Ceritra
Ceritra Teknologi

Google Mulai Ditinggalkan, TikTok Jadi Referensi Utama Anak Muda

Shannon - Wednesday, 03 June 2026 | 02:00 PM

Background
Google Mulai Ditinggalkan, TikTok Jadi Referensi Utama Anak Muda
(fox business/)

Selamat Tinggal Mbah Google, Halo Algoritma TikTok: Alasan Kenapa Gen Z Malas Browsing Lagi

Dulu, kalau kita bingung cari tempat makan yang enak atau cara benerin kran bocor, kalimat sakti yang keluar adalah "Coba tanya Mbah Google." Google adalah tuhan kecil bagi siapa saja yang butuh jawaban cepat. Tapi sekarang, zaman sudah bergeser. Bagi anak-anak Gen Z, Google mulai terasa seperti perpustakaan tua yang berdebu—lengkap sih, tapi ribet nyarinya. Sekarang, tongkrongan utama untuk cari info sudah pindah ke TikTok.

Kalau kamu perhatikan di kafe-kafe atau di angkutan umum, anak muda nggak lagi ngetik kata kunci panjang di kolom pencarian Chrome. Mereka lebih luwes jempolnya menari di kolom pencarian TikTok. Kenapa? Karena di TikTok, jawaban yang mereka cari bukan cuma teks membosankan atau link-link berita yang isinya kebanyakan iklan. Di sana, jawaban itu bentuknya visual, nyata, dan yang paling penting: ada "vibes"-nya.

Visual adalah Koentji: Capek Baca, Maunya Lihat Langsung

Mari jujur-jujuran, membaca artikel sepanjang 1.000 kata cuma buat tahu cara pakai skincare itu melelahkan banget buat generasi yang dibesarkan dengan durasi perhatian sesingkat video Reels. Gen Z itu lebih suka gaya "satset". Kalau mereka cari rekomendasi lipstik, mereka nggak mau baca deskripsi warna "mauve dengan sentuhan undertone cool". Mereka mau lihat langsung lipstik itu diolesin ke bibir orang yang warna kulitnya mirip mereka.

Inilah yang bikin TikTok menang telak. Algoritmanya luar biasa pintar menyajikan apa yang kita butuhkan tanpa kita harus capek memfilter sendiri. Mencari resep seblak di Google mungkin akan membawamu ke blog masak yang isinya curhatan panjang lebar si penulis tentang masa kecilnya sebelum akhirnya sampai ke daftar bahan. Di TikTok? Kamu cuma butuh 15 detik buat tahu rahasia kencur dan cabai rawit itu menyatu dengan sempurna. Efisiensi waktu adalah segalanya buat mereka yang hidupnya serba cepat.

Google yang Makin Terasa "Robot" dan Penuh Iklan

Salah satu alasan kenapa Google mulai ditinggalkan adalah fenomena yang disebut para ahli sebagai "SEO-fication". Sekarang, kalau kita cari sesuatu di Google, hasil di halaman pertama biasanya adalah situs-situs besar yang sudah mengoptimasi kata kunci sedemikian rupa. Isinya seringkali terasa kaku, repetitif, dan dipenuhi iklan tersembunyi. Belum lagi deretan link "Sponsor" yang memenuhi bagian atas layar.

Bagi Gen Z, hasil pencarian Google itu terasa seperti jawaban robot yang nggak punya jiwa. Sebaliknya, TikTok menawarkan "human connection". Saat mencari ulasan hotel di Bali, mereka lebih percaya pada video seorang traveler yang nggak sengaja nemu kecoa di bawah kasur daripada artikel "10 Hotel Terbaik di Bali" yang mungkin saja isinya pesanan sponsor. Kejujuran—atau setidaknya kesan jujur—inilah yang dicari. Mereka mencari bukti autentik dari manusia sungguhan, bukan dari mesin pencari yang diatur sedemikian rupa oleh pakar marketing.

Berita di Tangan Kreator, Bukan Redaktur

Tren ini nggak cuma berhenti di urusan belanja atau makan. Urusan berita berat pun, Gen Z larinya ke TikTok. Mereka lebih suka dengerin kreator favorit mereka merangkum isu politik atau ekonomi dalam video singkat daripada nonton berita di televisi yang durasinya lama dan bahasanya terlalu formal. Kreator konten di TikTok punya cara bicara yang seolah-olah lagi ngobrol di warung kopi, bikin isu yang berat jadi terasa ringan dan mudah dicerna.

Ada semacam rasa percaya kolektif bahwa "kalau ini viral, berarti ini penting." Meskipun ini sebenarnya cukup berisiko, tapi bagi banyak anak muda, filter informasi mereka bukan lagi kredibilitas media besar, melainkan seberapa relate atau masuk akal ulasan tersebut di mata mereka. Mereka lebih suka mendengar opini beragam dari kolom komentar daripada satu narasi tunggal dari satu portal berita.

Tapi, Ada Harga yang Harus Dibayar

Tentu saja, migrasi besar-besaran dari Google ke TikTok ini nggak tanpa cacat. Masalah utama yang sering muncul adalah kredibilitas. Google, dengan segala kekakuannya, masih punya sistem peringkat yang setidaknya memfilter mana situs yang punya otoritas. Di TikTok? Siapa saja bisa jadi "ahli". Seseorang bisa saja memberikan tips kesehatan yang sebenarnya menyesatkan hanya demi views. Misinformasi bisa menyebar lebih cepat daripada kecepatan cahaya lewat lagu-lagu yang lagi trending.

Opini pribadi saya, ini adalah transisi yang menarik sekaligus ngeri-ngeri sedap. Kita jadi lebih kritis secara visual, tapi mungkin jadi malas melakukan verifikasi mendalam. Kita jadi lebih cepat tahu banyak hal, tapi pemahaman kita mungkin cuma sedalam permukaan kolam. Kita tahu "apa"-nya, tapi seringkali lupa "mengapa"-nya.

Kesimpulan: Google Tetap Ada, Tapi TikTok Jadi Pintu Masuk

Apakah Google akan mati? Tentu saja tidak. Google tetap jadi andalan kalau kita mau riset serius, cari jurnal ilmiah, atau urusan administratif yang butuh dokumen resmi. Google adalah perpustakaan kota yang lengkap. Tapi kalau urusan gaya hidup, hiburan, dan tips praktis sehari-hari, TikTok sudah resmi jadi "halaman depan" internet bagi generasi baru.

Dunia sudah berubah. Kalau dulu kita diajarkan untuk "membaca" dunia melalui tulisan, Gen Z lebih memilih untuk "menonton" dunia melalui layar ponsel. Google mungkin masih memegang kunci data dunia, tapi TikTok sudah memegang hati dan perhatian generasi masa depan. Jadi, jangan heran kalau suatu saat nanti anak cucu kita nggak tahu cara pakai Google, karena bagi mereka, semua jawaban di dunia ini sudah tersedia di balik musik jedag-jedug dan transisi video yang estetik.

Logo Radio
🔴 Radio Live