Ceritra
Ceritra Olahraga

Cara Ampuh Mengatasi Pegal DOMS Biar Nggak Jadi Kaum Jompo Dadakan

Nisrina - Thursday, 19 March 2026 | 12:15 PM

Background
Cara Ampuh Mengatasi Pegal DOMS Biar Nggak Jadi Kaum Jompo Dadakan
Ilustrasi (Freepik/aleksandarlittlewolf)

Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja dapet hidayah buat memulai hidup sehat. Dengan semangat membara ala pahlawan di film aksi, kamu pergi ke gym, angkat beban berat, atau lari keliling kompleks sampai keringat bercucuran kayak habis kehujanan. Pas pulang, rasanya bangga banget. Kamu merasa jadi manusia paling sehat se-kecamatan. Tapi, tunggu sampai besok paginya atau lusa. Pas mau bangun dari tempat tidur, lho kok paha rasanya kayak disemen? Mau angkat tangan buat ambil handuk aja perjuangannya udah kayak mau daki Gunung Rinjani. Selamat datang di klub "kaum jompo dadakan" atau yang dalam bahasa keren medisnya disebut DOMS.

Fenomena otot pegal setelah olahraga ini sebenarnya punya nama resmi, yaitu Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS). Kata kuncinya ada di "delayed" alias tertunda. Rasa sakitnya nggak langsung muncul pas kamu naruh barbel, tapi biasanya nunggu jeda 24 sampai 48 jam dulu baru "nyerang" dengan brutal. Banyak orang yang baru mulai olahraga langsung kapok gara-gara ini, padahal ya sebenarnya ini pertanda kalau tubuh kamu lagi melakukan "renovasi besar-besaran".

Mitos Asam Laktat yang Perlu Kita Luruskan

Dulu, banyak orang bilang kalau pegal-pegal itu gara-gara penumpukan asam laktat. Katanya, kalau olahraga terlalu semangat, asam laktat bakal numpuk di otot dan bikin sakit. Well, ternyata sains berkata lain. Asam laktat itu sebenarnya bakal hilang dari sistem tubuh kamu dalam waktu singkat setelah olahraga selesai. Jadi, kalau kamu ngerasa otot perih atau panas pas lagi angkat beban, nah itu baru kerjaannya asam laktat. Tapi kalau pegal yang bikin kamu jalan kayak penguin di hari berikutnya? Itu beda cerita lagi.

Penyebab asli dari rasa pegal yang menyiksa ini adalah robekan mikro (microscopic tears) pada serat otot. Kedengarannya serem, ya? "Hah, otot gue robek?!" Tenang, ini bukan robek yang bikin kamu harus masuk ruang operasi. Ini adalah kerusakan kecil yang terjadi karena otot kamu dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya, atau melakukan gerakan yang nggak familiar buat si otot. Ibaratnya, otot kamu itu kayak karet yang dipaksa melar secara ekstrem; pasti ada serat-serat halus yang ketarik atau putus.

Analogi Renovasi Rumah: Sakit yang Berbuah Manis

Supaya gampang dipahami, anggaplah otot kamu itu sebuah rumah tua yang mau direnovasi jadi mansion mewah. Sebelum rumah itu jadi bagus, kontraktornya (tubuh kamu) harus menghancurkan beberapa tembok lama dulu, nyopot ubin yang udah retak, dan bikin berantakan seisi rumah. Nah, proses "penghancuran" dan pembersihan puing-puing inilah yang bikin badan kamu kerasa sakit dan meradang.

Saat serat otot itu robek kecil-kecil, tubuh kita nggak tinggal diam. Sistem imun bakal ngirim "pasukan bantuan" ke area yang rusak buat memperbaiki segalanya. Proses perbaikan ini memicu peradangan atau inflamasi ringan. Inflamasi inilah yang sebenarnya ngirim sinyal sakit ke saraf kamu. Tapi kabar baiknya, setelah diperbaiki, otot kamu nggak cuma balik kayak semula, tapi jadi lebih kuat, lebih tebal, dan lebih tahan banting supaya kalau besok-besok kamu olahraga lagi dengan beban yang sama, dia nggak bakal kaget lagi. Jadi, istilah "No Pain No Gain" itu ada benarnya juga, meski kadang sakitnya bikin pengen sambat seharian.

Kenapa Harus Nunggu 24 Jam Dulu?

Mungkin kamu bertanya-tanya, "Kenapa sih nggak langsung sakit aja? Kenapa harus nunggu besok?" Hal ini karena proses inflamasi itu butuh waktu buat mencapai puncaknya. Ibarat kamu lagi galau habis putus cinta, biasanya hari pertama masih mati rasa, baru hari kedua atau ketiga meweknya makin kencang. Tubuh butuh waktu buat melepas zat kimia tertentu yang merangsang ujung saraf sensorik kita. Itulah kenapa puncak penderitaan (baca: pegal) biasanya terjadi di hari kedua setelah sesi olahraga yang intens.

Selain itu, jenis gerakan "eksentrik" atau gerakan memanjang otot saat menahan beban biasanya jadi biang kerok utama DOMS. Contohnya, pas kamu lagi turun tangga, atau pas lagi nurunin barbel ke bawah (bukan pas ngangkatnya). Gerakan menahan beban sambil memanjang ini memberikan tekanan yang lebih besar pada serat otot dibanding gerakan memendek (konsentrik). Jadi jangan heran kalau habis sesi latihan squat, duduk di kloset aja rasanya kayak lagi ujian hidup yang sangat berat.

Gimana Cara Ngadepinnya Tanpa Harus Pensiun Dini?

Kalau udah terlanjur pegal, jangan langsung memutuskan buat berhenti olahraga selamanya dan balik jadi kaum rebahan sejati. Ada beberapa cara buat meringankan penderitaan kamu:

  • Active Recovery: Jangan cuma tidur seharian. Gerak dikit-dikit lah. Jalan santai atau peregangan ringan bisa ngebantu melancarkan aliran darah ke otot yang sakit, yang artinya proses perbaikan bakal lebih cepat.
  • Hidrasi dan Nutrisi: Minum air putih yang banyak dan makan protein. Protein itu ibarat semen dan batu bata buat nambal "tembok" otot kamu yang roboh tadi.
  • Mandi Air Hangat: Ini opsional, tapi mandi air hangat bisa bikin otot lebih rileks dan ngurangin rasa kaku. Kalau berani, atlet profesional sering pakai ice bath, tapi ya itu buat yang mentalnya udah baja aja.
  • Pijat Ringan: Foam rolling atau pijat pelan bisa ngebantu, asal jangan dipijat urut yang terlalu keras sampai teriak-teriak, ya.

Sebagai penutup, pegal setelah olahraga itu normal banget. Itu tandanya kamu lagi berprogres. Tapi, kita juga harus pinter membedakan mana pegal "sehat" (DOMS) dan mana pegal karena cedera. Kalau sakitnya tajam, cuma di satu titik, atau nggak hilang-hilang sampai lebih dari seminggu, mendingan segera periksa ke dokter. Tapi kalau cuma pegal yang bikin jalan agak diseret dikit, nikmatin aja prosesnya. Anggap aja itu "biaya administrasi" buat dapet badan yang lebih fit dan sehat. Semangat terus olahraganya, jangan kasih kendor!

Logo Radio
🔴 Radio Live