Ceritra
Ceritra Warga

Strategi Tetap Waras Hadapi Rekan Kerja Toxic yang Drama

Nisrina - Tuesday, 03 March 2026 | 09:15 AM

Background
Strategi Tetap Waras Hadapi Rekan Kerja Toxic yang Drama
Ilustrasi (Pexels/Andrea Piacquadio)

Pernah nggak sih kamu ngerasa hari Senin yang udah berat jadi makin terasa kayak beban hidup tujuh turunan gara-gara satu orang di kantor? Bukan, ini bukan soal bos yang hobi kasih revisi jam lima sore, tapi soal rekan kerja yang kalau ngomong suka nggak pakai saringan atau yang kalau dikritik dikit langsung reaktifnya ngalahin alarm kebakaran. Kalau kamu pernah ngalamin ini, kemungkinan besar kamu lagi berhadapan sama orang yang kecerdasan emosionalnya alias EQ-nya lagi tiarap.

Di dunia kerja yang serba cepat ini, kita sering banget mendewakan IQ. Pokoknya kalau pinter, jago coding, atau jago bikin strategi marketing, ya udah dia dewa. Tapi jujur deh, sepinter apa pun seseorang, kalau dia nggak punya empati atau nggak bisa kontrol emosi, kehadirannya di tim cuma bakal jadi toxic yang pelan-pelan ngerusak suasana. EQ itu ibarat pelumas dalam mesin; tanpa itu, gesekan antar komponen bakal bikin mesin panas dan akhirnya jebol. Nah, biar kamu nggak bingung atau malah ngebatin terus, yuk kita bedah pelan-pelan apa aja sih ciri-ciri orang yang EQ-nya rendah di lingkungan kantor.

1. Si Paling Benar dan Anti Kritik

Ciri pertama yang paling gampang dikenali adalah mereka yang punya alergi akut sama yang namanya masukan. Buat orang dengan EQ rendah, kritik itu bukan dianggap sebagai bahan evaluasi buat jadi lebih baik, tapi dianggap sebagai serangan personal. Pas dikasih masukan soal kerjaan, respons mereka biasanya ada dua: kalau nggak defensif abis-abisan, ya bakal nyerang balik dengan nyari-nyari kesalahan kita.

Mereka bakal ngerasa dunianya runtuh cuma gara-gara satu poin revisi. Alih-alih bilang, "Oh oke, nanti gue perbaiki," mereka lebih milih buat bilang, "Ya lagian lo juga nggak jelas ngasih brief-nya!" atau "Perasaan kemarin bilangnya nggak gini deh." Intinya, mereka susah banget buat bilang "Gue salah" atau "Makasih masukannya." Kerja bareng orang kayak gini tuh capeknya double, karena kita harus mikirin cara paling halus sedunia cuma buat nyampain hal sepele biar mereka nggak baper.

2. Ledakan Emosi yang Nggak Terprediksi

Kita semua pasti pernah stres, itu wajar. Tapi orang dengan EQ rendah nggak punya kontrol atas stres itu. Mereka kayak bom waktu yang bisa meledak kapan aja tanpa aba-aba. Lagi asyik-asyik ngopi di pantry, tiba-tiba ada yang banting pintu atau ngomel-ngomel sendiri karena hal kecil. Mereka nggak sadar kalau suasana hati mereka yang berantakan itu nular dan bikin orang sekelilingnya jadi nggak nyaman.

Nggak cuma marah-marah, bentuk emosi ini bisa juga berupa silent treatment alias mendiamkan rekan kerja berhari-hari cuma gara-gara masalah komunikasi yang sebenernya bisa diselesain sambil makan siang. Mereka nggak paham gimana cara meregulasi perasaan sendiri. Jadi, pas mereka lagi kesel, seluruh kantor harus tahu dan harus ngerasain penderitaan mereka. Vibes-nya jadi mendung terus, deh.

3. Minim Empati dan Gak Punya Filter

Pernah nggak kamu lagi curhat soal beban kerja yang numpuk, eh temen kamu malah nyaut, "Halah, itu mah mending, gue dong kemarin kerja sampe jam 2 pagi, nggak tidur, bla bla bla..."? Nah, ini dia salah satu tanda EQ rendah: ketidakmampuan buat dengerin dan berempati. Alih-alih jadi pendengar yang baik, mereka malah hobi kompetisi penderitaan atau malah nggak peduli sama sekali.

Orang dengan EQ rendah juga sering "tone deaf". Mereka bisa aja melontarkan candaan yang nggak pantas atau nyinggung hal-hal sensitif di waktu yang salah. Misalnya, bercanda soal PHK pas suasana kantor lagi tegang-tegangnya. Mereka nggak bisa baca situasi atau "read the room". Buat mereka, yang penting mereka seneng atau pendapat mereka tersampaikan, bodo amat orang lain sakit hati atau nggak.

4. Jago Banget Main "Blame Game"

Kalau ada project yang gagal atau target yang nggak tercapai, orang dengan EQ rendah biasanya adalah orang pertama yang bakal nunjuk jari ke arah orang lain. Mereka punya seribu satu alasan buat melempar tanggung jawab. "Ini gara-gara divisi sebelah telat ngirim data," atau "Gue kan cuma ngikutin instruksi lo."

Mengakui kesalahan itu butuh kedewasaan mental, dan sayangnya, itu adalah barang langka buat mereka. Mereka lebih milih jadi "korban" keadaan daripada jadi pemimpin yang bertanggung jawab. Sikap pengecut kayak gini nih yang sering bikin tim jadi pecah kongsi karena nggak ada rasa saling percaya. Padahal kan dalam kerja kelompok, kalau kapal tenggelam, ya semua kena basah, bukan cuma satu orang doang.

5. Gagal Paham Sama Kode-Kode Sosial

Dunia kantor itu penuh dengan komunikasi non-verbal. Dari raut wajah bos yang lagi nggak enak sampe bahasa tubuh temen seruangan yang lagi pengen fokus dan nggak mau diganggu. Orang dengan EQ rendah sering banget gagal nangkep sinyal-sinyal ini. Mereka tetep aja ngajak ngobrol ngalor-ngidul pas orang lagi dikejar deadline, atau tetep nanya hal personal pas lawan bicaranya udah ngasih kode nggak nyaman.

Mereka kayak nggak punya antena buat ngerasain suasana di sekitarnya. Hal ini bikin mereka sering dianggap menyebalkan atau "nggak asyik" buat diajak kerja sama. Bukannya mereka jahat, tapi mereka emang beneran nggak paham kalau perilaku mereka itu ganggu. Capek, kan?

Memang sih, ngadepin orang kayak gini butuh stok sabar yang luasnya melebihi samudra. Tapi yang perlu diingat, kecerdasan emosional itu bukan sesuatu yang dibawa dari lahir dan nggak bisa diubah. EQ itu kayak skill, bisa dilatih asal orangnya mau belajar dan punya kesadaran diri (self-awareness). Kalau kamu ngerasa ada ciri-ciri di atas dalam diri kamu sendiri, jangan sedih dulu. Justru dengan menyadarinya, kamu udah selangkah lebih maju daripada orang yang terus-terusan denial.

Buat kita yang harus kerja bareng orang-orang kayak gitu, kuncinya cuma satu: jaga jarak emosional. Jangan biarkan ketidakteraturan emosi mereka ngerusak mood dan produktivitas kita. Fokus aja sama apa yang bisa kita kontrol, yaitu reaksi kita sendiri. Lagian, di kantor kita dibayar buat kerja, bukan buat jadi terapis gratisan buat rekan kerja yang belum selesai sama emosinya sendiri, kan?

Logo Radio
🔴 Radio Live