Ceritra
Ceritra Warga

Alasan Mengapa Visual Aesthetic Sangat Memikat Mata

Nisrina - Wednesday, 01 April 2026 | 06:45 AM

Background
Alasan Mengapa Visual Aesthetic Sangat Memikat Mata
Ilustrasi (Pexels/Sóc Năng Động)

Coba deh lo inget-inget lagi, kapan terakhir kali lo masuk ke sebuah kafe, trus bukannya langsung mesen Americano, lo malah sibuk nyari sudut ruangan yang pencahayaannya pas buat difoto? Atau pas lagi scroll Instagram, jempol lo tiba-tiba berhenti di sebuah foto kamar yang berantakan tapi tetep kelihatan "artsy" dengan lampu-lampu tumblr dan tanaman monstera di pojokan. Di saat itu, otak lo bakal otomatis ngebatin, "Gila, aesthetic banget nih orang."

Kata "aesthetic"—atau yang sering kita plesetin jadi estetik—udah bukan lagi sekadar istilah di buku teks filsafat seni. Sekarang, kata ini udah jadi gaya hidup, sebuah standar baru buat nentuin apakah sesuatu itu layak masuk feeds media sosial atau nggak. Tapi sebenernya, kenapa sih kita sebagai manusia—terutama gen-Z dan milenial—kayak punya obsesi tersendiri sama hal-hal yang sedap dipandang mata ini? Apakah kita cuma sekadar haus validasi, atau emang ada alasan psikologis di baliknya?

Bukan Cuma Visual, Tapi Soal Perasaan

Secara sains, otak kita itu emang udah diprogram buat suka sama keteraturan dan keindahan. Ada sebuah konsep yang namanya "The Halo Effect". Gampangnya begini, kalau kita ngelihat sesuatu yang tampilannya cantik, otak kita bakal otomatis nganggep kalau hal itu juga punya kualitas yang baik. Misalnya, lo lagi nyari buku di Gramedia. Ada dua buku dengan isi yang mirip, tapi yang satu cover-nya minimalis dengan font yang cakep, sementara yang satu lagi cover-nya kayak desain spanduk pecel lele. Pasti lo bakal lebih tertarik buat beli yang cover-nya "aesthetic", kan? Padahal isinya belum tentu lebih bagus.

Keindahan itu memicu pelepasan dopamin di otak kita. Melihat sesuatu yang simetris, warnanya senada (kayak earth tone yang lagi tren), atau komposisinya pas itu bisa bikin kita merasa rileks. Makanya, muncul tren "oddly satisfying videos" yang isinya cuma orang lagi motong sabun atau nyusun barang sesuai warna. Itu tuh kayak meditasi visual buat otak kita yang udah capek sama hiruk-pikuk dunia nyata yang seringnya berantakan dan nggak masuk akal.

Upaya Mengkurasi Hidup yang Berantakan

Jujur aja, hidup kita ini seringnya jauh dari kata estetik. Kamar berantakan, cucian numpuk, saldo ATM kritis, sampe hubungan yang nggak jelas ujungnya. Di tengah kekacauan itu, menciptakan atau mengonsumsi konten yang "aesthetic" adalah cara kita buat punya kendali. Kita nggak bisa ngontrol kapan pandemi beres atau kapan dapet kenaikan gaji, tapi kita bisa banget ngontrol gimana tampilan meja kerja kita biar kelihatan "cozy" pas difoto.

Ini yang sering disebut sebagai kurasi identitas. Melalui hal-hal aesthetic yang kita posting, kita lagi berusaha ngasih tahu dunia (dan diri kita sendiri) kalau, "Hey, hidup gue oke kok. Lihat nih, kopi gue punya latte art yang bagus dan buku yang gue baca cover-nya keren." Ada semacam kepuasan batin tersendiri pas kita berhasil ngerapihin satu sudut kecil di hidup kita jadi terlihat sempurna, meskipun cuma buat durasi 15 detik di Instagram Stories.

Efek FOMO dan Tekanan Sosial

Tapi, jangan salah. Obsesi sama estetika ini juga punya sisi gelap. Sekarang ini, tempat bisnis—mulai dari kafe, hotel, sampe tempat cukur rambut—berlomba-lomba buat jadi "Instagrammable". Kalau tempatnya nggak aesthetic, kemungkinan besar nggak bakal viral. Fenomena ini bikin standar kecantikan atau standar "keren" jadi makin sempit. Semuanya harus serba senada. Kalau lo pake baju nabrak warna atau makan di tempat yang piringnya masih pake gambar ayam jago (tanpa konsep retro-ironis), lo bakal dianggap "nggak estetik".

Kita jadi terjebak dalam siklus konsumerisme yang nggak ada habisnya. Beli cangkir baru karena yang lama warnanya kurang pas sama meja kayu, atau beli baju baru cuma buat sekali foto ootd biar feeds tetep terjaga "vibes"-nya. Ini nih yang bikin kita kadang jadi capek sendiri. Kita jadi lebih peduli sama gimana sesuatu kelihatan di layar hp daripada gimana rasanya sesuatu itu pas dijalanin secara nyata.

Pelarian yang Manis atau Sekadar Kedangkalan?

Banyak kritikus bilang kalau budaya aesthetic ini bikin kita jadi dangkal. Kita lebih mentingin bungkus daripada isi. Tapi kalau menurut gue sih, nggak sepenuhnya salah juga buat suka hal-hal yang aesthetic. Di dunia yang makin keras dan bikin stres ini, keindahan visual bisa jadi oase kecil. Nggak ada salahnya kok memanjakan mata sendiri. Yang jadi masalah itu kalau kita sampe ngerasa depresi cuma gara-gara hidup kita nggak se-aesthetic akun influencer favorit kita.

Kita harus inget kalau apa yang kita lihat di internet itu cuma potongan kecil yang udah diedit sedemikian rupa. Di balik foto meja kerja yang aesthetic itu, pasti ada tumpukan kabel yang berantakan atau sisa bungkus gorengan yang disingkirin dulu biar nggak masuk frame. Estetika itu harusnya jadi bumbu kehidupan, bukan bahan utamanya.

Keseimbangan adalah Kunci

Jadi, kenapa kita suka hal yang aesthetic? Jawabannya simpel: karena kita manusia. Kita punya insting buat mencari keindahan di tengah keburukan. Kita suka keteraturan di tengah kekacauan. Menikmati hal-hal yang indah itu manusiawi banget, dan nggak ada yang salah dengan itu.

Yang penting, jangan sampe kita lupa buat menikmati "kejelekan" hidup juga. Karena kadang-kadang, hal-hal yang nggak estetik—kayak ketawa ngakak sampe muka jelek bareng temen di warung indomie pinggir jalan, atau kamar berantakan abis begadang ngerjain projek seru—justru adalah momen-momen yang paling terasa "hidup". Estetika itu emang enak dipandang, tapi pengalaman nyata yang jujur dan tanpa filter itu jauh lebih berharga buat dikenang.

So, go ahead, ambil foto kopi lo itu kalau emang bikin lo seneng. Tapi abis itu, simpen hp-nya, sesap kopinya, dan nikmatin obrolannya. Jangan sampe lo sibuk nyari sudut pandang (angle) yang pas, sampe lo lupa buat bener-bener ada di sana.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live