Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Lampion Identik dengan Budaya Tionghoa? Ini Jawabannya

Nisrina - Wednesday, 25 March 2026 | 03:15 PM

Background
Mengapa Lampion Identik dengan Budaya Tionghoa? Ini Jawabannya
Ilustrasi (Pexels/Imam Efendi)

Bayangkan kamu lagi jalan-jalan di area pecinan pas malam hari, atau mungkin lagi ngerayain momen Imlek. Hal pertama yang pasti ketangkap mata kamu—selain makanan enak dan warna merah di mana-mana—adalah deretan lampu bulat berwarna oranye kemerahan yang menggantung cantik di langit-langit jalan. Yup, lampion. Benda satu ini kayaknya sudah jadi "seragam wajib" kalau kita ngomongin soal budaya Tiongkok atau Tionghoa. Tapi pernah nggak sih kepikiran, kenapa harus lampion? Kenapa nggak lampu tumblr atau neon sekalian biar lebih kekinian?

Ternyata, sejarah lampion itu jauh lebih dalam daripada sekadar biar estetik buat konten Instagram. Lampion itu simbol, sejarah, sekaligus saksi bisu perjalanan ribuan tahun sebuah peradaban. Yuk, kita kupas pelan-pelan kenapa benda ini identik banget sama budaya Tiongkok, sambil ngopi santai.

Bermula dari Alat Penerangan yang 'Upgrade' Jadi Simbol Suci

Kalau kita tarik mundur mesin waktu ke zaman Dinasti Han (sekitar 200-an tahun sebelum Masehi), lampion awalnya ya cuma alat penerangan biasa. Orang zaman dulu belum punya PLN, jadi mereka bikin kerangka dari bambu atau kayu, terus dibungkus kertas atau sutra tipis supaya apinya nggak gampang mati kena angin. Praktis, kan? Tapi pelan-pelan, fungsi fungsional ini berubah jadi sesuatu yang spiritual.

Konon, para biksu Buddha di masa itu punya tradisi menyalakan lampu pada hari ke-15 bulan pertama kalender lunar sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha. Kaisar Ming dari Dinasti Han yang waktu itu pendukung berat ajaran Buddha, suka banget sama pemandangan itu. Dia akhirnya memerintahkan semua orang, dari istana sampai rakyat jelata, buat ikut menyalakan lampion. Dari situlah "Festival Lampion" alias Yuan Xiao Jie lahir. Jadi, lampion itu awalnya adalah bentuk "glow up" spiritual sebelum akhirnya jadi tradisi rakyat yang seru.

Legenda Burung Surga yang Hampir Bikin Satu Kota Terbakar

Orang Tiongkok itu jago banget bikin cerita legenda yang bikin kita manggut-manggut. Ada satu cerita rakyat yang populer banget soal asal-usul lampion. Katanya sih, dulu ada seekor burung suci dari surga yang nyasar ke bumi dan nggak sengaja dibunuh sama warga desa. Kaisar Langit marah besar dong, dan berencana buat ngebakar desa itu sebagai balasan pada hari ke-15 bulan pertama.

Nah, ada seorang pria bijak yang punya ide jenius buat nipu Kaisar Langit. Dia nyuruh semua warga buat gantung lampion merah di depan rumah, nyalain api unggun, dan main kembang api. Pas pasukan surga turun mau ngebakar desa, mereka ngelihat dari jauh desa itu sudah merah membara kayak lagi kebakaran hebat. Mereka lapor ke Kaisar Langit kalau tugas sudah beres, padahal itu cuma tipuan lampion! Sejak saat itu, lampion dianggap sebagai simbol keberuntungan dan cara buat nolak bala. Makanya, warna lampion didominasi merah karena merah itu warna 'power' yang bisa ngusir roh jahat atau nasib sial.

Lebih dari Sekadar Lampu: Ada Teka-Teki di Baliknya

Satu hal yang bikin budaya lampion ini unik dan "nggak ngebosenin" adalah tradisi menebak teka-teki lampion atau Cai Deng Mi. Jadi, lampion itu bukan cuma digantung doang. Biasanya ada kertas kecil yang ditempel di lampion berisi teka-teki lucu, cerdas, atau kadang bikin mikir keras. Kalau kamu bisa jawab, biasanya ada hadiahnya.

Asli, ini keren banget sih menurut gue. Bayangin di zaman dulu, festival lampion itu jadi ajang bersosialisasi paling hits. Anak muda bisa tebar pesona lewat kecerdasan mereka jawab teka-teki. Bisa dibilang, festival lampion itu adalah "dating apps" versi tradisional. Seru, intelektual, sekaligus romantis. Nggak heran kalau lampion jadi identitas kuat karena melibatkan interaksi sosial yang hangat antar warga.

Simbol Harapan dan Reuni Keluarga

Kenapa sih sampai sekarang lampion masih eksis? Karena maknanya relevan banget sampai kapanpun. Bentuk lampion yang bulat melambangkan kebulatan tekad dan persatuan keluarga. Dalam bahasa Mandarin, pengucapan lampion (deng) mirip dengan pengucapan kata untuk "keturunan" atau "orang". Jadi, nyalain lampion itu doa biar keluarga makin harmonis dan regenerasi tetap jalan terus.

Di Indonesia sendiri, kita kenal perayaan Cap Go Meh yang merupakan puncak dari rangkaian Imlek. Di sini, lampion makin terasa "lokal" karena sudah berasimilasi dengan budaya kita. Lihat saja di Singkawang atau Semarang, lampion jadi jembatan yang menyatukan berbagai etnis buat kumpul bareng. Itulah hebatnya budaya; dia nggak kaku, dia cair, dan dia selalu bisa bikin kita ngerasa "terang" di tengah kegelapan.

Lampion Adalah Kita yang Ingin Bersinar

Jadi, kalau ditanya kenapa lampion identik dengan budaya Tiongkok, jawabannya bukan cuma karena mereka yang nemuin pertama kali. Tapi karena lampion membawa filosofi tentang cahaya di tengah gelap, tentang kecerdikan melawan nasib buruk (kayak cerita burung surga tadi), dan tentang pentingnya kehangatan keluarga.

Di zaman sekarang yang serba digital, ngelihat lampion bergoyang kena angin itu punya efek meditasi tersendiri. Ada rasa damai yang ditawarkan. Lampion mengingatkan kita kalau sesederhana apapun cahaya yang kita punya, kalau dikumpulin bareng-bareng—kayak di festival—hasilnya bakal luar biasa indah. Jadi, sudah siap hunting foto lampion buat update story selanjutnya? Jangan lupa maknai juga ya, bukan cuma ambil visualnya doang!

Logo Radio
🔴 Radio Live