Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Jago Medsos, Ketahui Mengapa Literasi Digital Adalah Perisai Wajib Generasi Muda

Refa - Saturday, 03 January 2026 | 09:30 AM

Background
Bukan Sekadar Jago Medsos, Ketahui Mengapa Literasi Digital Adalah Perisai Wajib Generasi Muda
Ilustrasi Literasi Digital (Pinterest/Emaan_Asad2230)

Generasi yang lahir di era milenium dan setelahnya sering dijuluki sebagai digital natives atau penduduk asli dunia digital. Mereka tumbuh berdampingan dengan gawai, fasih menggunakan aplikasi terkini, dan menjadikan internet sebagai nafas kehidupan sehari-hari. Namun, kefasihan teknis ini menyimpan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Kemampuan jari-jari menari lincah di atas layar sentuh sering kali tidak berbanding lurus dengan kemampuan kognitif untuk mengolah informasi yang masuk.

Di tengah derasnya arus data yang tak terbendung, kemampuan teknis semata tidak lagi cukup. Di sinilah letak urgensi literasi digital. Ia bukan sekadar tentang cara menyalakan komputer atau membuat konten viral, melainkan sebuah seperangkat kemampuan berpikir kritis yang menjadi fondasi kehidupan modern.

Kecakapan Teknis Bukan Jaminan Kecerdasan Digital

Terdapat kesalahpahaman umum di masyarakat bahwa anak muda sudah pasti "melek digital" hanya karena mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Padahal, literasi digital melampaui kemampuan teknis mengoperasikan perangkat lunak atau media sosial. Literasi digital adalah kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, dan membuat informasi dengan cara yang sehat dan cerdas.

Tanpa filter kritis ini, generasi muda hanyalah konsumen pasif yang rentan dieksploitasi. Mereka mudah terombang-ambing oleh algoritma yang dirancang untuk memanipulasi emosi dan perilaku, tanpa menyadari bahwa persepsi mereka sedang dibentuk oleh mesin.

Benteng Menghadapi Tsunami Informasi Palsu

Tantangan terbesar di abad informasi bukanlah kurangnya akses, melainkan kelebihan muatan (information overload) yang bercampur dengan sampah informasi. Hoaks, teori konspirasi, propaganda politik, hingga penipuan berbasis kecerdasan buatan (deepfake) beredar dengan kecepatan cahaya di grup percakapan dan linimasa.

Tanpa bekal literasi yang mumpuni, seseorang sangat mudah terjebak dalam ruang gema (echo chamber), sebuah kondisi di mana seseorang hanya mengonsumsi informasi yang membenarkan bias pribadinya. Literasi digital mengajarkan skeptisisme sehat: kebiasaan untuk melakukan verifikasi silang (fact-checking), mengecek kredibilitas sumber, dan menahan diri untuk tidak membagikan tautan provokatif yang belum teruji kebenarannya.

Jejak Digital Abadi dan Keamanan Privasi

Aspek lain yang sering terabaikan oleh semangat muda yang berapi-api adalah kesadaran akan jejak digital. Internet tidak memiliki tombol penghapus yang sejati. Apa yang diunggah hari ini, baik itu komentar kasar, foto memalukan, atau data pribadi, menjadi rekam jejak permanen yang dapat diakses oleh siapa saja, termasuk perekrut kerja atau institusi pendidikan di masa depan.

Kurangnya pemahaman mengenai privasi data juga membuat generasi muda menjadi target empuk kejahatan siber (cybercrime). Literasi digital menanamkan kesadaran pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi, memahami pengaturan privasi di media sosial, dan menyadari risiko dari setiap klik yang dilakukan di dunia maya.

Etika dan Empati di Ruang Maya

Selain logika, literasi digital juga mencakup aspek etika. Anonimitas di internet sering kali memicu disinhibition effect, di mana seseorang merasa bebas melakukan atau mengatakan hal-hal buruk yang tidak akan berani mereka lakukan di dunia nyata. Hal ini memicu maraknya perundungan siber (cyberbullying) dan ujaran kebencian.

Pendidikan literasi digital bertujuan membangun empati digital. Generasi muda diajarkan bahwa di balik setiap avatar dan nama pengguna, terdapat manusia nyata yang memiliki perasaan. Memahami etika berinternet (netiquette) adalah kunci untuk menciptakan ruang digital yang lebih beradab dan produktif, bukan ruang yang penuh toksisitas.

Logo Radio
🔴 Radio Live