Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Tan Malaka Jadi Referensi Keren di Budaya Kopi Gen Z

Fildzah - Tuesday, 11 August 2026 | 01:30 PM

Background
Alasan Tan Malaka Jadi Referensi Keren di Budaya Kopi Gen Z
Tan Malaka (berbagai sumber/berbagai sumber)

Tan Malaka: Bapak Republik yang Diam-Diam Jadi Idola "Cool" Anak Muda Zaman Now

Kalau kita main ke kedai kopi kekinian yang estetik, pemandangannya biasanya nggak jauh-jauh dari laptop MacBook, tumpukan buku puisi, atau obrolan soal quarter-life crisis. Tapi coba deh intip lebih teliti ke rak buku atau meja para pengunjungnya. Seringkali, di antara buku-buku pengembangan diri yang sampulnya warna-warni, terselip satu buku tebal dengan cover wajah pria berambut klimis dan tatapan mata tajam. Namanya Tan Malaka. Pria ini bukan selebgram, bukan juga startup founder yang baru saja dapet pendanaan seri A. Dia adalah "Hantu" dari sejarah Indonesia yang mendadak jadi ikon paling digandrungi Gen Z.

Kenapa sih sosok yang hidupnya berakhir tragis di tangan bangsa sendiri ini bisa begitu nyambung sama selera anak muda sekarang? Padahal, kalau dibandingin sama Soekarno yang flamboyan atau Hatta yang super rapi, Tan Malaka ini ibarat musisi indie yang mainnya di bawah tanah (underground) tapi punya fans garis keras yang loyal banget.

Sang Rebel dengan Sejuta Nama Palsu

Gen Z itu sangat menghargai privasi dan hobi pakai second account di Instagram buat sambat, kan? Nah, Tan Malaka adalah suhu-nya dalam urusan ini. Selama masa pelariannya dari kejaran polisi rahasia internasional, dia punya belasan alias. Kadang jadi Howard Lee, kadang jadi Ong Song Lee, sampai jadi Ramli. Bayangkan, dia berkeliling dunia mulai dari Belanda, Rusia, Tiongkok, sampai Filipina tanpa paspor resmi yang jelas, tapi tetap bisa menggerakkan revolusi.

Gaya hidup nomaden dan "anti-establishment" ini terasa sangat relate buat anak muda sekarang yang sedang jenuh dengan sistem kerja kantoran yang itu-itu saja. Tan Malaka adalah definisi nyata dari digital nomad sebelum internet ditemukan, bedanya yang dibawa bukan cuma laptop buat kerja remote, tapi ide-ide gila soal kemerdekaan 100 persen. Dia nggak mau kompromi, nggak mau diplomasi yang lembek, dan itu bikin dia terlihat "keren" di mata anak muda yang memang lagi hobi-hobinya protes sama ketidakadilan sosial.

"Terbentur, Terbentur, Terbentuk": Mantra Anti-Insecure

Kalau kamu sering main Twitter atau X, pasti pernah lihat kutipan legendaris: "Terbentur, terbentur, terbentuk." Ini adalah kutipan paling "pop" dari Tan Malaka yang sekarang sudah selevel sama kata-kata motivasi dari Fiersa Besari atau kutipan galau lainnya. Bedanya, kutipan ini punya bobot sejarah yang berat.

Bagi Gen Z yang sering ngerasa burnout, gagal masuk kerja impian, atau baru saja diputusin pacar, mantra ini jadi penyemangat. Tan Malaka mengajarkan bahwa proses menjadi manusia yang tangguh itu memang harus lewat banyak hantaman. Dia sendiri hidupnya penuh dengan penderitaan: sakit-sakitan, miskin di negeri orang, sampai akhirnya harus dieksekusi oleh tentara dari negara yang dia bantu dirikan. Tapi dia nggak pernah menyerah. Semangat "tahan banting" inilah yang bikin dia diletakkan di pedestal tertinggi oleh anak muda yang sedang mencari jati diri.

Madilog: Kitab Suci Berpikir Logis

Nggak cuma soal gaya hidupnya yang misterius, karya monumentalnya, Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), sekarang jadi bacaan wajib buat mereka yang pengen kelihatan kritis di tongkrongan. Memang sih, jujur saja, nggak semua anak muda yang bawa buku Madilog itu benar-benar selesai bacanya sampai halaman terakhir. Bukunya tebal banget dan bahasanya lumayan bikin kening berkerut.

Tapi, inti dari Madilog itu sangat pas buat melawan tren hoaks dan mistisme nggak jelas yang sering seliweran di grup WhatsApp keluarga. Tan Malaka ngajak kita buat berpikir rasional, pakai logika, dan jangan gampang percaya klenik. Di era di mana algoritma media sosial sering bikin kita terjebak dalam echo chamber, ajakan Tan untuk berpikir dialektis itu rasanya kayak dapet siraman air es di siang bolong. Seger dan bikin sadar.

Bukan Sekadar Tren, Tapi Pencarian Identitas

Fenomena populernya Tan Malaka di kalangan Gen Z ini sebenarnya menunjukkan satu hal: anak muda sekarang lagi haus akan pahlawan yang jujur dan punya integritas. Di tengah panggung politik yang isinya penuh dengan gimik dan pencitraan, sosok Tan Malaka yang tulus berjuang sampai titik darah penghabisan tanpa sempat menikmati kursi jabatan—apalagi korupsi—terasa sangat menyentuh.

Tan Malaka adalah simbol perlawanan terhadap kemapanan yang korup. Dia adalah "Bapak Republik" yang sempat dilupakan secara sengaja oleh sejarah Orde Baru, dan sekarang "ditemukan" kembali lewat utas-utas viral, meme, hingga desain kaos yang estetik. Dia bukan cuma sekadar tokoh dalam buku teks sejarah yang membosankan; dia sudah menjelma jadi lifestyle, simbol intelektualitas, dan pengingat bahwa menjadi berbeda itu nggak apa-apa, asal punya prinsip.

Jadi, kalau besok-besok kamu lihat ada anak muda pakai kaos gambar pria berkacamata tipis sambil ngetik di kafe, jangan heran. Mereka nggak cuma lagi gaya-gayaan. Mungkin mereka sedang meresapi semangat si "Pacar Merah" untuk membangun narasi hidup mereka sendiri yang lebih berani. Karena bagi mereka, Tan Malaka adalah bukti bahwa meski tubuh bisa mati dan dikubur tanpa nisan yang jelas, ide-ide gila dan semangat perlawanan akan selalu punya cara untuk "pulang" ke rumahnya: pikiran anak muda yang gelisah.

Logo Radio
🔴 Radio Live