Ceritra
Ceritra Warga

Saat Ambisi Ekonomi Menghancurkan Penyangga Kehidupan Manusia

Nisrina - Wednesday, 17 December 2025 | 12:26 PM

Background
Saat Ambisi Ekonomi Menghancurkan Penyangga Kehidupan Manusia
Deforestasi Sumatera (Auriga Nusantara/)

Hutan seringkali hanya dipandang sebagai hamparan hijau yang menyediakan kayu atau lahan kosong yang siap disulap menjadi perkebunan monokultur demi keuntungan ekonomi sesaat. Suara gergaji mesin dan deru alat berat dianggap sebagai simfoni pembangunan, sementara tumbangnya pohon-pohon raksasa dilihat sebagai langkah awal kemajuan. Namun, di balik narasi kemakmuran tersebut, terdapat realitas pahit yang sering kita abaikan: deforestasi yang kian meluas sejatinya adalah sebuah bumerang. Ia melesat jauh saat kita lempar dengan penuh ambisi, namun kini ia berbalik arah dan siap menghantam kita dengan kekuatan yang jauh lebih mematikan.

Merujuk pada laporan National Geographic, luas hutan yang hilang terus bertambah setiap tahunnya, dan dampaknya tidak lagi sekadar statistik lingkungan di atas kertas. Kita sedang berbicara tentang runtuhnya sistem penyangga kehidupan manusia. Hutan bukan sekadar rumah bagi flora dan fauna eksotis; ia adalah infrastruktur alami yang menjamin ketersediaan air bersih, menahan laju perubahan iklim, dan menjadi benteng pertahanan dari berbagai penyakit. Ketika kita merusak hutan, kita tidak sedang "mengganggu alam", melainkan sedang menyabotase masa depan spesies kita sendiri.

Kenyataan yang paling menampar adalah ironi ekonomi yang dihasilkannya. Kita menebang hutan demi mengejar pertumbuhan ekonomi, namun biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi bencana akibat hilangnya hutan, seperti banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan ekstrem jauh lebih besar daripada keuntungan yang didapat. Belum lagi ancaman kesehatan global. Hutan yang sehat berfungsi sebagai zona penyangga (buffer zone) yang memisahkan manusia dari satwa liar pembawa virus. Ketika habitat mereka dihancurkan, interaksi paksa antara manusia dan satwa liar tak terelakkan, membuka kotak pandora bagi penyakit zoonosis baru yang berpotensi menjadi pandemi. Tanpa disadari, dengan menggunduli hutan, kita sedang meruntuhkan tembok karantina alami yang melindungi peradaban manusia.

Berpacu dengan Waktu: Menjaga Benteng Terakhir

Pertanyaan besar yang kini menggantung di langit-langit kesadaran kita adalah: mampukah kita melindungi sisa hutan yang ada? Waktu bukanlah sahabat kita dalam perjuangan ini. Setiap hektare hutan yang hilang membawa kita satu langkah lebih dekat menuju titik ketidakbalikan (tipping point) iklim. Namun, harapan belum sepenuhnya musnah selama ada perubahan paradigma yang radikal dalam cara kita memandang alam.

Kita perlu berhenti menempatkan manusia sebagai penguasa yang terpisah dari alam, dan mulai melihat diri kita sebagai bagian integral dari ekosistem. Melindungi hutan tidak boleh lagi dilihat sebagai aksi amal atau romantisasi pencinta lingkungan semata. Ini adalah aksi pertahanan diri yang paling rasional. Menjaga hutan berarti menjaga kestabilan cuaca agar petani tetap bisa panen, menjaga sumber air agar kota-kota tidak kehausan, dan menjaga udara agar paru-paru anak cucu kita tetap bisa bernapas lega.

Sudah saatnya kita menyadari bahwa hutan tidak butuh manusia untuk bertahan hidup; hutan bisa memulihkan dirinya sendiri dalam ribuan tahun tanpa kita. Sebaliknya, manusialah yang sangat membutuhkan hutan. Menyelamatkan hutan yang tersisa, pada hakikatnya, adalah upaya menyelamatkan diri kita sendiri dari kepunahan perlahan yang kita ciptakan dengan tangan kita sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live