Ceritra
Ceritra Warga

Menjaga Fokus Saat Rekan Kerja Mulai Mengeluh Soal Atasan

Nisrina - Monday, 02 March 2026 | 07:15 PM

Background
Menjaga Fokus Saat Rekan Kerja Mulai Mengeluh Soal Atasan
Ilustrasi (Pexels/Canva Studio)

Bayangkan situasinya begini: Hari Jumat sore, kerjaan lagi numpuk-numpuknya, tiba-tiba rekan kerja di meja sebelah narik kursi dan mulai curhat. Isinya? Tentu saja keluhan soal atasan yang dianggap nggak adil, atau kebijakan kantor yang menurut dia nggak masuk akal. Di satu sisi, kamu merasa dia memang lagi stres banget. Tapi di sisi lain, kamu nggak setuju-setuju amat sama opininya. Kamu merasa si bos sebenarnya punya alasan kuat, atau kebijakan itu ya memang perlu diambil.

Di momen kayak gini, kita sering terjebak dalam dilema "serba salah". Kalau kita mengiyakan semua omongannya, kita merasa jadi pembohong atau malah ikut-ikutan menyebar aura negatif. Tapi kalau kita langsung membantah dan bilang, "Ah, nggak gitu juga kali, kamu aja yang baper," wah, bisa-bisa perang dunia ketiga pecah di pantry. Si teman merasa nggak didukung, dan kamu dicap sebagai orang yang nggak punya empati.

Nah, di sinilah pentingnya seni memvalidasi perasaan tanpa harus setuju dengan pendapat. Ini adalah skill dewa dalam dunia kerja yang bakal menyelamatkan kesehatan mental kamu sekaligus menjaga hubungan profesional tetap aman. Intinya satu: kita memanusiakan orangnya, tapi tetap objektif pada masalahnya.

Validasi Itu Bukan Berarti Mengangguk Setuju

Kesalahan terbesar kita adalah menganggap validasi itu sama dengan persetujuan. Padahal, dua hal ini bedanya sejauh Jakarta ke London. Memvalidasi artinya kamu mengakui bahwa emosi yang dirasakan orang tersebut itu nyata dan bisa dimengerti. Kamu nggak perlu setuju bahwa si Bos itu jahat, tapi kamu bisa memvalidasi bahwa temanmu merasa kecewa.

Contoh gampangnya begini. Temanmu bilang, "Gila ya, revisi ini nggak habis-habis, emang sengaja banget mau ngerjain gue!" Kamu tahu revisi itu penting demi kualitas. Alih-alih bilang "Iya, emang dia jahat," kamu bisa bilang, "Wah, pasti capek banget ya kalau harus revisi berulang kali di saat deadline mepet begini." Lihat perbedaannya? Kamu memvalidasi rasa capeknya, bukan tuduhan "sengaja ngerjain"-nya.

Strategi ini bikin lawan bicara merasa "didengar". Dan biasanya, orang yang merasa didengar itu tensinya bakal turun sendiri. Mereka nggak butuh solusi instan atau ceramah moral dari kamu, mereka cuma butuh ruang buat melepaskan uap panas yang sudah mendidih di kepala.

Teknik "I Hear You" yang Nggak Kaku

Gimana sih cara praktisnya biar nggak kelihatan kayak robot atau psikolog gadungan? Mulailah dengan mendengarkan secara aktif. Kadang kita dengerin orang curhat cuma buat nunggu giliran ngomong atau nyiapin argumen bantahan. Coba deh, tutup dulu laptopnya, taruh HP-nya, dan kasih perhatian penuh selama dua atau tiga menit.

Gunakan kalimat-kalimat netral yang fokus pada emosi. Kalimat seperti, "Gue bisa liat lo lagi frustrasi banget sama situasi ini," atau "Wajar banget sih kalau lo merasa kaget dapet kabar itu secara mendadak." Kalimat ini nggak bikin kamu berpihak, tapi bikin kamu terlihat sebagai rekan kerja yang suportif. Kamu nggak perlu membenarkan opininya yang mungkin bias, kamu cuma perlu mengakui keberadaan emosinya.

Ingat, emosi itu valid, tapi persepsi bisa salah. Dengan memvalidasi emosi, kamu membantu temanmu untuk lebih tenang. Dan orang yang tenang biasanya bakal lebih mudah diajak mikir rasional nantinya. Jadi, jangan buru-buru pengen jadi "hakim" yang mutusin siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hindari Toxic Positivity yang Bikin Enek

Penyakit paling umum di kantor kalau ada teman yang lagi curhat adalah menyodorkan toxic positivity. Kalimat-kalimat kayak "Sabar ya, ambil hikmahnya aja," atau "Masih mending lo punya kerjaan, di luar sana banyak yang pengangguran," itu beneran nggak membantu sama sekali. Bukannya merasa divalidasi, temanmu malah bakal merasa perasaannya itu nggak penting atau sepele.

Alih-alih menyuruh mereka bersyukur secara paksa, lebih baik berikan ruang buat mereka buat "merasakan" emosi itu. Kalau emang capek, ya bilang capek. Kalau emang kesel, ya wajar kalau kesel. Dengan nggak menepis perasaan negatif mereka, kamu sebenarnya lagi membangun kepercayaan. Teman kerja yang merasa dihargai secara emosional biasanya bakal lebih kooperatif pas kerja bareng tim ke depannya.

Kita nggak harus jadi bestie yang tahu semua rahasia hidupnya, tapi menjadi manusia yang punya empati di lingkungan kerja itu aset besar. Dunia kantor udah cukup keras dengan target dan KPI, jangan ditambah lagi dengan sikap dingin antar rekan kerja.

Menarik Batasan Tanpa Harus Musuhan

Terus, gimana kalau curhatannya sudah mulai melenceng ke arah gosip jahat atau mulai mengganggu produktivitas kamu? Di sinilah teknik validasi ini punya peran sebagai jembatan untuk menarik batasan atau boundaries. Kamu bisa memvalidasi perasaannya sebentar, lalu pelan-pelan arahkan kembali ke pekerjaan atau beri sinyal bahwa kamu harus lanjut kerja.

Contohnya: "Gue ngerti banget kenapa lo ngerasa nggak nyaman sama diskusi tadi. Kerasa banget sih tegangnya. Tapi sori banget, gue harus beresin laporan ini sebelum jam 5. Kita lanjut ngobrol pas jam istirahat atau pas pulang nanti ya?" Dengan begini, kamu nggak menolak orangnya, tapi kamu membatasi durasi interaksinya. Kamu tetap valid, tetap sopan, tapi kerjaan tetap aman.

Kesimpulannya, memvalidasi tanpa setuju itu adalah tentang keseimbangan. Kita nggak perlu jadi penjilat yang selalu bilang "iya" pada setiap keluhan rekan kerja, tapi kita juga jangan jadi robot yang nggak punya perasaan. Di dunia kerja yang serba cepat ini, kadang hal paling berharga yang bisa kita kasih ke rekan kerja bukan solusi teknis, melainkan pengakuan bahwa mereka nggak sendirian dalam menghadapi hari yang berat. Jadi, besok kalau ada yang curhat di pantry, tarik napas dalam-dalam, dengerin, validasi emosinya, dan tetep pegang prinsip kamu. Gampang, kan? Ya, minimal nggak bikin musuh baru, lah.

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live