan. Endorfin memiliki molekul yang terlalu besar untuk menembus "pagar" otak (blood-brain barrier) dengan cepat.
Ternyata, aktor utamanya adalah Endocannabinoid. Sesuai namanya, zat kimia alami yang diproduksi tubuh ini memiliki struktur yang sangat mirip dengan cannabis (ganja). Bedanya, ini diproduksi secara natural oleh tubuh manusia.
Saat detak jantung meningkat dan tubuh mengalami stres fisik akibat lari jarak jauh, otak membanjiri sistem saraf dengan zat ini. Hasilnya? Rasa cemas hilang, nyeri otot mereda, dan timbul perasaan "melayang" yang damai. Singkatnya, lari adalah cara tubuh untuk "mabuk" secara legal dan sehat.
Warisan Nenek Moyang Pemburu
Kenapa tubuh manusia dirancang untuk menyukai lari? Jawabannya ada pada evolusi.
Ribuan tahun lalu, nenek moyang manusia bertahan hidup dengan metode Persistence Hunting (berburu dengan ketahanan). Manusia purba tidak punya taring tajam atau lari secepat cheetah. Senjata utama manusia adalah kemampuan berlari mengejar mangsa selama berjam-jam tanpa henti sampai mangsanya kelelahan.
Agar manusia purba tidak menyerah di tengah jalan saat mengejar rusa, otak berevolusi memberikan "hadiah" berupa rasa nyaman (painkiller) saat tubuh mulai lelah. Runner's High adalah mekanisme pertahanan hidup agar manusia kuat berlari jauh demi mendapatkan makanan.
Lebih Dari Sekadar Fisik
Itulah sebabnya bagi banyak orang, lari bukan lagi soal membakar kalori, melainkan terapi mental.
Saat stres pekerjaan menumpuk atau hati sedang kacau, berlari menjadi tombol reset yang ampuh. Langkah kaki yang repetitif menjadi bentuk meditasi bergerak (moving meditation). Ketika zat kimia otak itu bekerja, masalah hidup terasa lebih ringan dan solusi sering kali muncul begitu saja di tengah lintasan lari.
Jadi, jika melihat teman yang seolah tak bisa hidup tanpa lari, ketahuilah bahwa mereka bukan sedang pamer. Mereka hanya sedang menikmati "obat penenang" terbaik yang diracik sendiri oleh tubuh mereka.
Next News

Start Keras di Awal Tahun, Pembuktian Mental Juara Wakil Indonesia di India Open
a day ago

Evaluasi Langkah Aldila Sutjiadi di Hobart International 2026
a day ago

John Herdman Resmi Nakhodai Timnas Indonesia
2 days ago

Belajar dari Kekalahan Jonatan Christie: Ketika Kesabaran Menjadi Senjata Paling Mematikan di Lapangan
4 days ago

Menutup Paruh Musim dengan Manis dan Menjaga Asa Juara Bajul Ijo
4 days ago

Bukannya Sehat, Banyak Pemula Justru Cedera Gara-Gara 5 Kesalahan Ini
5 days ago

Masih Ngaku Nggak Punya Waktu Olahraga? Coba 5 Gerakan Ini di Kamar
5 days ago

Mimpi Buruk London Utara dan Lubang Menganga di Lini Serang The Lilywhites
6 days ago

Bukan Pelatih, Ini Peran yang Dipilih Messi Setelah Pensiun
7 days ago

Membangun Mentalitas Juara Lewat Tangan Dingin John Herdman di Timnas Indonesia
7 days ago






