Ceritra
Ceritra Warga

Kenapa Orang Sekarang Lebih Suka Pakai Headset di Mana-Mana?

Refa - Wednesday, 07 January 2026 | 12:30 PM

Background
Kenapa Orang Sekarang Lebih Suka Pakai Headset di Mana-Mana?
Ilustrasi Perempuan Menggunakan Headphone (Pinterest/techweeky1)

Coba perhatikan sekeliling saat sedang duduk di gerbong kereta, menunggu antrean di bank, atau sekadar mampir ke kedai kopi. Pemandangannya hampir selalu seragam, orang-orang menunduk menatap layar, dan di telinga mereka menyumbat benda kecil berwarna putih atau headphone besar yang menutupi separuh kepala.

Suasana fisik mungkin ramai dan berisik, tapi secara mental, orang-orang ini sedang berada di dunianya masing-masing. Mereka ada di sana, tapi tidak benar-benar "hadir".

Kehadiran teknologi TWS (True Wireless Stereo) dengan fitur Active Noise Cancelling (ANC) yang semakin canggih dan terjangkau memang mengubah cara manusia berinteraksi dengan lingkungan. Namun, di balik kenyamanan mendengarkan musik tanpa gangguan suara bising, muncul pertanyaan menggelitik: apakah teknologi ini membantu kita fokus, atau justru perlahan mengubah kita menjadi generasi yang anti-sosial dan enggan disapa?

Sihir Tombol "Mute" untuk Dunia Nyata

Bagi mereka yang hidup di kota besar dengan polusi suara yang tinggi, bunyi klakson, deru mesin, obrolan orang lain yang tidak perlu didengar fitur peredam bising (Noise Cancelling) adalah sebuah oase.

Ada kepuasan tersendiri saat menyalakan fitur ini. Dalam satu detik, hiruk-pikuk dunia luar seolah disedot hilang. Suara bising berubah menjadi senyap, digantikan oleh alunan lagu favorit atau podcast. Rasanya seperti masuk ke dalam gelembung privasi yang aman dan nyaman. Di tengah kekacauan kota, teknologi ini memberikan kendali penuh kepada penggunanya untuk mengatur apa yang ingin dan tidak ingin mereka dengar.

Tembok Tak Kasat Mata

Namun, kenyamanan bagi si pengguna seringkali menjadi kecanggungan bagi orang lain. Memakai headset di tempat umum, sadar atau tidak, memancarkan sinyal kuat berbunyi, "Tolong jangan ajak aku bicara."

Ini menciptakan tembok sosial yang tebal. Orang akan berpikir dua kali untuk sekadar bertanya jalan, menegur sapa, atau berbasa-basi ringan. Bahkan kasir minimarket pun sering merasa serba salah saat harus menanyakan "Ada tambahan lain, Kak?" kepada pelanggan yang telinganya tertutup rapat.

Interaksi manusia yang spontan menjadi hilang. Senyum ramah atau obrolan kecil dengan orang asing yang dulu lumrah terjadi di ruang publik, kini makin langka karena masing-masing orang sibuk menjaga "gelembung" sunyinya.

Etika Baru: Melepas Satu Sisi

Menariknya, fenomena ini melahirkan norma kesopanan baru yang tidak tertulis. Dalam interaksi modern, melepas salah satu sisi earphone saat diajak bicara dianggap sebagai bentuk penghormatan standar.

Sementara itu, melepas kedua sisi earphone, menyimpannya ke dalam kotak, dan memberikan perhatian penuh pada lawan bicara, kini dianggap sebagai bentuk penghargaan tertinggi. Itu tandanya lawan bicara dianggap lebih penting daripada lagu atau konten apa pun yang sedang diputar. Sebaliknya, tetap memakai kedua sisi headset saat sedang berinteraksi tatap muka seringkali dianggap sebagai tindakan yang kurang sopan, bahkan arogan.

Bahaya di Balik Kesunyian

Selain isu sosial, ada aspek keselamatan yang sering terlupakan. Noise Cancelling bekerja sangat baik memblokir suara frekuensi rendah seperti mesin mobil atau kereta. Akibatnya, pengguna seringkali menjadi "buta nada" terhadap lingkungan sekitar.

Klakson peringatan, suara langkah kaki dari belakang, atau pengumuman penting di stasiun bisa terlewat begitu saja. "Dunia hening" ini bisa berubah menjadi berbahaya ketika penggunanya lupa bahwa mereka masih berpijak di jalanan nyata yang penuh risiko, bukan di dalam kamar tidur.

Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan hidup, termasuk memberi ruang istirahat bagi telinga dari bisingnya dunia. Namun, manusia tetaplah makhluk sosial yang butuh koneksi.

Mungkin sesekali, ada baiknya menyimpan headset itu ke dalam saku saat sedang berjalan di taman atau duduk di kafe. Biarkan suara dunia masuk. Siapa tahu, ada percakapan menarik yang terlewatkan atau sapaan hangat yang selama ini tertahan oleh tembok isolasi buatan itu.

Logo Radio
🔴 Radio Live