Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Angka Pernikahan Kembali Menggeliat di Tahun 2025?

Nisrina - Thursday, 01 January 2026 | 12:45 PM

Background
Mengapa Angka Pernikahan Kembali Menggeliat di Tahun 2025?
Angka pernikahan kembali meningkat di tahun 2025 (Freepik/)

Selama beberapa tahun terakhir, narasi tentang pernikahan di Indonesia sempat diselimuti oleh awan mendung. Kita sering mendengar istilah "resesi seks" atau keengganan generasi muda untuk berumah tangga karena himpitan ekonomi dan trauma generasi sandwich. Angka pernikahan nasional sempat menyentuh titik terendah yang membuat banyak sosiolog dan pemerintah khawatir akan dampaknya terhadap regenerasi bangsa. Namun di tahun 2025 ini, angin segar mulai berhembus kembali. Data terbaru menunjukkan adanya tren kenaikan angka pernikahan nasional yang cukup signifikan. Fenomena ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan sebuah sinyal sosial bahwa optimisme untuk membangun keluarga kembali tumbuh di tengah masyarakat kita.

Kenaikan ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan. Salah satu faktor pendorong utamanya adalah membaiknya stabilitas ekonomi pasca ketidakpastian global beberapa tahun silam. Namun yang lebih menarik untuk disoroti adalah perubahan pola pikir atau mindset calon pengantin masa kini. Jika dulu pernikahan sering tertunda karena beban biaya resepsi yang selangit demi gengsi sosial, kini pasangan muda jauh lebih realistis dan pragmatis. Tren intimate wedding atau pernikahan sederhana yang hanya mengundang keluarga inti dan teman dekat semakin dimaklumi dan justru dianggap lebih sakral. Penurunan standar gengsi ini secara otomatis menurunkan hambatan finansial untuk menikah, sehingga banyak pasangan merasa lebih berani untuk melangkah ke pelaminan tanpa takut terjerat utang pesta.

Selain faktor ekonomi dan pergeseran budaya resepsi, kenaikan angka pernikahan ini juga mencerminkan kedewasaan mental generasi muda. Penurunan angka pernikahan di tahun-tahun sebelumnya sebenarnya bisa dilihat sebagai fase "puasa" di mana anak muda memilih untuk menunda bukan karena menolak pernikahan, tetapi karena ingin mempersiapkan diri lebih baik. Mereka belajar dari kesalahan generasi sebelumnya. Kini, ketika mereka memutuskan menikah di tahun 2025, keputusan itu didasari oleh kesiapan finansial yang lebih matang dan literasi emosi yang lebih baik. Mereka tidak lagi menikah karena desakan usia atau pertanyaan tetangga, melainkan karena kesadaran penuh untuk membangun kemitraan hidup yang sehat.

Peran pemerintah dan berbagai lembaga sosial juga tidak bisa dipandang sebelah mata dalam tren positif ini. Gencarnya kampanye mengenai pencegahan stunting, konseling pranikah yang lebih mudah diakses, serta berbagai program bantuan perumahan bagi pasangan muda memberikan rasa aman yang dibutuhkan. Negara hadir memberikan kepastian bahwa membangun keluarga tidak harus dijalani sendirian dengan beban berat. Rasa didukung inilah yang perlahan mengikis ketakutan atau fear of marriage yang sempat menghantui benak Gen Z dan milenial akhir.

Pada akhirnya, kembalinya minat masyarakat untuk menikah adalah kabar baik bagi keberlanjutan struktur sosial kita. Pernikahan bukan hanya soal menyatukan dua individu, tetapi juga merupakan institusi terkecil tempat karakter manusia masa depan ditempa. Lonjakan angka di tahun 2025 ini mengajarkan kita bahwa di tengah tantangan zaman yang serba sulit, harapan dan cinta tetap menemukan jalannya. Masyarakat kita telah membuktikan bahwa mereka mampu beradaptasi, mengubah tantangan menjadi peluang, dan kembali berani berkomitmen untuk merajut masa depan bersama orang terkasih.

Logo Radio
🔴 Radio Live