Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Humor Seksual dan Komentar Meremehkan Menjadi Fondasi Kekerasan Seksual

Nisrina - Saturday, 13 December 2025 | 03:28 PM

Background
Mengapa Humor Seksual dan Komentar Meremehkan Menjadi Fondasi Kekerasan Seksual
Rape culture pyramid (Fakultas Psikologi UNTAG Surabaya/)

Budaya perkosaan (rape culture) adalah sebuah lingkungan sosial yang secara tidak kentara menormalisasi dan membenarkan kekerasan seksual melalui sikap, praktik, dan keyakinan umum. Inti dari budaya ini bukanlah hanya tindakan pemerkosaan itu sendiri, melainkan spektrum perilaku yang luas, termasuk bahasa dan ungkapan verbal sehari-hari, yang menciptakan iklim di mana kekerasan seksual dapat tumbuh subur. Sering kali, "kata-kata kecil" atau komentar yang dianggap sepele dan humoris menjadi fondasi yang mengokohkan normalisasi ini.

Untuk memahami bagaimana komentar sehari-hari dapat berujung pada kekerasan ekstrem, kita dapat merujuk pada model konseptual Piramida Budaya Perkosaan (Rape Culture Pyramid). Piramida ini mengilustrasikan bagaimana tindakan-tindakan yang dianggap paling ringan atau "tidak berbahaya" berada di dasar, namun merupakan prasyarat bagi tindakan kekerasan fisik yang berada di puncaknya.

1. Dasar Piramida (Normalisasi dan Penerimaan): Lapisan paling bawah ini didominasi oleh perilaku dan bahasa yang dilegitimasi secara sosial, dianggap sebagai "candaan" atau "hal biasa". Ini mencakup:

  • Humor Seksual: Lelucon atau komentar yang merendahkan atau meremehkan gender atau seksualitas, seperti lelucon tentang pelecehan.
  • Stereotip Gender: Keyakinan kaku tentang peran gender yang menyalahkan korban atau menoleransi perilaku agresif pria.
  • Objektifikasi: Meremehkan nilai seseorang hanya sebatas penampilan fisiknya.

2. Lapisan Tengah (Pelecehan dan Intimidasi): Di lapisan ini, perilaku menjadi lebih jelas bersifat agresif dan langsung, didorong oleh fondasi penerimaan dari dasar piramida. Contohnya adalah:

  • Pelecehan Verbal: Catcalling atau siulan di tempat umum, komentar yang tidak diminta tentang tubuh seseorang.
  • Slut-shaming dan Victim-blaming: Tindakan mempermalukan korban atau mempertanyakan pakaian/perilaku korban, bukan menyalahkan pelaku.
  • Mengabaikan Batasan: Tekanan sosial untuk terus mendesak seseorang meskipun batasan telah diungkapkan ("Hanya bercanda, jangan baper").

3. Puncak Piramida (Kekerasan dan Paksaan): Puncak piramida adalah manifestasi fisik dan ekstrem, yang mencakup percobaan pemerkosaan, pemerkosaan, dan kekerasan seksual lainnya. Menurut model ini, tindakan di puncak tidak akan terjadi sesering atau semudah itu tanpa adanya dasar dan lapisan tengah yang telah melembutkan resistensi sosial terhadap perilaku merendahkan.

Mengubah Budaya: Tindakan Nyata Melawan Normalisasi

Menghentikan budaya perkosaan harus dimulai dari dasar piramida. Hal ini memerlukan kesadaran kolektif untuk menolak dan menantang "kata-kata kecil" yang mengandung bibit kekerasan, mengubah norma sosial agar penghormatan terhadap persetujuan (consent) dan batasan individu menjadi nilai yang tak terpisahkan.

Ketika Anda mendengar lelucon atau komentar bernada budaya perkosaan yang meremehkan korban, menormalisasi pelecehan, atau mengobjektifikasi, ada beberapa langkah lugas yang dapat diambil untuk melakukan intervensi secara aman dan efektif:

  • Tolak Secara Langsung dan Singkat: Respon cepat dan tenang adalah kunci. Anda bisa mengatakan, "Itu tidak lucu," atau "Saya tidak setuju dengan candaan seperti itu." Jangan berikan pembenaran yang panjang, cukup tegaskan batas Anda.
  • Alihkan Fokus pada Makna: Alih-alih langsung menuduh, tanyakan, "Apa yang membuat itu lucu?" atau "Apakah kamu benar-benar menganggap pelecehan itu bahan lelucon?" Pertanyaan ini memaksa pelaku lelucon untuk merefleksikan kembali makna di balik perkataannya.
  • Gunakan Istilah yang Tepat: Sebut perilaku itu sesuai namanya, misalnya, "Itu adalah pelecehan verbal," atau "Itu bentuk victim-blaming." Bahasa yang tegas dapat memutus normalisasi lelucon tersebut.
  • Dukung Korban (Jika Ada): Jika lelucon tersebut ditujukan kepada seseorang atau membuat orang lain tidak nyaman, alihkan perhatian pada korban (jika aman) dengan bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?" atau "Saya minta maaf kamu harus mendengar itu."
  • Edukasi dalam Konteks yang Tepat: Jika situasinya memungkinkan dan personal, ajak bicara secara pribadi untuk menjelaskan mengapa bahasa tersebut berbahaya. Fokuskan pada dampak dari kata-kata tersebut, bukan pada niat si pembicara.

Intervensi sekecil apa pun dapat menciptakan ripple effect yang menantang penerimaan sosial terhadap perilaku merendahkan. Dengan demikian, setiap individu memegang peran penting dalam membongkar fondasi Piramida Budaya Perkosaan dan membangun lingkungan yang lebih menghargai persetujuan dan martabat manusia.

Logo Radio
🔴 Radio Live