Ceritra
Ceritra Warga

Ubah Insecure Jadi Motivasi Tanpa Merasa Tertinggal

Nisrina - Wednesday, 25 March 2026 | 11:15 AM

Background
Ubah Insecure Jadi Motivasi Tanpa Merasa Tertinggal
Ilustrasi (osc.medcom.id/)

Pernah nggak sih kamu lagi asyik rebahan di jam dua pagi, mata udah tinggal lima watt, tapi jempol masih gatal scroll TikTok atau Instagram? Terus tiba-tiba lewat video anak umur 22 tahun yang sudah punya startup sendiri, jalan-jalan ke Swiss, atau pamer saldo tabungan yang nolnya bikin pusing kepala. Seketika, kasur yang tadinya empuk jadi berasa kayak paku. Perasaan insecure langsung menyerang, dan pikiran kamu mulai berisik: "Gue selama ini ngapain aja ya?"

Fenomena ini bukan cuma dialami kamu doang. Jujurly, hampir semua orang di generasi kita lagi ngerasain hal yang sama: kelelahan kolektif. Kita capek bukan cuma karena kerja keras nyari cuan, tapi karena standar "sukses" yang makin lama makin nggak masuk akal. Standar sukses zaman sekarang itu kayak daki di leher, makin digosok makin kelihatan banyak, dan nggak ada habisnya.

Dulu, standar sukses itu simpel banget. Punya kerjaan tetap, bisa cicil rumah, dan punya keluarga yang sehat sudah dianggap "jadi orang". Tapi sekarang? Wadidaw, standarnya sudah bergeser jauh. Sukses sekarang itu paket lengkap: harus punya passive income, badan harus fit ala-ala gym rat, kulit glowing tanpa pori-pori, hobi yang estetik, dan kalau bisa sambil "healing" tiap bulan ke Bali atau Labuan Bajo. Kalau kamu cuma kerja 9-to-5 terus pulang tidur, rasanya kayak ada yang kurang. Kamu dianggap nggak punya ambisi, atau bahasa kerennya, nggak punya "hustle culture" di dalam nadi.

Masalah utamanya adalah media sosial yang jadi etalase kebahagiaan orang lain. Kita sering lupa kalau apa yang kita lihat di layar HP itu cuma cuplikan terbaik (highlight reel), bukan proses berdarah-darahnya. Kita membandingkan "behind the scene" hidup kita yang berantakan dengan "red carpet" hidup orang lain. Ya jelas kalah telak, Bos! Akibatnya, muncul tekanan konstan untuk selalu terlihat produktif. Istirahat sedikit langsung merasa bersalah. Nonton Netflix satu episode aja berasa kayak dosa besar karena ngerasa harusnya jam itu dipakai buat belajar investasi atau jualan online.

Belum lagi soal narasi "berdikari" yang sering banget diglorifikasi. Banyak influencer bilang kalau semua orang bisa sukses asal kerja keras. Padahal ya nggak gitu juga mainnya. Ada variabel bernama "privilese" yang sering banget ditutup-tutupi. Nggak semua orang punya modal awal yang sama, koneksi yang luas, atau jaring pengaman finansial dari orang tua. Memaksa semua orang untuk lari di lintasan yang berbeda dengan target waktu yang sama itu kan sebenernya nggak adil. Tapi ya gitu, dunia kadang nggak mau dengar alasan itu. Pokoknya kalau kamu belum sukses di umur 25, kamu dianggap telat start.

Keinginan untuk selalu jadi "alpha" atau jadi yang terbaik di segala bidang ini akhirnya bikin mental kita rontok. Istilah burnout sekarang udah kayak menu sarapan sehari-hari. Banyak anak muda yang fisiknya masih kuat, tapi jiwanya udah jompo. Kita mengejar sesuatu yang sebenarnya nggak kita butuhin, cuma demi validasi dari orang-orang yang bahkan nggak benar-benar peduli sama kita. Kita beli barang mahal supaya dibilang sukses, padahal cicilannya bikin kita nggak bisa tidur nyenyak.

Selain itu, standar sukses sekarang sering banget dikaitkan dengan angka. Followers harus ribuan, gaji harus dua digit, tabungan harus ratusan juta sebelum kepala tiga. Kita jadi kayak robot yang cuma fokus sama indikator kinerja utama (KPI) hidup. Padahal, kesuksesan itu sifatnya personal banget. Ada orang yang merasa sukses kalau bisa pulang kerja tepat waktu dan main bareng anaknya. Ada yang merasa sukses kalau bisa masak makanan enak buat orang rumah. Tapi definisi receh kayak gini seringkali dianggap nggak keren karena nggak bisa diposting dengan caption inspiratif di LinkedIn.

Lalu, gimana caranya supaya kita nggak makin gila? Mungkin sudah saatnya kita mulai melakukan "decoupling" atau memisahkan diri dari standar umum. Kita perlu berani bilang, "Oke, dia hebat dengan pencapaiannya, tapi gue juga oke dengan kecepatan gue sendiri." Nggak perlu FOMO (Fear of Missing Out) berlebihan. Dunia nggak bakal kiamat kok kalau kamu nggak punya saham Tesla atau nggak paham kripto tahun ini.

Belajar untuk merasa cukup itu ternyata lebih susah daripada belajar cari duit. Tapi itu satu-satunya cara supaya kita tetap waras. Sukses itu bukan tentang siapa yang paling cepat sampai ke garis finish, karena garis finish setiap orang itu beda-beda tempatnya. Ada yang finishnya di puncak gunung, ada yang cuma di pinggir pantai sambil minum es kelapa. Keduanya valid, keduanya hebat.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa capek banget, coba taruh HP-nya sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Ingat kalau kamu itu manusia, bukan mesin algoritma yang harus selalu update dan tampil sempurna tiap detik. Menjadi biasa-biasa saja tapi bahagia itu sebenernya adalah sebuah kemewahan baru di tengah dunia yang makin ambisius ini. Nggak apa-apa kok kalau kamu belum "jadi apa-apa" versi orang lain, asalkan kamu tetap jadi diri kamu sendiri yang versi tenang dan damai.

Pada akhirnya, standar sukses paling tinggi adalah saat kamu bisa tidur nyenyak tanpa perlu mikirin apa kata orang tentang hidupmu. Dan kalau kamu sudah bisa melakukan itu, selamat, kamu sudah menang di level yang paling sulit.

Logo Radio
🔴 Radio Live