Ceritra
Ceritra Cinta

Tanda Kamu Seorang Hopeless Romantic Sejati, Pernah Alami?

Shannon - Thursday, 21 May 2026 | 08:00 PM

Background
Tanda Kamu Seorang Hopeless Romantic Sejati, Pernah Alami?
(RTC UI FM/)

Si Paling Hopeless Romantic: Antara Mengejar Cinta Sejati dan Terjebak Ekspektasi Ketinggian

Pernah nggak sih kamu merasa kalau hidup ini seharusnya punya soundtrack sendiri? Kayak pas lagi jalan di bawah hujan, tiba-tiba di kepala muter lagu "Hati-Hati di Jalan"-nya Tulus, atau pas lagi liat gebetan lewat, dunia berasa slow motion dengan filter estetik ala film Wes Anderson. Kalau kamu sering ngerasa kayak gitu, selamat! Mungkin kamu adalah bagian dari sekte "Hopeless Romantic" alias si pemimpi cinta yang akut.

Istilah hopeless romantic sering banget disalahpahami. Orang-orang biasanya mikir kalau mereka ini adalah kumpulan orang jomblo yang nggak punya harapan buat dapet pacar. Padahal, maknanya justru kebalikannya. Mereka bukan "nggak punya harapan", tapi justru punya "harapan yang kepedean" soal cinta. Mereka percaya banget kalau di luar sana, ada satu orang yang ditakdirkan jadi belahan jiwa, lengkap dengan kembang api, adegan lari-larian di bandara, dan akhir bahagia selamanya.

Tapi, jujur aja, jadi seorang hopeless romantic di zaman sekarang itu beratnya minta ampun. Kenapa? Karena kita hidup di era Tinder, Bumble, dan budaya ghosting yang makin hari makin nggak masuk akal. Di saat semua orang pengennya yang "sat set sat set" atau sekadar FWB-an, si hopeless romantic ini masih nungguin surat cinta yang ditulis tangan atau playlist Spotify yang dikurasi khusus buat dia. Kontras banget, kan?

Ciri-Ciri Kamu Sudah Terpapar Virus Romantisme Akut

Gimana caranya tahu kalau kamu itu seorang hopeless romantic? Gampang. Coba cek poin-poin di bawah ini, siapa tahu kamu ngerasa terpanggil:

  • Gampang Baper dari Hal Kecil: Cuma gara-gara dia bales chat pake emoji "love" warna biru (yang padahal artinya cuma tanda temen), kamu udah mikirin nanti konsep pernikahan kalian mau outdoor atau indoor.
  • Obsesi sama Rom-Com: Kamu nonton film kayak "About Time" atau drakor "Crash Landing on You" bukan cuma buat hiburan, tapi buat dijadiin standar hidup. Kamu beneran nunggu ada cowok yang nekat nerobos perbatasan demi kamu.
  • Percaya sama "The One": Kamu nggak percaya sama kecocokan yang dibangun pelan-pelan. Kamu maunya "klik" di detik pertama. Kalau nggak ada spark-nya, ya udah, lewat.
  • Suka Bikin Skenario di Kepala: Sebelum tidur, bukannya baca doa, kamu malah asyik bikin skenario gimana caranya kamu ketemu jodoh di perpustakaan atau pas lagi neduh di halte bus.

Masalahnya, dunia nyata itu bukan skrip film garapan Hollywood. Di dunia nyata, kalau ada orang asing yang tiba-tiba narik tangan kamu terus ngajak dansa di pinggir jalan, yang ada kamu malah teriak minta tolong karena takut dicopet atau diculik. Inilah celah lebar yang sering bikin para hopeless romantic ngerasa sedih dan hampa.

Dating Apps vs. Jiwa yang Haus Afeksi

Bagi kaum hopeless romantic, main dating apps itu kayak masuk ke medan perang tanpa senjata. Di sana, semuanya serba visual dan transaksional. "Eh, kamu cakep, swipe kanan. Eh, bionya garing, swipe kiri." Padahal, si romantis ini pengennya ada proses perkenalan yang puitis. Mereka pengen ada momen "eye contact" yang tak sengaja di kafe kopi, bukan sekadar dapet notifikasi "It's a Match!".

Ironisnya, karena haus akan koneksi yang mendalam, kaum ini sering banget jadi korban ghosting. Mereka udah kasih seluruh hati, udah mikirin masa depan, eh taunya si lawan bicara cuma mau nanya "lagi apa?" doang. Sakitnya tuh di sini, di bagian ekspektasi yang nggak sinkron sama realita. Mereka sering dibilang "terlalu banyak nuntut" atau "lebay", padahal mereka cuma pengen ngerasain cinta yang totalitas.

Sisi Gelap: Ketika Cinta Jadi Buta Beneran

Nggak selamanya jadi hopeless romantic itu indah kayak filter Instagram. Ada sisi gelapnya juga. Karena saking pengennya punya hubungan yang kayak di negeri dongeng, mereka sering kali mengabaikan "red flags" yang udah segede gaban. Si doi posesif? "Ah, itu tandanya dia sayang banget sama aku." Si doi jarang ngabarin? "Mungkin dia lagi berjuang buat masa depan kita."

Mereka cenderung jadi "people pleaser" demi mempertahankan status hubungan yang ideal. Ketakutan terbesar mereka adalah kehilangan "harapan" itu sendiri. Jadi, biarpun hubungannya udah toxic dan bikin mental breakdown, mereka tetep bertahan karena percaya kalau "cinta bakal mengalahkan segalanya". Padahal ya nggak gitu juga konsepnya, Ferguso!

Cara Survive Biar Nggak Melulu Kecewa

Terus, apa kita harus berhenti jadi romantis dan jadi orang yang dingin kayak es batu? Ya nggak juga. Dunia butuh orang-orang yang percaya sama cinta, biar nggak isinya cuma berita politik dan harga beras yang makin mahal. Tapi, perlu ada sedikit penyesuaian biar hati nggak gampang retek.

Pertama, turunin dikit standarnya ke level bumi. Nggak apa-apa punya standar tinggi, tapi sadari kalau pasangan kamu itu manusia biasa yang bisa capek, bisa lupa bales chat, dan bisa punya bau mulut pas bangun tidur. Dia bukan karakter fiksi yang sempurna 24 jam.

Kedua, belajar buat mencintai diri sendiri dulu. Kedengarannya klise banget, ya? Tapi beneran, kalau kamu udah "penuh" dengan dirimu sendiri, kamu nggak bakal terlalu haus akan validasi dari orang lain. Kamu bakal sadar kalau kebahagiaan kamu itu tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab si "The One" yang entah ada di mana itu.

Terakhir, nikmati aja prosesnya. Kalau emang sekarang lagi jomblo, ya udah, nikmatin waktu buat dengerin lagu galau sepuasnya atau nonton drakor sampai subuh. Kalau lagi deket sama orang, jangan langsung bayangin pelaminan. Jalanin dulu, ketawa bareng dulu. Cinta yang kuat itu biasanya tumbuh dari hal-hal receh yang konsisten, bukan cuma dari satu momen dramatis yang sekali seumur hidup.

Jadi, buat kamu para hopeless romantic di luar sana: tetep jaga hatinya, ya. Jangan kapok buat jadi orang tulus, tapi jangan mau juga dijadiin keset. Karena pada akhirnya, cinta sejati itu emang ada, tapi dia butuh kaki yang berpijak di tanah, bukan cuma kepala yang melayang di awan.

Logo Radio
🔴 Radio Live