Perbedaan Pola Asuh dalam Mengasuh Manusia Kecil
Nisrina - Monday, 29 December 2025 | 09:38 AM


Jagat maya belakangan ini sering kali terbelah menjadi dua kubu besar setiap kali konten pola asuh Nikita Willy lewat di beranda media sosial. Di satu sisi ada kekaguman luar biasa melihat betapa tenangnya ia menghadapi anaknya, Issa, yang sedang tantrum atau menolak makan. Nikita tidak berteriak, tidak memukul, dan justru berjongkok untuk menyamakan tinggi matanya dengan sang anak sambil bertanya lembut tentang perasaan si kecil. Namun di sisi lain, kolom komentar juga dipenuhi oleh curhatan jenaka sekaligus getir dari para "alumni" anak tahun 90-an. Mereka mengenang masa kecil di mana diplomasi halus ala Nikita adalah hal yang mustahil, karena bahasa kasih sayang orang tua zaman dulu sering kali berwujud sabetan sapu lidi, lemparan sandal jepit yang akurat, atau sekadar tatapan mata melotot yang sudah cukup untuk membuat nyali ciut seketika.
Fenomena ini memunculkan istilah menggelitik yang disebut sebagai "VOC Parenting". Julukan ini merujuk pada gaya asuh otoriter ala kolonial yang banyak diterapkan oleh orang tua generasi terdahulu. Prinsip utamanya adalah kepatuhan mutlak tanpa banyak tanya. Dalam pola asuh ini, orang tua memegang monopoli kebenaran layaknya kongsi dagang Belanda di masa lalu. Anak diajarkan untuk takut melakukan kesalahan bukan karena mereka paham konsekuensinya, melainkan karena takut pada hukuman fisik atau verbal yang menanti. Emosi anak sering kali dikesampingkan dengan kalimat andalan "sudah diam jangan menangis" atau "karena Ibu bilang begitu". Hasilnya memang instan, anak menjadi penurut dan diam, namun sering kali menyimpan bom waktu berupa ketidakmampuan mengelola emosi atau rasa takut yang berlebihan untuk berpendapat.
Berbanding terbalik 180 derajat, gaya Gentle Parenting yang dipraktikkan Nikita Willy menawarkan pendekatan yang memanusiakan anak sejak dini. Banyak orang salah kaprah mengira bahwa gaya ini adalah pola asuh yang lembek dan membiarkan anak berbuat sesuka hati. Padahal kenyataannya justru jauh lebih melelahkan bagi orang tua. Dalam metode ini, orang tua dituntut untuk memiliki stok sabar setebal kamus ensiklopedia. Saat anak meledak emosinya, orang tua tidak boleh ikut meledak. Mereka harus menjadi "kontainer" yang menampung emosi tersebut, memvalidasi perasaan anak dengan kalimat seperti "Ibu tahu kamu kecewa", dan menerapkan disiplin lewat diskusi serta konsekuensi logis, bukan hukuman fisik. Konsep sounding atau memberi tahu anak sebelum melakukan sesuatu menjadi kunci agar anak merasa dihargai sebagai individu yang punya otonomi, bukan sekadar objek yang bisa disuruh-suruh.
Pergeseran drastis dari gaya tangan besi ke gaya penuh empati ini sebenarnya bukan berarti orang tua zaman dulu itu jahat atau tidak sayang. Kita perlu memahami konteks zaman. Orang tua tahun 90-an membesarkan anak dalam mode bertahan hidup atau survival mode. Akses informasi tentang psikologi anak sangat terbatas dan beban hidup mungkin jauh lebih keras secara fisik, sehingga kepatuhan instan dianggap sebagai solusi paling efisien untuk menjaga anak tetap aman dan sopan. Mereka melakukan yang terbaik dengan apa yang mereka tahu. Sementara orang tua masa kini, yang sering disebut generasi pemutus rantai trauma, memiliki kemewahan akses informasi. Mereka sadar bahwa membentak mungkin efektif untuk jangka pendek, tapi merusak sel otak anak untuk jangka panjang.
Pada akhirnya, perdebatan antara Gentle Parenting dan VOC Parenting bukanlah tentang mencari siapa yang paling benar. Keduanya memiliki tujuan mulia yang sama, yaitu ingin anak tumbuh menjadi manusia yang baik. Hanya saja jalannya yang berbeda. Gentle Parenting mengajarkan kita bahwa anak-anak juga manusia yang berhak marah dan kecewa, sementara ketegasan ala orang tua dulu mengajarkan tentang hierarki dan ketangguhan mental. Mungkin formula terbaik untuk masa depan adalah jalan tengah yang bijaksana, yakni memadukan validasi emosi dan kelembutan ala Nikita Willy, namun tetap menyelipkan ketegasan prinsip dan nilai sopan santun yang diwariskan oleh orang tua kita terdahulu. Karena membesarkan manusia tidak pernah memiliki rumus matematika yang pasti.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 5 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 4 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 4 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 4 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 3 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 3 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in 2 hours

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 4 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in an hour

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
in an hour






