Lebih dari Kalah: MU Dipermalukan 10 Pemain Everton
Nuryadi - Tuesday, 25 November 2025 | 02:25 PM


Manchester United dan Kutukan 10 Pemain: Kalah Kok Ya Gitu Amat!
Ada beberapa kekalahan yang menyakitkan. Ada yang memalukan. Dan kemudian, ada kekalahan Manchester United dari Everton di Liga Inggris yang satu ini. Kekalahan yang bukan sekadar menyakitkan atau memalukan, tapi juga bikin kita bertanya-tanya, "Ini sebenarnya yang main bola siapa sih?" Bayangkan saja, sebuah tim sebesar Manchester United, dengan segala sejarah dan reputasinya, bisa-bisanya terkapar di tangan Everton yang notabene bermain dengan sepuluh pemain. Iya, Anda tidak salah baca: SEPULUH PEMAIN. Rasanya seperti dapat hadiah liburan ke Bali, tapi malah berakhir nyasar di Bekasi. Nyesek!
Pertandingan ini awalnya diharapkan jadi ajang kebangkitan atau setidaknya pembuktian bagi Setan Merah. Di atas kertas, Everton bukanlah lawan yang tak terkalahkan, apalagi jika melihat inkonsistensi mereka sendiri yang juga sering bikin pusing kepala fansnya. Fans Manchester United, seperti biasa, datang ke stadion atau nongkrong di depan televisi dengan dada membuncit penuh optimisme. "Ini saatnya kita pamer," mungkin begitu batin mereka. Apalagi, posisi di klasemen juga lagi genting-gentingnya, setiap poin itu berharga mahal kayak berlian di cincin tunangan.
Namun, di lapangan hijau, narasi yang dibangun fans itu perlahan ambyar. Sejak menit awal, ada aura yang beda. Everton bermain lebih ngotot, lebih berani, seolah mereka yang sedang mengejar gelar juara, bukan Manchester United yang lagi ngarep masuk zona Eropa. Sementara itu, pasukan Manchester United terlihat seperti anak kuliahan yang lagi skripsi: bingung, tertekan, dan sering salah arah. Bola-bola yang dilepas rasanya kurang greget, serangan yang dibangun pun seperti jalan tol yang tiba-tiba mentok di perempatan lampu merah. Hasilnya? Gawang Manchester United kebobolan. Sebuah gol yang tak terhindarkan, yang seolah jadi wake-up call dini bagi para punggawa Setan Merah.
Belum sempat benar-benar mencerna ketertinggalan, momen krusial itu datang. Salah satu pemain Everton diganjar kartu merah. Wasit tanpa ampun mengeluarkan kartu yang warnanya secerah tomat itu. Seketika, stadion bergemuruh. Fans Everton terdiam, mungkin sambil mengumpat dalam hati. Tapi fans Manchester United? Wah, ini dia! Angin segar berhembus kencang. Harapan kembali membuncah. "Nah kan! Ini dia kesempatan emasnya!" pikir banyak orang. Lawan bermain dengan sepuluh orang? Harusnya ini jadi momen untuk membalikkan keadaan, atau setidaknya menyamakan kedudukan dan mengamankan satu poin.
Logika sepak bola mengatakan, bermain dengan keunggulan jumlah pemain itu adalah keuntungan luar biasa. Lapangan terasa lebih lebar, ruang gerak lebih banyak, opsi operan juga bertambah. Seharusnya, tim yang unggul jumlah pemain bisa mendominasi total, mengurung lawan, dan melancarkan serangan bergelombang sampai gawang lawan jebol. Tapi apa yang terjadi dengan Manchester United? Alih-alih memanfaatkan keuntungan ini, mereka malah terlihat seperti kehilangan arah. Keunggulan satu pemain seolah tak berarti. Mereka tampak limbung, bingung harus berbuat apa dengan ruang dan waktu yang seharusnya jadi milik mereka. Seperti dapat hadiah mainan baru, tapi enggak tahu cara ngidupinnya.
Everton, di sisi lain, menunjukkan mental baja yang patut diacungi jempol, bahkan mungkin harus dipasang poster di ruang ganti Manchester United. Bermain dengan sepuluh orang justru membuat mereka semakin solid. Mereka menutup ruang rapat-rapat, bertahan dengan disiplin tingkat dewa, dan sesekali melancarkan serangan balik yang mengancam. Ibarat orang yang sedang terdesak, mereka justru menemukan kekuatan ekstra. Mereka ogah rugi, ogah menyerah. Sementara Manchester United, yang seharusnya jadi predator yang siap menerkam, malah terlihat seperti kelinci percobaan yang kebingungan di laboratorium.
Serangan demi serangan Manchester United terasa hambar. Umpan-umpan silang ke kotak penalti seolah hanya jadi buangan percuma, tanpa ada ujung tombak yang siap menyambut. Tembakan-tembakan dari luar kotak pun banyak yang melenceng atau mudah ditangkap kiper seolah cuma tendangan persahabatan. Tidak ada kreativitas yang meletup, tidak ada ide-ide brilian yang mampu memecah kebuntuan pertahanan Everton yang rapat seperti benteng Takeshi. Yang ada hanya frustrasi yang terpancar dari wajah para pemain, yang seolah sudah "kena mental" melihat lawan yang bermain dengan sepuluh orang tapi malah jadi semakin tangguh.
Sebuah Cermin Buram Kondisi Manchester United
Kekalahan ini bukan cuma sekadar tiga poin yang hilang dari kantong. Ini adalah cermin buram yang menunjukkan kondisi internal Manchester United yang sebenarnya. Ini bukan lagi soal taktik semata, tapi juga mentalitas. Bagaimana mungkin tim dengan reputasi dan sumber daya sebesar mereka tidak bisa mengatasi lawan yang secara jumlah pemain sudah inferior? Ini adalah PR besar, bukan cuma bagi pelatih, tapi bagi seluruh elemen klub. Apakah para pemain sudah kehilangan gairah dan motivasi? Apakah strategi yang diterapkan sudah tidak mempan? Atau jangan-jangan, mereka memang sedang dalam fase di mana mental juara itu entah pergi ke mana?
Di era sepak bola modern, kita memang sering melihat tim yang bermain dengan sepuluh pemain justru bisa tampil heroik dan meraih hasil tak terduga. Namun, itu biasanya terjadi karena lawan mereka juga bermain imbang secara kualitas. Tapi ini Manchester United, kawan! Tim yang seharusnya punya kualitas mumpuni di setiap lininya, bahkan bisa dibilang levelnya jauh di atas Everton. Kegagalan memanfaatkan keuntungan jumlah pemain ini seperti tamparan keras yang membangkitkan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang arah klub. Ada apa sebenarnya di Old Trafford?
Reaksi fans tentu saja beragam, mulai dari kekecewaan mendalam hingga rasa malu yang tak tertahankan. Media sosial pasti riuh rendah dengan hujatan, meme, dan sindiran yang pedas. Bagi para pendukung setia, kekalahan ini seperti mengulang kaset lama yang sering diputar dalam beberapa musim terakhir: inkonsistensi, harapan palsu, dan performa yang jauh di bawah standar. Mereka sudah lelah disuguhi drama yang sama. Ini bukan lagi soal kalah terhormat, ini soal kalah dengan "gaya" yang bikin gemes dan ingin menjambak rambut sendiri saking frustrasinya.
Pertandingan melawan Everton ini akan tercatat dalam sejarah kelam Manchester United, bukan hanya karena kalah, tetapi karena cara kekalahannya yang sungguh di luar nalar. Ini adalah pengingat bahwa nama besar dan sejarah panjang tidak selalu menjamin kemenangan, terutama jika mentalitas dan performa di lapangan tidak sejalan. Mungkin, ini adalah saatnya bagi Manchester United untuk berkaca lebih dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya salah, dan berbenah dari fondasi. Karena kalau terus-terusan begini, mungkin gelar "raja keanehan" akan lebih cocok disematkan daripada "Setan Merah" yang gagah perkasa.
Kita tunggu saja, apakah kekalahan memalukan ini akan menjadi titik balik yang memicu perubahan besar dan radikal, atau justru hanya menjadi episode lain dalam saga panjang inkonsistensi yang melelahkan. Semoga saja, ada hikmah di balik kekalahan yang bikin geregetan ini. Kalau tidak, siap-siap saja untuk lebih sering garuk-garuk kepala di pertandingan berikutnya.
Sumber Foto : Antaranews.com
Next News

Anti-Numpang! Raket Padel Terbaik untuk Pemula
4 days ago

Persebaya: Pasang Surut Kebanggaan Warga Surabaya
6 days ago

PERSEBAYA Putus Kerjasama dengan Coach Edu
7 days ago

Lima Negara Eropa Tambah Daftar, Total 39 Tim Pastikan Tiket ke Piala Dunia 2026
11 days ago

Resmi! Luca Zidane Bela Aljazair, Bukan Prancis.
12 days ago

Kobbie Mainoo bertahan atau hengkang?
13 days ago

Persebaya Pincang Jelang Derbi: Rivera dan Leo Lelis Absen Lawan Arema di GBT
14 days ago

Garuda Muda Gagal Tembus Pertahanan Mali: Timnas U-22 Digempur 0-3 di Bogor
15 days ago

Norwegia Guncang San Siro, Hajar Italia 4-1 dan Akhiri Penantian 28 Tahun ke Piala Dunia
13 days ago

Portugal Pesta Gol 9-1 ke Armenia, Duel Hattrick Membawa Tiket ke Piala Dunia
13 days ago






