Selain Kartini, Kenali 3 Tokoh Pejuang HAM Indonesia di Era Pra-Kemerdekaan
Nisrina - Wednesday, 10 December 2025 | 02:00 PM


Setiap 10 Desember, kita merayakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Di Indonesia, R.A. Kartini sering disebut sebagai ikon utama perjuangan hak perempuan di masa penjajahan. Memang benar, surat-suratnya adalah manifestasi HAM yang luar biasa. Namun, sejarah mencatat banyak tokoh visioner lain di era Pra-Kemerdekaan yang mendedikasikan hidup mereka untuk membela hak-hak dasar rakyat Indonesia dari penindasan kolonial. Perjuangan mereka mencakup hak politik, hak ekonomi, dan hak atas pendidikan.
Berikut adalah 3 tokoh pejuang HAM Indonesia di era Pra-Kemerdekaan yang wajib kita kenang:
1. H.O.S. Cokroaminoto: Hak Politik dan Kesetaraan
Dikenal sebagai 'Raja Jawa Tanpa Mahkota', Oemar Said Cokroaminoto adalah pendiri Sarekat Islam (SI), organisasi pergerakan massa terbesar di masanya.
Fokus Perjuangan HAM: Beliau memperjuangkan hak politik rakyat pribumi, menentang diskriminasi rasial yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Cokroaminoto lantang menyuarakan bahwa rakyat Indonesia berhak menentukan nasib sendiri, setara dengan bangsa Eropa.
Warisan Abadi: SI menjadi sekolah pergerakan politik pertama bagi banyak pemimpin bangsa, termasuk Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Beliau mengajarkan generasi muda tentang pentingnya hak berserikat dan berpendapat.
2. Dewi Sartika: Hak Atas Pendidikan untuk Semua
Sama seperti Kartini, Raden Dewi Sartika sangat fokus pada hak pendidikan, namun dengan pendekatan yang lebih praktis dan menyentuh semua lapisan masyarakat.
Fokus Perjuangan HAM: Beliau memperjuangkan Hak Atas Pendidikan bagi anak-anak perempuan, tanpa memandang status sosial. Pada tahun 1904, beliau mendirikan Sekolah Isteri di Bandung (kemudian menjadi Sekolah Keutamaan Isteri).
Warisan Abadi: Dewi Sartika membuktikan bahwa akses pendidikan adalah kunci pembebasan wanita dari belenggu tradisi feodal yang diskriminatif. Sekolahnya menjadi model bahwa perempuan berhak mendapatkan ilmu yang sama untuk berdaya.
3. Ki Hajar Dewantara: Hak Atas Pendidikan yang Humanis
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, adalah tokoh yang menyuarakan hak fundamental rakyat untuk memperoleh pendidikan yang sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa.
Fokus Perjuangan HAM: Beliau memperjuangkan Hak atas Pendidikan yang Adil, Humanis, dan Berbasis Budaya. Semboyan Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan) adalah manifestasi penghargaan terhadap hak anak untuk berkembang sesuai potensi mereka.
Warisan Abadi: Pendirian Perguruan Taman Siswa adalah bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah hak yang harus memerdekakan manusia, bukan alat penjajahan.
Inspirasi Hari HAM
Kisah-kisah para pahlawan Pra-Kemerdekaan ini mengajarkan kita bahwa perjuangan HAM adalah tentang keberanian menyuarakan kebenaran dan menuntut kesetaraan. Di Hari HAM Sedunia ini, mari kita teruskan semangat mereka dengan memastikan setiap orang di sekitar kita mendapatkan hak dasar mereka, dimulai dari hal yang paling sederhana.
Next News

"Aku Memang Turunan Pemarah": Benarkah Sifat Mudah Marah Bisa Diwariskan?
2 days ago

Mengenal Silent Flexing, Tren Baru yang Diam-Diam Mengubah Media Sosial
2 days ago

Mencuri Waktu dari Tidur: Kebiasaan Scroll Malam yang Diam-Diam Menjadi Alasan "Insomnia" Kita
6 days ago

Masih Perlu Pakai Hand Sanitizer Setiap Saat? Simak Faktanya!
6 days ago

Fashion: Instrumen Politik Paling Tua yang Jarang Disadari
7 days ago

Tips Pilih Warna Baju Saat Cuaca Panas Biar Tetap Nyaman dan Adem
7 days ago

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
7 days ago

Bukan Mood Swing Semata, Ini 4 Fase yang Dialami Wanita Setiap Bulan
7 days ago

Solusi Bebas Antre BBM: Haruskah Ganti ke Mobil Listrik/Hybrid Sekarang?
11 days ago

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
11 days ago





