Ceritra
Ceritra Warga

Mitos 'Bayar Hutang Tidur' di Akhir Pekan: Mengapa Tidur Seharian di Hari Minggu Justru Berbahaya?

Refa - Monday, 22 December 2025 | 09:32 AM

Background
Mitos 'Bayar Hutang Tidur' di Akhir Pekan: Mengapa Tidur Seharian di Hari Minggu Justru Berbahaya?
Ilustrasi Tidur (Pinterest/nutritious_life)

Pola hidup manusia modern sering kali terbagi menjadi dua zona waktu: Senin hingga Jumat adalah masa "kurang tidur" demi pekerjaan atau sekolah, sedangkan Sabtu dan Minggu adalah masa "balas dendam" dengan tidur hingga siang hari.

Logika sederhananya seperti sistem perbankan. Jika seseorang kurang tidur 2 jam setiap hari selama 5 hari kerja (total "hutang" 10 jam), maka ia merasa bisa membayarnya dengan tidur ekstra 5 jam di hari Sabtu dan 5 jam di hari Minggu. Impas, bukan?

Secara biologis, jawabannya tidak. Tubuh manusia tidak bekerja seperti rekening bank.

Para ahli tidur (somnologist) menyebut kebiasaan ini justru memicu kondisi yang lebih merusak bernama Social Jetlag. Berikut adalah alasan mengapa strategi "bayar di akhir pekan" ini gagal memulihkan tubuh dan justru memperparah insomnia di pekan berikutnya.

Matematika Biologis yang Tidak Sejalan

Penelitian menunjukkan bahwa pemulihan kognitif tidak terjadi secepat pemulihan rasa kantuk.

Mungkin setelah tidur 12 jam di hari Sabtu, rasa kantuk memang hilang dan tubuh terasa segar sesaat. Namun, fungsi otak, seperti kecepatan reaksi, kemampuan fokus, dan kestabilan emosi sering kali belum pulih sepenuhnya.

Sebuah studi menemukan bahwa untuk setiap satu jam hutang tidur, tubuh memerlukan waktu pemulihan hingga empat hari agar kinerja otak kembali ke titik optimal. Jadi, tidur panjang di akhir pekan hanyalah "plester luka" sementara yang tidak benar-benar memperbaiki kerusakan seluler akibat kurang tidur selama lima hari sebelumnya.

Mengenal Fenomena "Social Jetlag"

Istilah ini diciptakan oleh kronobiolog Till Roenneberg. Social Jetlag terjadi ketika ada perbedaan drastis antara jam tidur di hari kerja dengan jam tidur di hari libur.

Bayangkan seseorang bangun pukul 06.00 pagi setiap Senin-Jumat, lalu bangun pukul 11.00 siang di hari Sabtu-Minggu. Selisih 5 jam ini membuat otak bingung.

Efeknya sama persis seperti orang yang terbang dari Jakarta ke Tokyo setiap hari Jumat, lalu terbang kembali ke Jakarta pada hari Senin. Tubuh dipaksa berpindah zona waktu secara biologis setiap minggu tanpa benar-benar berpindah tempat. Akibatnya, ritme sirkadian (jam internal tubuh) menjadi kacau balau. Hormon pencernaan, suhu tubuh, dan siklus melatonin menjadi tidak sinkron.

Pemicu Utama "Sunday Night Insomnia"

Pernahkah merasa sangat sulit tidur pada Minggu malam, padahal besok harus bangun pagi untuk bekerja? Ini adalah konsekuensi langsung dari tidur berlebihan di pagi harinya.

Karena bangun pukul 11.00 siang di hari Minggu, tekanan tidur (sleep pressure), yaitu zat kimia di otak yang membuat mengantuk belum cukup menumpuk pada pukul 22.00 malam. Tubuh merasa baru sadar selama 11 jam, sehingga belum siap untuk tidur lagi.

Akibatnya, mata tetap terbuka hingga jam 02.00 pagi. Saat alarm berbunyi pukul 06.00 Senin pagi, tubuh kembali mengalami kurang tidur parah. Inilah yang sering disebut sebagai Monday Blues; rasa lelah luar biasa di hari Senin yang sebenarnya hanyalah gejala jet lag yang diciptakan sendiri.

Risiko Metabolisme dan Berat Badan

Dampak Social Jetlag tidak hanya pada rasa kantuk, tapi juga pada lingkar pinggang.

Ritme sirkadian mengatur kapan tubuh harus memproses gula dan lemak. Ketika pola tidur berubah-ubah drastis (5 hari bangun pagi, 2 hari bangun siang), metabolisme tubuh menjadi resisten terhadap insulin.

Penelitian menunjukkan korelasi kuat antara Social Jetlag dengan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Tubuh yang bingung dengan "zona waktu" yang berubah-ubah cenderung menimbun lemak lebih banyak dan meningkatkan nafsu makan terhadap makanan berkalori tinggi sebagai kompensasi energi.

Strategi Terbaik Konsistensi > Durasi

Tubuh manusia mencintai rutinitas. Solusi untuk mengatasi kurang tidur bukanlah dengan "balas dendam" di akhir pekan, melainkan menjaga konsistensi.

Para ahli menyarankan agar waktu bangun di akhir pekan tidak bergeser lebih dari 60 menit dibandingkan hari kerja. Jika biasa bangun jam 6 pagi, maksimal bangun jam 7 pagi di hari Minggu.

Jika masih merasa sangat lelah, disarankan untuk melakukan Power Nap (tidur siang singkat) selama 20 menit di siang hari antara pukul 13.00-15.00. Cara ini membayar sebagian hutang tidur tanpa merusak jam biologis malam hari, sehingga siklus tidur di hari Senin tetap terjaga aman.

Logo Radio
🔴 Radio Live