Ceritra
Ceritra Warga

Bahaya Hilangnya Kromosom Y Sebagai Pemicu Serangan Jantung dan Kanker pada Pria

Nisrina - Friday, 27 February 2026 | 07:45 AM

Background
Bahaya Hilangnya Kromosom Y Sebagai Pemicu Serangan Jantung dan Kanker pada Pria
Ilustrasi (Freepik/Freepik)

Penuaan adalah proses biologis alami yang dipastikan akan dialami oleh setiap manusia. Namun bagi kaum pria, proses menua ternyata membawa sebuah perubahan genetika di dalam tubuh yang sangat unik sekaligus mengkhawatirkan. Selama puluhan tahun, dunia medis dan ilmu pengetahuan memaklumi bahwa berkurangnya atau hilangnya kromosom Y pada sebagian sel tubuh pria lanjut usia adalah hal yang wajar dan tidak memiliki dampak berbahaya. Namun, asumsi medis tersebut kini telah berubah total seiring dengan dipublikasikannya berbagai hasil penelitian ilmiah terbaru.

Fenomena hilangnya kromosom Y ini ternyata menyimpan ancaman kesehatan yang sangat serius dan tersembunyi. Studi klinis terkini secara meyakinkan membuktikan bahwa kondisi hilangnya kromosom tersebut memiliki kaitan yang sangat kuat dengan peningkatan risiko penyakit mematikan. Mulai dari gagal jantung, serangan jantung mendadak, hingga pertumbuhan berbagai jenis kanker ganas yang agresif. Penemuan mutakhir ini sekaligus memberikan jawaban ilmiah atas pertanyaan klasik mengenai mengapa rata rata angka harapan hidup pria cenderung lebih pendek jika dibandingkan dengan wanita di seluruh dunia.

Mengenal Fenomena Mosaic Loss of Y Chromosome pada Pria

Manusia pada umumnya terlahir dengan membawa dua puluh tiga pasang kromosom di dalam sel tubuhnya. Penentu jenis kelamin pria adalah kombinasi kromosom X dan Y, sedangkan wanita memiliki sepasang kromosom X secara penuh. Kromosom Y memiliki bentuk fisik yang jauh lebih kecil dan membawa lebih sedikit gen pengkode protein dibandingkan kromosom kromosom lainnya. Karena ukurannya yang kerdil inilah, kromosom Y menjadi sangat rentan tertinggal dan mengalami kesalahan replikasi saat proses pembelahan sel terjadi secara terus menerus seiring bertambahnya usia seseorang.

Ketika kesalahan pembelahan sel ini terjadi berulang kali, sel sel baru yang terbentuk pada tubuh pria tidak lagi membawa kromosom Y. Fenomena genetika ini dikenal luas dalam dunia medis dengan istilah Mosaic Loss of Y Chromosome atau sering disingkat menjadi mLOY. Kondisi ini disebut sebagai mosaik karena hilangnya kromosom Y tidak terjadi secara serentak pada seluruh sel tubuh, melainkan hanya pada sebagian sel saja. Jaringan tubuh yang memiliki tingkat perputaran dan pembelahan sel sangat tinggi, seperti sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh, adalah area yang paling rawan dan paling sering mengalami kondisi kehilangan ini.

Faktor Usia dan Gaya Hidup yang Mempercepat Kehilangan

Meskipun proses mutasi ini berkaitan erat dengan proses penuaan secara alami, tingkat keparahan hilangnya kromosom Y pada setiap individu ternyata sangat bervariasi. Berdasarkan data dari berbagai survei bank darah dan penelitian medis global berskala besar, diketahui bahwa sekitar empat puluh persen pria yang telah menginjak usia enam puluh tahun mengalami fenomena mLOY pada struktur sel darah mereka. Angka yang cukup mengkhawatirkan ini bahkan melonjak sangat tajam hingga menyentuh angka lima puluh tujuh persen pada kelompok pria lansia yang berusia sembilan puluh tahun ke atas.

Akan tetapi, usia kronologis bukanlah satu satunya faktor penentu dalam masalah ini. Gaya hidup yang buruk terbukti secara ilmiah bertindak sebagai pemercepat atau katalisator utama proses hilangnya kromosom Y. Kebiasaan merokok aktif dan paparan zat karsinogenik dari polusi lingkungan memiliki kontribusi kerusakan yang sangat masif terhadap struktur DNA. Racun racun mematikan dari asap rokok menyebabkan stres oksidatif yang membuat proses pembelahan sel menjadi sangat kacau. Hal ini menjelaskan mengapa perokok aktif memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk kehilangan kromosom Y di usia yang lebih muda dibandingkan dengan pria yang menerapkan gaya hidup bebas asap rokok.

Mengungkap Kaitan Erat Kromosom Y dan Serangan Jantung

Pada era sebelumnya, kromosom Y dipandang sebelah mata dan hanya dianggap berfungsi untuk menentukan organ reproduksi pria serta mengatur produksi sperma semata. Namun para ahli genetika modern menemukan fakta mengejutkan bahwa gen gen spesifik yang ada di dalam kromosom Y juga memiliki peran yang sangat krusial dalam mengatur fungsi sistem imun atau kekebalan tubuh. Ketika sel darah putih khususnya sel makrofag kehilangan kromosom Y, fungsi normal mereka dalam melindungi jaringan tubuh akan mengalami kerusakan yang sangat fatal.

Sel imun yang telah cacat ini tidak lagi bertugas melindungi tubuh dari patogen, melainkan justru memicu reaksi peradangan kronis yang merusak organ organ vital. Pada organ jantung, peradangan sistemik yang terus menerus ini akan merangsang sel sel di sekitarnya untuk membentuk jaringan parut atau sering disebut sebagai fibrosis kardiak. Penumpukan jaringan parut yang berlebihan ini perlahan lahan akan membuat otot jantung menjadi sangat kaku dan kehilangan elastisitas pompa alaminya. Kondisi jantung yang kaku memaksanya bekerja jauh lebih keras setiap detiknya untuk menyalurkan darah ke seluruh tubuh. Pada akhirnya, beban kerja yang melampaui batas ini memicu kerusakan struktural permanen yang berujung pada gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan serangan jantung mendadak tanpa gejala awal.

Ancaman Pertumbuhan Sel Kanker yang Lebih Agresif

Selain memicu malapetaka pada sistem kardiovaskular, hilangnya kromosom Y juga menjadi mimpi buruk yang nyata dalam dunia onkologi atau ilmu penanganan kanker. Sistem kekebalan tubuh manusia secara alami dirancang layaknya prajurit yang bertugas untuk berpatroli, mendeteksi, dan menghancurkan sel sel abnormal sebelum sel tersebut bermutasi menjadi bibit tumor atau kanker ganas. Namun, ketiadaan kromosom Y membuat sistem pertahanan alami ini menjadi buta, kebingungan, dan sangat lemah.

Berdasarkan pengujian klinis di dalam kultur sel laboratorium, sel sel tubuh yang tidak lagi memiliki kromosom Y terbukti mampu tumbuh dan membelah diri jauh lebih cepat dibandingkan dengan sel yang normal. Kondisi ini memberikan keuntungan biologis yang sangat besar bagi perkembangan sel kanker. Lebih mengerikan lagi, sel kanker pada tubuh pria yang telah mengalami fenomena mLOY ini memiliki kemampuan kamuflase khusus untuk bersembunyi dan menghindari deteksi dari sel imun yang tersisa. Akibatnya, sel kanker dapat menyebar dan berkembang biak dengan tingkat keagresifan yang sangat tinggi tanpa adanya perlawanan yang berarti dari antibodi penderita.

Dampak Langsung Terhadap Angka Harapan Hidup Pria

Pengungkapan misteri dari fenomena mLOY ini secara otomatis memberikan pencerahan baru bagi para ilmuwan dan sosiolog mengenai ketimpangan angka harapan hidup antara pria dan wanita. Secara statistik global yang tercatat selama puluhan tahun, wanita rata rata selalu hidup beberapa tahun lebih lama dibandingkan dengan populasi pria. Selama ini, perbedaan usia tersebut sering kali hanya dikambinghitamkan pada faktor perilaku sosial semata, seperti anggapan bahwa pria lebih sering melakukan pekerjaan fisik berbahaya, rentan kecelakaan, atau memiliki kebiasaan makan yang lebih sembrono.

Kini sains telah membuktikan bahwa terdapat faktor genetika tak kasat mata yang secara diam diam menggerogoti fondasi kesehatan pria dari dalam seiring berjalannya waktu. Karena wanita dianugerahi dengan dua buah kromosom X dan sama sekali tidak memiliki kromosom Y, mereka secara biologis kebal terhadap risiko penyakit penyakit kronis yang secara spesifik dipicu oleh hilangnya kromosom Y ini. Oleh sebab itu, kehilangan kromosom Y pada pria kini telah resmi dimasukkan ke dalam daftar literatur medis sebagai salah satu faktor risiko biologis terkuat yang menyumbang angka kematian dini akibat penyakit degeneratif terkait usia.

Langkah Preventif Menjaga Kesehatan Genetika

Meskipun kita sebagai manusia tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan laju waktu dan melawan hukum alam dari penuaan, kita sejatinya masih memiliki kendali penuh atas faktor faktor lingkungan eksternal yang dapat mempercepat kerusakan sel tubuh tersebut. Langkah pencegahan yang paling utama, paling murah, dan paling mendesak yang direkomendasikan oleh seluruh ahli kardiologi adalah memutus kebiasaan merokok secara total. Menghilangkan paparan racun tembakau dari saluran pernapasan dan darah akan secara drastis menurunkan kecepatan mutasi genetik sekaligus mencegah hilangnya kromosom Y dalam jumlah yang lebih masif.

Sebagai tambahan pelindung, mengadopsi pola makan harian yang kaya akan nutrisi antioksidan, mempertahankan indeks massa tubuh yang ideal, serta rutin melakukan olahraga ringan akan sangat membantu tubuh dalam menekan tingkat peradangan kronis di tingkat sel. Khusus bagi para pria yang sudah mulai memasuki fase usia paruh baya, melakukan inisiatif pemeriksaan kesehatan kardiovaskular secara rutin setiap tahun sangatlah direkomendasikan. Rangkaian pemantauan tekanan darah, cek panel kadar kolesterol lengkap, dan deteksi dini melalui rekam elektrokardiogram dapat mencegah penumpukan jaringan parut agar tidak berkembang menjadi serangan jantung mematikan di kemudian hari. Menyadari adanya risiko biologis yang bersemayam di dalam DNA ini adalah langkah pertama yang sangat vital untuk memenangkan pertarungan demi meraih kualitas hidup yang lebih prima dan umur yang lebih berkah di hari tua.

Logo Radio
🔴 Radio Live