Ceritra
Ceritra Update

Membaca Sebelum Tidur: Kebiasaan Sederhana yang Punya Banyak Manfaat

Shannon - Saturday, 18 July 2026 | 02:00 PM

Background
Membaca Sebelum Tidur: Kebiasaan Sederhana yang Punya Banyak Manfaat
(Healthline/)

Selamat Tinggal Doomscrolling, Halo Dunia Imajinasi: Kenapa Baca Buku Sebelum Tidur Itu 'Koentji'

Mari kita jujur-jujuran saja. Apa hal terakhir yang kamu lihat sebelum memejamkan mata semalam? Kemungkinan besar jawabannya bukan wajah pasangan atau langit-langit kamar yang puitis, melainkan layar smartphone yang sinarnya lebih terang dari masa depan. Kita semua terjebak dalam ritual yang namanya doomscrolling—sebuah kegiatan ajaib di mana kita niatnya cuma mau ngecek jam, tapi malah berakhir menonton video tutorial masak nasi goreng di jam dua pagi atau scrolling thread horor di Twitter sampai merinding sendiri.

Padahal, ada satu kebiasaan lama yang sering dianggap membosankan atau terlalu 'skena', padahal manfaatnya gila-gilaan. Ya, apalagi kalau bukan membaca buku sebelum tidur. Kedengarannya memang sangat kuno, mirip hobi kakek-nenek kita sebelum televisi warna ditemukan. Tapi percaya deh, di tengah gempuran distraksi digital yang bikin otak kita kayak digoreng tanpa minyak, balik ke lembaran kertas (atau e-reader tanpa backlight biru) adalah bentuk self-care paling murah dan masuk akal.

Obat Mujarab Buat Otak yang Lagi 'Overheat'

Pernah nggak sih ngerasa badan udah capek banget, tapi otak masih lari marathon? Itu namanya cortisol alias hormon stres lagi tinggi-tingginya. Nah, membaca buku itu ibarat menekan tombol 'refresh' atau 'cool down' buat mesin otak kita. Menurut penelitian dari University of Sussex, membaca selama enam menit saja sudah cukup buat menurunkan tingkat stres sampai 68 persen. Angka ini bahkan lebih efektif daripada dengerin musik atau jalan-jalan sore.

Kenapa bisa gitu? Karena saat membaca, otak kita diajak untuk fokus pada satu alur cerita. Kita nggak dipaksa untuk multitasking seperti saat main media sosial yang isinya gado-gado—habis lihat berita duka, langsung lihat meme lucu, terus lanjut lihat iklan skincare. Lonjakan emosi yang terlalu cepat itu yang bikin otak kita capek. Dengan membaca, ritme jantung kita jadi lebih stabil, otot-otot yang tegang karena seharian duduk di depan laptop pelan-pelan mulai rileks. Vibes-nya tuh beneran kayak lagi pelan-pelan pak supir, nggak usah buru-buru.

Kualitas Tidur yang Bukan Sekadar 'Merem'

Masalah terbesar kita hari ini adalah cahaya biru atau blue light dari layar gadget. Cahaya ini jahat banget karena dia menipu otak kita biar mikir kalau hari masih siang. Akibatnya, produksi melatonin—hormon yang bikin kita ngantuk—jadi terhambat. Ujung-ujungnya kita kena insomnia, atau kalaupun tidur, bangun-bangun rasanya tetep capek kayak habis digebukin massa.

Membaca buku fisik atau perangkat Kindle tanpa blue light adalah solusi yang paling berfaedah. Saat mata kita menyisir baris demi baris kalimat, ada efek hipnotis natural yang muncul. Pernah kan ngerasa mata berat banget pas lagi baca buku pelajaran zaman sekolah? Nah, mekanisme itu sebenarnya bisa kita manfaatkan buat buku fiksi yang kita suka. Alih-alih dipaksa melek sama algoritma TikTok, kita membiarkan tubuh kita sadar secara alami kalau sudah waktunya istirahat.

Menambah Stok Empati dan Kosa Kata (Biar Nggak 'Anu' Terus)

Selain urusan kesehatan fisik dan mental, membaca sebelum tidur itu investasi buat kapasitas otak kita. Kalau kita sering baca fiksi, kita sebenarnya lagi belajar jadi manusia yang lebih baik. Kok bisa? Karena fiksi memaksa kita buat masuk ke kepala orang lain, ngerasain apa yang tokoh itu rasain, dan paham kenapa dia ngambil keputusan tertentu. Ini yang namanya melatih empati. Di dunia yang isinya orang saling hujat di kolom komentar, punya stok empati lebih itu adalah sebuah kemewahan.

Belum lagi soal kosa kata. Jujurly, sering nggak sih kita mau ngomong sesuatu tapi cuma mentok di kata "anu" atau "itu lho yang gitu-gitu"? Membaca memperkaya diksi kita. Tanpa sadar, cara kita bicara dan menulis bakal jadi lebih rapi dan berbobot. Bukan buat gaya-gayaan jadi anak senja yang ngomongnya puitis di kedai kopi, tapi lebih ke biar kita bisa mengekspresikan perasaan dengan lebih akurat saja.

Gimana Caranya Biar Nggak Jadi Wacana?

Masalah utama dari memulai hobi baru adalah ekspektasi yang ketinggian. Jangan langsung beli buku filsafat setebal bantal yang bahasanya bikin mengkerutkan dahi kalau kamu biasanya cuma baca caption Instagram. Mulai saja dari yang ringan. Novel detektif, kumpulan cerpen, atau mungkin komik grafis yang visualnya cakep. Tujuannya adalah biar kamu enjoy dulu, bukan biar kelihatan pinter.

Taruh bukunya tepat di atas bantal atau nakas. Jauhkan charger HP dari jangkauan tangan biar kamu nggak gatel pengen ngecek notifikasi. Kasih waktu 15 sampai 30 menit saja sebelum tidur. Kalau di tengah jalan kamu ketiduran? Ya bagus! Berarti bukunya bekerja dengan sangat baik sebagai pengantar tidur.

Pada akhirnya, membaca sebelum tidur adalah cara kita buat menghargai diri sendiri. Ini adalah waktu di mana dunia nggak bisa ganggu kita. Nggak ada notifikasi WhatsApp dari bos, nggak ada kabar mantan yang tiba-tiba tunangan, dan nggak ada drama politik yang bikin darah tinggi. Cuma ada kamu dan cerita di tanganmu. Jadi, malam ini, mau coba simpan HP-nya sebentar dan buka halaman pertama?

Percayalah, besok pagi otak kamu bakal berterima kasih banget. Tidur nyenyak, mimpi indah, dan bangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Jadi, selamat membaca dan selamat bermimpi!


Membiasakan diri membaca setiap hari menjadi salah satu cara menjaga hubungan dengan buku di tengah derasnya konten digital. Temukan pembahasan lengkapnya dalam artikel utama "Mengapa Membaca Buku Masih Penting di Tengah Gempuran Konten Digital?"

Baca juga:Book Slump: Mengenal Fase Saat Membaca Tak Lagi Terasa Menyenangkan untuk memahami mengapa sebagian orang terkadang kehilangan semangat membaca dan bagaimana menghadapinya.

Popular Article
Logo Radio
🔴 Radio Live