Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Kita Malas Cari Musik Baru dan Pilih Lagu Itu Saja?

Nisrina - Saturday, 28 March 2026 | 07:15 PM

Background
Kenapa Kita Malas Cari Musik Baru dan Pilih Lagu Itu Saja?

Coba cek Spotify Wrapped atau rangkuman musik tahunan kamu. Pasti ada satu lagu yang jumlah putarnya nggak masuk akal, kan? Bisa ratusan, bahkan ribuan kali. Padahal, kalau dipikir-pikir, dunia ini punya jutaan lagu baru yang rilis tiap harinya. Tapi entah kenapa, jempol kita rasanya otomatis ngeklik tombol loop atau replay di lagu yang itu-itu saja. Apakah kita sedang malas nyari suasana baru, atau memang ada "sihir" tertentu yang bikin otak kita kecanduan?

Fenomena ini sebenarnya nggak cuma terjadi sama kamu doang. Hampir semua orang pernah ada di fase "kerasukan" satu lagu tertentu. Rasanya kayak lagi jatuh cinta; bangun tidur yang dicari dia, mau tidur yang didengerin dia juga. Mari kita bedah pelan-pelan kenapa perilaku yang kelihatannya membosankan ini justru jadi aktivitas favorit otak kita.

Efek Akrab yang Bikin Nyaman (Mere Exposure Effect)

Dalam dunia psikologi, ada istilah keren namanya Mere Exposure Effect. Intinya sederhana: manusia itu cenderung menyukai sesuatu hanya karena mereka sudah sering terpapar hal tersebut. Semakin sering kita dengerin sebuah lagu, semakin akrab telinga kita sama melodinya, dan semakin suka pula kita sama lagu itu.

Otak kita itu, sejujurnya, agak pemalas. Memproses informasi baru—seperti dengerin lagu genre eksperimental yang strukturnya berantakan—itu butuh energi besar. Nah, pas kita dengerin lagu yang sudah kita hafal luar dalam, otak nggak perlu kerja keras lagi. Kita sudah tahu kapan drumnya bakal masuk, kapan penyanyinya bakal ambil nada tinggi, dan kapan bagian reff-nya bikin merinding. Rasa "tahu duluan" ini memberikan sensasi kendali dan kenyamanan yang luar biasa. Ibaratnya kayak pulang ke rumah setelah seharian capek di luar; rasanya aman dan nggak perlu jaim.

Antisipasi dan Ledakan Dopamin

Pernah nggak kamu nungguin bagian drop di lagu EDM atau bagian harmonisasi vokal yang paling klimaks? Pas bagian itu akhirnya muncul, rasanya ada sesuatu yang meledak di dada. Nah, itulah kerjaan dopamin, zat kimia di otak yang bertanggung jawab atas rasa senang.

Menariknya, kepuasan terbesar saat dengerin musik bukan pas bagian enak itu datang, tapi pas kita lagi menunggu bagian itu datang. Karena kita dengerin lagu itu berulang kali, kita jadi tahu persis di detik ke berapa klimaksnya bakal muncul. Otak kita melakukan antisipasi, dan ketika prediksi kita tepat, otak menghadiahi kita dengan siraman dopamin. Jadi, mendengarkan lagu secara berulang itu sebenarnya adalah cara kita "nge-drug" secara legal lewat telinga.

Musik sebagai Mesin Waktu Emosional

Kadang, kita dengerin lagu berulang-ulang bukan karena melodinya doang yang enak, tapi karena ada kenangan yang nempel di sana. Musik itu kayak pengait memori yang paling kuat. Satu lagu bisa membawa kita balik ke zaman SMA, ke momen putus cinta yang paling dramatis, atau ke masa-masa liburan bareng temen yang nggak terlupakan.

Dengerin lagu lama secara berulang adalah cara kita merawat nostalgia. Di tengah hidup yang makin kacau dan nggak pasti, lagu-lagu lama ini jadi semacam tempat perlindungan. Kita pengen ngerasain lagi emosi yang ada di masa lalu itu. Makanya, jangan heran kalau pas lagi galau, lagu yang diputar ya itu-itu saja. Kita bukan cuma dengerin musik, kita lagi berusaha memvalidasi perasaan kita sendiri lewat lirik dan nada yang sudah terbukti ampuh bikin kita merasa "dimengerti".

Virtual Hug dan Katarsis

Banyak orang yang dengerin lagu sedih secara berulang-ulang pas mereka lagi sedih. Kedengarannya masokis, ya? Sudah tahu sedih malah makin digalau-galauin. Tapi ternyata, menurut riset, musik sedih yang diputar berulang bisa memberikan efek katarsis atau pelepasan emosi.

Musik bertindak sebagai "teman virtual" yang seolah-olah bilang, "Iya, gue tahu perasaan lo, emang sakit banget kok." Pengulangan ini membantu kita memproses emosi yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Sampai akhirnya, pada putaran ke-50, rasa sesak di dada mulai berkurang dan kita merasa lebih plong. Jadi, mendengarkan lagu berulang itu bisa jadi terapi mandiri yang paling murah meriah.

Kebutuhan Fokus di Tengah Kebisingan

Selain faktor emosional, ada juga alasan praktis. Banyak orang sengaja muter satu lagu yang sama selama berjam-jam pas lagi kerja atau ngerjain tugas. Kenapa? Biar nggak gampang terdistraksi. Kalau kita dengerin lagu baru atau playlist yang ganti-ganti, otak kita bakal terus-terusan bereaksi sama input suara yang asing. Akhirnya, fokus kerja malah pecah.

Sebaliknya, kalau lagunya itu-itu saja, suara musik itu bakal berubah jadi white noise. Otak kita sudah hafal polanya, jadi dia nggak bakal kaget atau teralihkan. Musik tersebut jadi semacam "tembok pelindung" yang nutupin suara bising dari luar, bikin kita bisa masuk ke kondisi flow atau fokus total. Istilahnya, lagu itu jadi latar belakang yang stabil buat pikiran kita yang lagi lari ke mana-mana.

Jangan Malu Jadi Si Tukang Replay

Jadi, kalau ada temen atau pacar yang komplain, "Nggak bosen apa dengerin itu mulu?", kamu bisa jawab dengan tenang kalau kamu lagi ngasih "makan" buat otak kamu. Mendengarkan musik secara repetitif itu manusiawi banget. Itu adalah cara kita mencari kenyamanan, merayakan emosi, dan mengapresiasi keindahan sebuah karya sampai ke sel-sel terkecilnya.

Nggak ada yang salah dengan jadi seorang "repeater". Selama lagu itu masih bisa bikin kamu semangat, tenang, atau bahkan nangis bombay untuk kesekian kalinya, ya putar terus saja. Lagipula, di dunia yang serba cepat dan berubah-ubah ini, punya satu lagu yang tetap konsisten menemani kita itu adalah sebuah kemewahan yang sederhana. Jadi, sudah siap klik tombol replay lagi hari ini?

Tags

musik
Logo Radio
🔴 Radio Live