Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Obrolan Sederhana dengan Orang Tua Sering Berujung Perang Dunia Ketiga?

Nisrina - Tuesday, 30 December 2025 | 01:48 PM

Background
Mengapa Obrolan Sederhana dengan Orang Tua Sering Berujung Perang Dunia Ketiga?
Mengobrol bersama orang tua yang kerap kali berujung pada adu argumen (Freepik/)

Pernahkah Anda berjanji pada diri sendiri untuk bersabar sebelum menelepon atau mengunjungi orang tua, namun baru lima menit percakapan berlangsung emosi Anda sudah meledak tidak terkendali? Fenomena ini adalah ironi yang dialami oleh banyak orang dewasa di mana kita bisa bersikap sangat profesional dan sabar menghadapi klien yang rewel di kantor, tetapi mendadak sumbu sabar kita menjadi sangat pendek saat berhadapan dengan ayah atau ibu sendiri. Rasa bersalah biasanya akan menghantui setelah pertengkaran mereda, namun siklus yang sama terus berulang di kemudian hari. Ternyata ada penjelasan ilmiah di balik dinamika melelahkan ini yang bukan sekadar masalah ketidakcocokan karakter atau perbedaan generasi semata.

Akar permasalahan ini dapat dijelaskan melalui kacamata psikologi komunikasi yang disebut Expectancy Violation Theory atau Teori Pelanggaran Harapan. Menurut Burgoon dalam studinya tahun 2015, konflik interpersonal sering kali meletup bukan karena niat jahat salah satu pihak, melainkan karena adanya jurang menganga antara harapan dan kenyataan. Sebagai seorang anak, kita secara tidak sadar membawa harapan bahwa orang tua akan menjadi sosok yang pengertian, pendengar yang baik, dan mampu memvalidasi perasaan serta pilihan hidup kita. Kita ingin dianggap sebagai sesama orang dewasa yang setara. Sebaliknya, orang tua juga memiliki skenario harapan mereka sendiri. Mereka cenderung berharap anak tetap menjadi sosok yang penurut, mau mendengarkan petuah, dan mengikuti jalan hidup yang sudah mereka arahkan berdasarkan pengalaman hidup mereka yang lebih panjang.

Ketika kedua skenario yang bertolak belakang ini bertabrakan dalam sebuah percakapan makan malam, maka kekecewaan adalah hasil yang tak terelakkan. Harapan yang tidak terpenuhi ini memicu rasa frustrasi yang kemudian bermanifestasi menjadi respons emosional yang reaktif. Komentar orang tua yang sebenarnya berniat memberi saran terdengar seperti kritik pedas di telinga anak, sementara pembelaan diri anak terdengar seperti pembangkangan di telinga orang tua. Burgoon memperingatkan bahwa jika pola gesekan ini terus dibiarkan tanpa evaluasi, akan muncul tiga dampak serius dalam jangka panjang. Pertama adalah ekspektasi yang semakin kaku dan ekstrem di mana kita sudah berprasangka buruk bahkan sebelum mengobrol. Kedua adalah konflik yang meledak semakin cepat karena toleransi yang menipis. Ketiga dan yang paling menyedihkan adalah terciptanya jarak emosional yang lebar di mana hubungan hanya bertahan di permukaan tanpa kedalaman rasa.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk memutus rantai panas ini? Langkah pertamanya adalah mengenali pola lama dan menyadari pemicu atau trigger pribadi kita. Kita perlu belajar menyampaikan batasan dengan tenang dan melatih komunikasi asertif, bukan agresif. Sampaikan bahwa kita butuh didengar tanpa dihakimi, namun sampaikanlah dengan nada bicara yang merendah. Proses ini memang tidak instan dan tidak menjamin orang tua akan berubah 180 derajat. Namun setidaknya dengan menurunkan ekspektasi dan mengubah cara kita merespons, kita sudah mengambil kendali untuk menciptakan suasana yang lebih damai bagi kesehatan mental kita sendiri.

Logo Radio
🔴 Radio Live