Ceritra
Ceritra Warga

Makna Falsafah Jawa Ojo Adigang Adigung Adiguna

Nisrina - Thursday, 05 February 2026 | 05:15 PM

Background
Makna Falsafah Jawa Ojo Adigang Adigung Adiguna
Ilustrasi (Facebook/Sejarah Jogyakarta)

Kebudayaan Jawa dikenal memiliki gudang kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu. Nasihat para leluhur sering kali dikemas dalam peribahasa atau tembang yang indah namun sarat akan makna mendalam tentang kehidupan. Salah satu ajaran yang paling populer dan masih sangat relevan hingga detik ini adalah falsafah "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna".

Di tengah arus modernisasi yang serba cepat dan kompetitif sifat manusia sering kali tergelincir pada kesombongan. Media sosial menjadi panggung baru untuk memamerkan kekuatan kekayaan dan kepintaran yang sering kali berujung pada hilangnya tata krama. Falsafah ini hadir sebagai rem atau pengingat agar manusia tetap membumi dan tidak lupa diri.

Artikel ini akan mengupas tuntas makna di balik tiga kata sakti tersebut. Kita akan menyelami simbolisme hewan yang melekat padanya relevansinya dengan perilaku manusia modern serta bagaimana menerapkan nilai luhur ini agar hidup menjadi lebih tenang dan bermartabat. Simak ulasan lengkapnya sebagai bekal introspeksi diri menuju pribadi yang berbudi pekerti luhur.

Mengenal Akar Falsafah Anti Kesombongan

Ungkapan "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" berakar dari karya sastra klasik Jawa. Banyak literatur mengaitkannya dengan Serat Wulangreh karya Sri Susuhunan Pakubuwono IV raja Kasunanan Surakarta. Ajaran ini pada dasarnya adalah larangan keras terhadap sifat takabur atau sombong.

Secara harfiah "Ojo" berarti jangan. Sementara ketiga kata berikutnya mewakili tiga watak buruk yang harus dihindari oleh seorang ksatria atau manusia seutuhnya. Ketiga watak ini sering dikaitkan dengan perumpamaan tiga hewan yaitu Kijang Gajah dan Ular.

Leluhur Jawa menggunakan metafora hewan untuk memudahkan masyarakat memahami karakter manusia. Tujuannya sederhana yaitu agar manusia tidak berperilaku seperti hewan yang hanya mengandalkan insting dan kelebihan fisiknya saja melainkan menggunakan hati nurani dan akal budi dalam bermasyarakat.

Adigang Simbol Mengandalkan Kekuatan Fisik

Kata pertama adalah Adigang. Sifat ini disimbolkan dengan hewan Kijang. Kijang dikenal sebagai hewan yang lincah gesit dan memiliki kemampuan lari yang sangat cepat serta tanduk yang kuat. Dalam konteks perilaku manusia Adigang menggambarkan seseorang yang menyombongkan kekuatan fisik kekuasaan atau power yang dimilikinya.

Orang yang memiliki sifat Adigang cenderung menggunakan otot daripada otak. Mereka merasa paling kuat paling berkuasa dan tidak segan segan menindas orang lain yang dianggap lebih lemah. Mentalitas "siapa kuat dia menang" adalah ciri khas dari watak ini.

Di era sekarang perilaku Adigang bisa kita lihat pada oknum yang menyalahgunakan jabatan untuk menekan bawahan premanisme atau bahkan perilaku bullying di sekolah dan tempat kerja. Mereka lupa bahwa kekuatan fisik dan kekuasaan itu ada batasnya dan suatu saat bisa runtuh seketika.

Adigung Jebakan Kebanggaan Semu Harta dan Keturunan

Kata kedua adalah Adigung. Sifat ini diwakili oleh hewan Gajah. Gajah adalah hewan yang berbadan besar tinggi dan ditakuti karena ukurannya yang raksasa. Adigung melambangkan kesombongan yang didasarkan pada kebesaran pangkat derajat keturunan bangsawan atau kekayaan materi yang melimpah.

Orang yang terjangkit penyakit hati Adigung sering kali merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Mereka bangga memamerkan harta benda mobil mewah atau membangga banggakan siapa orang tuanya. Ada perasaan bahwa mereka "tak tersentuh" karena memiliki privilese sosial ekonomi.

Bahaya dari sifat Adigung adalah hilangnya empati. Seseorang menjadi sulit menghargai orang kecil karena matanya tertutup oleh kemewahan diri sendiri. Padahal dalam pandangan spiritual harta dan pangkat hanyalah titipan yang sifatnya sementara dan tidak akan dibawa mati.

Adiguna Bahaya Kecerdasan yang Menipu

Kata ketiga adalah Adiguna. Sifat ini disimbolkan dengan hewan Ular. Ular dikenal sebagai hewan yang berbisa dan pandai melilit mangsanya. Meski tidak besar seperti gajah atau gesit seperti kijang ular memiliki senjata mematikan berupa bisa racun. Adiguna menggambarkan kesombongan atas kepandaian kecerdasan atau akal bulus.

Ini adalah jenis kesombongan intelektual. Orang yang bersifat Adiguna merasa dirinya paling pintar paling tahu segalanya dan meremehkan pendapat orang lain. Lebih parah lagi jika kepintaran tersebut digunakan untuk membodohi menipu atau memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi.

Di zaman modern kita sering melihat sosok Adiguna dalam bentuk penipu ulung koruptor canggih atau orang yang gemar berdebat hanya untuk mempermalukan lawan bicaranya tanpa mencari kebenaran. Kecerdasan tanpa moralitas adalah bahaya laten yang disinggung dalam poin Adiguna ini.

Relevansi Falsafah di Era Digital

Pesan leluhur ini terasa semakin relevan di tengah hiruk pikuk dunia digital saat ini. Media sosial seolah menjadi etalase sempurna untuk mempraktikkan Adigang Adigung dan Adiguna. Ada yang pamer kekebalan hukum (Adigang) ada yang pamer saldo rekening dan kemewahan (Adigung) dan ada yang merasa paling benar dengan komentar komentar pedas yang merasa paling pintar (Adiguna).

Sikap flexing atau pamer yang berlebihan adalah manifestasi nyata dari ketiganya. Falsafah Jawa ini mengajak kita untuk mengerem nafsu pamer tersebut. Menjadi viral atau terkenal karena sensasi kesombongan mungkin memberikan kepuasan sesaat namun itu akan mengikis rasa hormat orang lain terhadap integritas kita.

Masyarakat merindukan sosok yang andhap asor atau rendah hati. Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya ia semakin merunduk seperti padi. Semakin kaya seseorang seharusnya ia semakin dermawan bukan semakin arogan.

Menjadi Pribadi yang Beretika

Inti dari ajaran "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" adalah pengendalian diri. Manusia diajarkan untuk menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Kekuatan kekayaan dan kepintaran adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan digunakan untuk kemaslahatan umat bukan untuk menyombongkan diri.

Menghindari ketiga sifat ini akan membawa ketenangan batin. Kita tidak perlu capek capek memvalidasi diri di hadapan orang lain. Kita akan lebih mudah menghargai perbedaan dan hidup rukun berdampingan. Etika Jawa mengajarkan bahwa kehormatan seseorang tidak dinilai dari apa yang ia miliki melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Mari kita jadikan nasihat luhur ini sebagai cermin diri. Setiap kali terbesit rasa ingin meremehkan orang lain atau memamerkan kelebihan ingatlah pesan leluhur ini. Bahwa kesombongan hanyalah topeng dari ketidakamanan diri yang sesungguhnya. Jadilah manusia yang tangguh tanpa perlu menjatuhkan dan mulia tanpa perlu menghina.

Logo Radio
🔴 Radio Live