

Bukan sekadar wacana, Kalimantan Selatan menutup hari dengan aksi nyata untuk kesehatan dan kemandirian warganya. Dari kampanye cegah stunting di pelosok hingga pelatihan usaha kecil, hari di Kalimantan Selatan kemarin diisi semangat yang sama: bangkit bersama lewat tindakan nyata. Kalsel bukan hanya sekadar mencatat kegiatan, tapi pergerakan, provinsi ini menunjukkan bahwa perubahan tak selalu datang dari pusat—kadang tumbuh dari desa-desa kecil yang tak mau menyerah.
Di Banjarbaru, upaya menekan angka stunting menjadi prioritas. Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan menggelar edukasi gizi di berbagai posyandu. Para ibu diajak mengenali pentingnya asupan makanan bergizi dan cara sederhana menjaga tumbuh kembang anak. "Kami ingin anak-anak Banjarbaru tumbuh kuat dan pintar. Kalau gizinya baik, masa depannya juga baik," ujar seorang bidan sambil menuntun ibu muda menimbang bayinya.
Kampanye itu bukan hanya soal angka atau program, tapi tentang rasa peduli. Beberapa desa bahkan membuat kebun sayur mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Sayur dari halaman sendiri kini jadi simbol kemandirian kecil yang tumbuh di banyak rumah warga.
Di sisi lain, geliat ekonomi rakyat juga terdengar keras di Banjarmasin. Pemerintah kota bersama pelaku UMKM mengadakan pelatihan pengelolaan keuangan dan pemasaran digital. Banyak peserta yang sebelumnya tak paham cara menjual produk secara online kini mulai belajar membuat konten promosi sederhana. "Dulu jualan hanya di pasar, sekarang bisa kirim sampai luar kota," kata seorang pengusaha kerajinan tangan dengan mata berbinar.
Tak berhenti di kota, semangat serupa juga mengalir ke Tapin. Di sana, program pertanian berkelanjutan terus digerakkan. Petani didorong menanam komoditas bernilai tinggi seperti cabai, tomat, dan sayuran organik yang bisa dijual langsung ke pasar lokal. Dukungan alat dan pupuk subsidi turut mempercepat proses menuju kemandirian pangan desa.
Gerak bersama ini seolah menjawab tantangan zaman. Di tengah naik-turunnya harga bahan pokok dan ketergantungan pada bantuan, masyarakat Kalsel memilih langkah lain: gotong royong untuk berdiri sendiri. Dari dapur ibu rumah tangga hingga ladang petani, perubahan itu kini mulai terasa nyata.
Langkah-langkah kecil ini mungkin tak langsung mengubah wajah Kalsel. Tapi setiap tindakan nyata adalah benih harapan. Karena daerah kuat bukan dibangun dari janji besar, melainkan dari kerja bersama yang terus hidup di tengah masyarakat.
Next News

5 Tips Mengubah Nasib Apes Jadi Hari yang Tetap Produktif
9 hours ago

Bukan Mood Swing Semata, Ini 4 Fase yang Dialami Wanita Setiap Bulan
10 hours ago

Solusi Bebas Antre BBM: Haruskah Ganti ke Mobil Listrik/Hybrid Sekarang?
4 days ago

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
4 days ago

Merah Cat atau Darah? Menguak Misteri Jembatan Merah Surabaya
8 days ago

Team Bedong vs Team M-Shape, Mana yang Lebih Baik untuk Bayi?
8 days ago

Pilih Sepatu Olahraga Tepat Biar Kaki Stabil dan Bebas Cedera
8 days ago

Tren Dompet, Pouch dan Tas Mini: Solusi Praktis Tanpa Ransel Berat
9 days ago

Pilih Estetika Totebag atau Fungsi Ransel? Ini Panduannya!
11 days ago

Digital Detox: Solusi dari Kebiasaan Scroll Tanpa Henti di Era Digital
11 days ago





