Menyusun Resolusi Tahun Baru yang Realistis dan Bertahan Lama
Refa - Monday, 29 December 2025 | 09:00 AM


Setiap tahun, pasang jamur di ruang tamu, lalu di pagi hari, kucing hitam melintasi dinding, dan kita semua terhanyut di gelombang janji, “Aku akan lebih fit, lebih cerdas, lebih bahagia!” Namun, bila sudah berjam-jam terlewatkan, resolusi tersebut cepat saja hancur seperti kue lapis kering yang jatuh di lantai. Ada apa? Dan bagaimana cara menulis resolusi yang tak hanya terhuyung hilang di daftar “mimpi” semata?
Berikut ini beberapa cara “ngebuat” resolusi yang nggak cuma ada di kertas, tapi juga tetap berjalan sampai akhir tahun. Simak, ya!
1. Mulai Dari Gampang dan Bertahap
Siapa sih yang tidak pernah ngerasa “pukau” ketika melihat target yang terlampau tinggi? Coba bayangkan kamu ingin lari maraton tapi mulai dari 10 kilometer langsung. Padahal, kebanyakan orang hanya bisa lari 5 km tanpa mati lelah. Jadi, buat target kecil dulu. Misalnya, “Saya akan minum 2 liter air setiap hari” atau “Saya akan membaca 10 halaman buku tiap malam”. Setelah itu, barulah tambah tantangan. Ini mirip dengan teori “one step at a time” yang sering dibahas di forum fitness.
2. Pakai Metode SMART
SARANG? Kalo dibilang singkatnya, SMART = Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Jadi, ganti “Saya mau sehat” dengan “Saya mau menurunkan berat badan 2 kg di bulan Desember”. Jadi, kamu tahu kapan dan bagaimana menilai kemajuan. Kalau target masih terlalu “abstrak”, kamu bakal kehilangan arah.
3. Sesuaikan Dengan Nilai dan Prioritas Kamu
Resolusi yang selaras dengan nilai inti kamu akan lebih mudah dipegang. Misalnya, kalau kamu senang membantu orang, resolusi “Aku akan menjadi relawan di panti asuhan sekali sebulan” bisa lebih bermakna dibandingkan “Aku mau punya rumah mewah”. Kalau resolusi itu terasa “eksternal”, kamu akan sering melupakannya. Coba introspeksi: apa yang bikin hati gemercik setiap pagi?
4. Libatkan Teman atau Keluarga
“Satu orang nggak akan menembus gunung sendirian.” Jika temanmu setuju untuk ikut perjalanan, kamu akan lebih termotivasi. Bisa jadi semacam “challenge” di grup chat, di mana setiap minggu kamu update progres, atau bahkan bikin reward bersama saat milestone tercapai. Kalau kamu punya pasangan, coba set up “mini‑competition” dengan hadiah lucu. Misalnya, siapa yang paling cepat finish latihan yoga bakal makan es krim gratis.
5. Catat dan Pantau Secara Reguler
Membuat jurnal harian atau menggunakan aplikasi tracking tidak hanya membantu kamu memantau progress, tapi juga mengingatkan tentang komitmen. Kamu akan mengingat, “Nah, ini kali ini udah 30 hari saya minum air, mantap!” Gampangnya, setiap hari catat satu hal kecil yang sudah kamu lakukan. Gak perlu ribet, cukup “sudah makan sayur, sudah joging 15 menit”. Setelah beberapa bulan, kamu bisa meninjau apakah sudah mencapai tujuan atau belum.
6. Terimalah Kegagalan dan Adaptasi
Kita semua pernah gagal, lho. Yang penting bukan kegagalan itu sendiri, tapi bagaimana cara kita bangkit kembali. Jangan “melupakan” resolusi karena satu kali gagal. Jadikan itu sebagai pelajaran: “Ok, mungkin 30 menit lebih realistis daripada 60 menit.” Kuncinya adalah fleksibilitas, bukan keengganan.
7. Rayakan Setiap Pencapaian Kecil
Semua orang suka “feeling good” setelah mencapai sesuatu. Jadi, buat ritual kecil saat milestone tercapai. Mungkin sih, memutar lagu favorit, mengajak teman makan pizza, atau membeli barang kecil yang sudah lama diincar. Ini memberi dorongan positif dan memotivasi kamu tetap melangkah.
8. Buat Rencana Cadangan (Backup Plan)
Jika situasi tidak mendukung, kamu punya rencana B. Contohnya, kalau cuaca buruk menghalangi lari di luar, ganti dengan treadmill atau yoga di rumah. Siapkan dua opsi, supaya kamu tidak “ketinggalan” meski ada gangguan.
9. Konsistensi Lebih Penting Daripada Intensitas
Terlepas dari apa pun, yang paling penting adalah konsistensi. Seperti pepatah “jaga terus, nanti bertumbuh”. Lakukan sedikit tapi rutin lebih baik daripada melakukan seru-seruan tapi terhenti. Ingat, “kalo tak jadi, takkan pernah jadi”. Jadi, pilih kegiatan yang kamu nikmati, supaya “tahukah kamu?” masih terasa.
10. Ulangi Evaluasi Setiap Bulan
Setiap akhir bulan, angkat kertas, lihat semua pencatatan. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini membantu? Apakah saya masih termotivasi? Apakah ada perubahan yang perlu?” Berdasarkan hasilnya, tweak resolusi agar tetap relevan. Jangan takut merubah target, asal tetap berada pada arah yang sama.
Itu dia, 10 cara praktis buat ngerakit resolusi tahun baru yang realistis dan bertahan lama. Kamu bisa mulai dengan satu atau dua tip, lalu perlahan tambahkan lagi. Ingat, yang terpenting bukan seberapa banyak kata “saya mau”, tapi seberapa konsisten kamu melangkah. Siap membuat resolusi yang bukan sekadar “kata kosong” namun jadi bagian hidupmu? Selamat mencoba, dan semoga tahun ini lebih berwarna, lebih bersemangat, dan lebih penuh pencapaian.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
23 minutes ago

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
an hour ago

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
an hour ago

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
an hour ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
2 hours ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
2 hours ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
3 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
an hour ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
4 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
4 hours ago






