

Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara: Bukan Sekadar Gelar, Tapi Panggilan untuk Jagad Nusantara
Dunia kampus, identik dengan diskusi yang berapi-api, idealisme yang membuncah, dan tentu saja, secangkir kopi saset di tengah tumpukan tugas yang tak ada habisnya. Tapi, di balik hiruk-pikuk itu, ada satu panggilan yang mungkin lebih berat dari skripsi revisi ke-sekian: menjaga keutuhan bangsa dari gerusan paham-paham yang bikin hati geger dan pikiran sumpek. Nah, Kementerian Agama (Kemenag) sepertinya peka betul dengan kondisi ini, sampai-sampai mereka punya jurus jitu untuk mengawal isu krusial ini. Bukan dengan paksaan, bukan dengan doktrin yang kaku, melainkan dengan melibatkan langsung para ‘motor’ utama perubahan: mahasiswa!
Baru-baru ini, jagad pendidikan keagamaan kita diberi angin segar dengan dikukuhkannya Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Moderasi Beragama dan Bela Negara (PMMBN). Ini bukan perkumpulan arisan kampus biasa, lho. Kemenag, melalui inisiatif ini, secara gamblang menyatakan perang terhadap bibit-bibit radikalisme dan intoleransi yang kadang tanpa sadar menyusup lewat obrolan warung kopi sampai unggahan status di media sosial. Dan pilihan mereka untuk menunjuk mahasiswa, khususnya dari Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), sebagai garda terdepan? Itu keputusan yang patut diacungi jempol, banget!
Kenapa mahasiswa? Jujur saja, siapa lagi yang punya energi sebesar mereka? Mereka adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah gelombang informasi yang tak berujung, yang akrab dengan media sosial, dan yang punya suara lantang untuk menyuarakan apa yang mereka yakini benar. Ibaratnya, kalau ada kapal yang mau oleng karena badai polarisasi, mahasiswa inilah yang Kemenag harapkan jadi nahkoda atau setidaknya, jadi awak kapal yang sigap merapatkan barisan. Mereka bukan cuma diajak ikut-ikutan, tapi didapuk sebagai driver utama dalam menyosialisasikan dan mengimplementasikan moderasi beragama serta bela negara. Bukan cuma wacana, tapi aksi nyata!
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Bapak Muhammad Ali Ramdhani, dengan lugas menekankan peran strategis mahasiswa. Beliau bilang, mahasiswa itu agen perubahan dan calon pemimpin bangsa. Jadi, siapa lagi kalau bukan mereka yang harus membentengi diri dan lingkungan sekitar dari paham radikalisme yang bikin pecah belah dan intoleransi yang bikin hati panas? Pernah nggak sih kita mikir, kok bisa ya, di era serba modern ini, masih ada saja yang sibuk memperdebatkan perbedaan sampai lupa esensi persatuan? Nah, di sinilah PMMBN hadir, bak oase di tengah gurun kegersangan toleransi.
Bicara soal moderasi beragama, ini bukan berarti jadi ‘setengah-setengah’ dalam beragama, ya. Jauh panggang dari api! Moderasi beragama itu tentang bagaimana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan adil, seimbang, dan tidak ekstrem. Menghargai perbedaan, menolak kekerasan atas nama agama, dan membuka diri terhadap dialog adalah inti utamanya. Bayangkan, betapa indahnya kalau di kampus-kampus kita, diskusi tentang perbedaan itu jadi ajang memperkaya wawasan, bukan malah adu argumen yang berujung sakit hati. PMMBN diharapkan jadi jembatan untuk menciptakan vibes kampus yang seperti itu: adem, toleran, dan bikin betah belajar.
Kemudian ada aspek ‘Bela Negara’. Ini bukan cuma soal angkat senjata atau ikut wajib militer (meskipun itu juga penting, sih). Bela negara dalam konteks mahasiswa dan PMMBN ini jauh lebih luas dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara, mengkampanyekan Bhinneka Tunggal Ika sebagai roh persatuan, dan menjaga kerukunan antarumat beragama itu sendiri adalah bentuk bela negara yang paling konkret di era sekarang. Ketika mahasiswa berani menyuarakan kebenaran, menolak hoaks yang memecah belah, dan aktif dalam kegiatan sosial yang merajut kebersamaan, mereka sejatinya sedang membela negara dengan cara yang paling fundamental.
Coba kita renungkan, tantangan di era digital ini bukan main-main. Informasi bergerak secepat kilat, dan tidak semua informasi itu sehat. Banyak sekali provokasi, narasi kebencian, bahkan ajakan-ajakan untuk membenci yang beda, berseliweran di media sosial. Nah, PMMBN ini punya PR besar untuk jadi ‘filter’ dan ‘penyeimbang’ di jagad maya. Dengan kampanye-kampanye yang kreatif, edukatif, dan pastinya relatable dengan gaya anak muda, PMMBN bisa jadi benteng pertahanan digital kita. Mereka bisa membuktikan bahwa menyuarakan kebaikan itu juga bisa keren, bisa viral, dan bisa menginspirasi banyak orang.
Perhimpunan ini juga diharapkan bisa membangun jejaring yang kuat di antara mahasiswa dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Dengan begitu, mereka tidak hanya paham konsep moderasi beragama dan bela negara di tataran teori, tapi juga bisa merasakan dan mengaplikasikannya dalam interaksi sehari-hari. Dari diskusi ringan di kantin, program kerja yang melibatkan komunitas, sampai acara besar yang mengusung tema persatuan, PMMBN punya potensi untuk jadi agen perubahan yang benar-benar transformatif. Ini bukan cuma tentang kumpul-kumpul pengurus, tapi tentang bagaimana mereka bisa menggerakkan ribuan mahasiswa lain untuk punya kesadaran yang sama.
Melihat potensi PMMBN ini, Kemenag tampaknya tidak main-main. Mereka percaya bahwa investasi pada generasi muda adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa. Melalui PMMBN, mahasiswa PTKN diberi panggung, diberi mandat, dan diberi kepercayaan penuh untuk menjadi pionir dalam merawat keberagaman dan menguatkan nasionalisme. Ini semacam amanah yang besar, namun sekaligus kesempatan emas bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa mereka bukan cuma generasi ‘rebahan’ yang cuma sibuk dengan gawai, melainkan generasi yang peduli, bergerak, dan punya visi besar untuk Indonesia.
Jadi, ke depannya, jangan kaget kalau tiba-tiba di linimasa media sosialmu muncul konten-konten keren dari PMMBN yang mengajak kita untuk lebih santuy dalam beragama, lebih toleran dalam berinteraksi, dan lebih bangga menjadi bagian dari Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika. Ini bukan lagi sekadar program pemerintah yang formal dan kaku, tapi sebuah gerakan yang tumbuh dari idealisme mahasiswa, didukung penuh oleh Kemenag, untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi rumah yang nyaman bagi siapa saja, tanpa terkecuali. Semoga PMMBN bisa gaspol menjalankan misinya dan bikin Indonesia makin adem!
Next News

Tak Punya Pohon Kakao, Tapi Swiss Jadi Raja Cokelat Dunia, Ini Rahasianya
in 2 hours

Di Balik Keputusan Elon Musk Membungkam Sisi Liar Grok
9 minutes ago

Strategi Evelyn Afnilia Membidik Momen Emas Lebaran 2026 Lewat 'Tunggu Aku Sukses Nanti'
39 minutes ago

FIX! Jakarta Masuk Daftar, BTS Resmi Gelar Tur Dunia 2026!
an hour ago

Kim Hye Yoon dan Park Solomon Hadirkan Romansa Fantasi Segar dalam 'No Tail to Tell'
3 hours ago

Selamat Tinggal Konten Toxic! Fitur Reset Instagram Ini Jadi Penyelamat Mental Health Kamu
5 hours ago

Donald Trump Mau Beli Greenland, NATO Diancam Bubar: Emangnya Ini Jual Beli Tanah Kavling di Citayam?
4 hours ago

Awas Tertipu! Video dari Google Veo 3.1 Saking Realistisnya Sampai Butuh Tanda Khusus
7 hours ago

Era Baru TikTok Shop 2026, Awas Kerkun 'Shadowban Duit'!
a day ago

Bangkit dari Sorotan Miring, Go Min Si Siap Mengguncang Bioskop Lewat Film 'Moral Family'
a day ago





