Ketika Romantisme Hancur karena Tagihan dan Realita Pahit Pernikahan
Refa - Wednesday, 24 December 2025 | 09:15 AM


Dalam fase pendekatan atau bulan madu, dunia terasa milik berdua. Makan di pinggir jalan terasa romantis, dan kehujanan di atas motor dianggap petualangan puitis. Namun, ketika pesta pernikahan usai dan sisa katering telah habis, pasangan dihadapkan pada satu tamu tak diundang yang akan menetap selamanya, realita ekonomi.
Banyak survei perceraian di berbagai negara secara konsisten menempatkan masalah finansial di urutan teratas penyebab keretakan rumah tangga, sering kali mengalahkan perselingkuhan fisik. Mengapa lembaran uang kertas bisa menghancurkan ikatan janji suci yang begitu kuat? Jawabannya terletak pada fakta bahwa uang dalam hubungan bukan sekadar alat tukar, melainkan representasi dari rasa aman, kekuasaan, dan nilai hidup.
Pembahasan Tabu Tentang "Mata Duitan" vs Realistis
Akar permasalahan sering kali dimulai jauh sebelum pernikahan terjadi. Dalam budaya ketimuran, membicarakan gaji, utang, atau aset sebelum menikah sering dianggap tidak sopan atau "mata duitan". Pasangan cenderung menghindari topik ini demi menjaga "kesucian" cinta mereka.
Akibatnya, banyak pasangan memasuki gerbang pernikahan dengan mata tertutup. Mereka kaget ketika mengetahui pasangannya ternyata memiliki utang kartu kredit yang menggunung atau memiliki kewajiban menanggung biaya hidup keluarga besar. Keterbukaan finansial (financial transparency) yang terlambat ini sering kali memicu rasa dikhianati. Padahal, mendiskusikan uang adalah bentuk tertinggi dari keintiman dan kepercayaan, karena di situlah seseorang membuka kerentanan masa depannya kepada orang lain.
Benturan Nilai Antara Si Hemat vs Si Penikmat Hidup
Konflik paling tajam biasanya terjadi bukan karena kurangnya uang, melainkan karena perbedaan cara memandang uang.
Ada tipe penabung (saver). Bagi tipe ini, uang di bank adalah sumber ketenangan batin dan rasa aman. Mengeluarkan uang untuk hal yang tidak esensial terasa menyakitkan secara fisik. Selain itu, ada juga tipe penikmat (spender) yang bagi tipe ini, uang adalah alat untuk menikmati hidup saat ini (YOLO - You Only Live Once). Mereka memandang tabungan berlebihan sebagai penundaan kebahagiaan yang sia-sia.
Ketika Si Hemat menikah dengan Si Penikmat tanpa adanya kesepakatan tengah, neraka kecil akan tercipta di rumah tangga. Si Hemat akan memandang pasangannya sebagai orang yang boros dan tidak bertanggung jawab, sementara Si Penikmat akan merasa pasangannya pelit dan pengekang kebahagiaan. Pertengkaran tentang "kenapa beli kopi mahal?" sebenarnya bukan soal kopi, tapi soal perbedaan nilai dasar tentang keamanan versus kenikmatan.
Beban Generasi Sandwich dan Utang Tersembunyi
Konteks Indonesia menambah lapisan kerumitan tersendiri, yaitu fenomena Generasi Sandwich. Banyak milenial dan Gen Z terjepit di antara kewajiban membiayai anak sendiri dan menanggung biaya hidup orang tua yang tidak memiliki dana pensiun.
Masalah meledak ketika salah satu pihak tidak transparan mengenai beban ini sejak awal. Pasangan mungkin merasa keberatan jika sebagian besar pendapatan rumah tangga "bocor" keluar untuk membiayai ipar atau mertua tanpa diskusi sebelumnya. Selain itu, fenomena Paylater dan pinjaman online (Pinjol) menjadi ranjau baru. Menemukan fakta bahwa pasangan memiliki utang konsumtif tersembunyi setelah menikah adalah bentuk "perselingkuhan finansial" yang meruntuhkan pondasi kepercayaan seketika.
Perselingkuhan Finansial (Financial Infidelity)
Istilah ini merujuk pada tindakan berbohong tentang uang kepada pasangan. Bentuknya beragam, mulai dari menyembunyikan struk belanjaan, memiliki rekening rahasia, meminjamkan uang dalam jumlah besar kepada teman tanpa izin pasangan, hingga berbohong soal nominal gaji.
Dampak psikologis dari perselingkuhan finansial sama hancurnya dengan perselingkuhan fisik. Pesan yang tersirat adalah: "Saya tidak mempercayai pasangan saya untuk mengambil keputusan bersama." Ketika transparansi hilang, kerja sama tim yang merupakan esensi pernikahan akan bubar. Pasangan tidak lagi berjalan beriringan menuju tujuan finansial yang sama, melainkan berjalan sendiri-sendiri dengan agenda tersembunyi.
Solusi: Uang Kita, Uangku, Uangmu
Kesetaraan finansial tidak berarti semua uang harus digabung menjadi satu rekening besar. Solusi modern sering kali melibatkan sistem hybrid.
Pasangan yang sehat biasanya memiliki rekening bersama untuk kebutuhan operasional rumah tangga (listrik, makan, sekolah anak) yang diisi secara proporsional sesuai pendapatan masing-masing. Namun, di saat yang sama, setiap individu tetap memiliki rekening pribadi ("uang jajan") yang bebas digunakan tanpa perlu dihakimi oleh pasangan. Kesepakatan ini memberikan rasa otonomi (kebebasan) sekaligus rasa gotong royong (kebersamaan). Diskusi rutin bulanan yang sering disebut Money Date dapat dilakukan untuk mengevaluasi arus kas dalam suasana santai, bukan saat emosi sedang memuncak karena tagihan datang.
Next News

Kamu Kecewa Sama Dia… atau Sama Versi Dia di Kepalamu Sendiri?
2 days ago

Pacar Baru Kok Mirip Mantan? Ternyata Ini Ulah Otak Bawah Sadarmu
2 days ago

Menikah Itu Komitmen Seumur Hidup, Tapi Kenapa Banyak yang Terburu-buru?
2 days ago

Alasan di Balik Sulitnya Menyampaikan Isi Hati yang Sebenarnya
2 days ago

5 Love Languages Tak Lagi Soal Fisik, Ini Adaptasinya di Dunia Digital
4 days ago

“Cintai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain”, Ini Makna yang Sering Disalahpahami
4 days ago

Jangan Salah Kirim, Ini Arti Sebenarnya di Balik Warna-warni Emoji Hati
4 days ago

Menghidupkan Kembali Romansa di Tengah Rutinitas dengan Kalimat Jenaka
4 days ago

People Pleaser Syndrome: Berhenti Bilang 'Iya' Saat Hatimu Berteriak 'Tidak', Ini Cara Menolak Tanpa Rasa Bersalah
10 days ago

Tanda-tanda Kamu Sering Memanipulasi Diri Sendiri Demi Menjaga Perasaan Orang Lain
10 days ago






