Ceritra
Ceritra Kota

Bukan Cuma Pekerja Pabrik, Ini 10 Profesi yang Paling Banyak Kena PHK

ananda maharani - Friday, 14 August 2026 | 10:15 AM

Background
Bukan Cuma Pekerja Pabrik, Ini 10 Profesi yang Paling Banyak Kena PHK
JOBLESS (/Locus amoenus existentialecho (Pinterest))

Profesi Paling Rentan Kena PHK di Indonesia

Ada masa ketika bekerja di kantor, punya meja sendiri, kartu identitas perusahaan, dan jabatan yang terdengar mapan terasa seperti tanda bahwa karier sudah berada di jalur aman. Sekarang ceritanya tidak sesederhana itu.

Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hampir tidak ada posisi yang sepenuhnya kebal dari perubahan. Bukan hanya pekerja pabrik atau karyawan kontrak. Posisi administrasi, manajemen, akuntansi, pemasaran, bahkan teknologi informasi dan engineering ikut masuk dalam daftar pekerjaan yang banyak dipangkas perusahaan.

Data yang kembali menjadi perhatian berasal dari laporan Jobstreet bertajuk Hiring, Compensation, and Benefits 2025. Laporan tersebut mencatat pola perekrutan dan pengurangan tenaga kerja perusahaan sepanjang 2024.

Hasilnya cukup menarik. Sebanyak 42 persen perusahaan yang disurvei mengaku mengurangi jumlah tenaga kerja. Karyawan tetap penuh waktu menjadi kelompok terbesar yang terkena pengurangan. Pada saat yang sama, perusahaan juga tetap melakukan perekrutan untuk berbagai posisi.

Artinya, dunia kerja sedang mengalami sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar "perusahaan tidak butuh karyawan lagi". Perusahaan masih mencari orang. Tetapi kebutuhan mereka berubah.

Posisi yang direkrut hari ini bisa saja menjadi posisi yang dirampingkan beberapa bulan kemudian ketika strategi bisnis berubah, teknologi baru diterapkan, atau perusahaan merasa pekerjaan yang sama dapat diselesaikan dengan struktur tim lebih kecil.

Situasi tersebut juga perlu dibaca dengan konteks yang lebih luas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk bekerja di Indonesia pada Februari 2026 mencapai 147,67 juta orang, naik sekitar 1,9 juta orang dibanding Februari 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68 persen, sedikit lebih rendah dibanding setahun sebelumnya.

Jadi, tingginya perhatian terhadap PHK tidak otomatis berarti pasar kerja Indonesia berhenti menciptakan pekerjaan. Yang sedang terjadi lebih mirip perubahan bentuk pekerjaan.

Ada posisi yang menyusut. Ada pekerjaan yang bergeser. Ada pula profesi lama yang tetap dibutuhkan, tetapi dengan jumlah orang lebih sedikit dan tuntutan keterampilan lebih banyak.

Lantas, pekerjaan apa saja yang paling banyak dipangkas?

1. Administrasi dan SDM – 29 Persen

Administrasi dan sumber daya manusia atau SDM berada di posisi teratas. Sebanyak 29 persen perusahaan dalam survei Jobstreet mengaku melakukan pengurangan tenaga kerja pada fungsi ini sepanjang 2024. Angkanya naik dibanding 2023 yang berada di kisaran 22 persen.

Sekilas mungkin terdengar aneh. Bagaimanapun, setiap perusahaan tetap membutuhkan administrasi. Perusahaan juga tetap harus mengelola absensi, penggajian, perekrutan, kontrak kerja, evaluasi karyawan sampai berbagai urusan personalia.

Yang berubah adalah cara pekerjaan itu dilakukan. Banyak pekerjaan administratif kini dapat disatukan dalam satu sistem. Absensi yang dulu direkap manual sudah dilakukan aplikasi. Slip gaji dapat diterbitkan otomatis. Dokumen pegawai tersimpan digital. Seleksi awal calon pekerja semakin banyak dibantu perangkat lunak.

Akibatnya, bukan berarti fungsi HR atau administrasi menghilang. Namun pekerjaan rutin yang sebelumnya membutuhkan beberapa orang dapat dikerjakan oleh tim lebih ramping. Di sinilah perubahan besar terjadi.

Perusahaan akan tetap membutuhkan orang yang memahami manusia, budaya organisasi, negosiasi, hubungan industrial, pengembangan talenta dan strategi organisasi. Tetapi pekerjaan administratif yang berulang menjadi semakin mudah diotomatisasi.

Bagi pekerja di bidang ini, tantangannya bukan sekadar belajar menggunakan aplikasi HR. Nilai tambah justru muncul ketika seseorang bisa bergerak dari pekerjaan administratif menuju kemampuan yang lebih strategis.

2. Manajemen – 22 Persen

Posisi kedua mungkin lebih mengejutkan. Manajemen. Sebanyak 22 persen perusahaan memangkas posisi yang berkaitan dengan fungsi manajemen sepanjang 2024. Padahal pada 2023 porsinya hanya sekitar tujuh persen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa restrukturisasi tidak selalu dimulai dari bawah. Ketika perusahaan ingin bergerak lebih cepat, lapisan organisasi yang terlalu panjang dapat dianggap menghambat pengambilan keputusan.

Bayangkan sebuah keputusan sederhana harus melewati supervisor, assistant manager, manager, senior manager, general manager, baru kemudian sampai direktur. Struktur seperti itu mungkin efektif ketika organisasi sangat besar dan proses bisnis relatif stabil. Namun dalam perusahaan yang sedang mengejar efisiensi, beberapa lapisan manajemen dapat digabung.

Karena itu, jabatan manajer tidak otomatis membuat seseorang aman. Perusahaan semakin melihat apakah seorang manajer benar-benar mampu menghasilkan keputusan, memimpin tim dan memahami bisnis, atau sekadar menjadi penghubung laporan antara bawahan dan atasannya. Manajer yang hanya meneruskan informasi akan semakin mudah tergantikan sistem dashboard dan komunikasi digital. Sebaliknya, kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, membaca perubahan bisnis dan membangun tim tetap sulit digantikan teknologi.

3. Akuntansi – 16 Persen

Akuntansi berada di posisi berikutnya dengan 16 persen. Profesi ini sebenarnya tetap sangat penting. Perusahaan selalu membutuhkan pencatatan keuangan, pengelolaan pajak, pelaporan, audit dan kontrol keuangan. Namun lagi-lagi, yang berubah adalah prosesnya.

Transaksi yang sebelumnya dicatat satu per satu kini bisa terhubung langsung dengan sistem. Invoice dapat dihasilkan otomatis. Rekonsiliasi semakin mudah dilakukan perangkat lunak. Laporan rutin juga dapat diproses lebih cepat.

Yang paling rentan adalah pekerjaan akuntansi yang sebagian besar terdiri dari input dan pemindahan data. Sebaliknya, kemampuan membaca kondisi keuangan perusahaan, memahami regulasi, mendeteksi risiko, merancang strategi pajak hingga memberikan analisis kepada manajemen justru menjadi semakin penting.

Jadi, teknologi tidak serta-merta menghapus profesi akuntan. Teknologi lebih dulu mengikis pekerjaan akuntansi yang sifatnya repetitif.

4. Marketing dan Branding – 15 Persen

Marketing sering dianggap sebagai bagian perusahaan yang harus terus tumbuh karena berkaitan langsung dengan konsumen. Namun 15 persen perusahaan dalam survei tersebut justru melakukan pengurangan di area marketing dan branding.

Ada alasan menarik di balik fenomena ini. Dunia pemasaran berubah sangat cepat.

Dulu sebuah perusahaan mungkin memiliki tim berbeda untuk membuat desain, menulis materi promosi, membeli iklan, membuat laporan performa, mengelola media sosial dan menjalankan kampanye.

Hari ini satu orang dengan bantuan berbagai perangkat digital bisa melakukan sebagian pekerjaan tersebut. Perusahaan juga semakin mudah menggunakan agensi, pekerja lepas atau kreator berdasarkan proyek tertentu tanpa harus memperbesar tim internal.

Belum lagi hadirnya kecerdasan buatan generatif yang dapat membantu membuat draf tulisan, ide kampanye, desain awal hingga analisis data sederhana. Namun bukan berarti profesi marketer menuju kepunahan, yang semakin mahal justru kemampuan memahami manusia.

Mengapa seseorang memilih satu merek dibanding merek lain? Mengapa sebuah kampanye viral tetapi tidak menghasilkan penjualan? Bagaimana membaca budaya, perilaku konsumen dan emosi? Teknologi bisa menghasilkan seratus ide dalam satu menit. Tetapi menentukan ide mana yang benar-benar relevan masih membutuhkan manusia.

5. Manufaktur – 14 Persen

Sebanyak 14 persen perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja pada fungsi manufaktur. Di sektor ini, alasannya bisa jauh lebih kompleks. Perubahan permintaan pasar dapat membuat produksi dikurangi. Restrukturisasi rantai pasok dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja. Sebagian proses produksi juga semakin otomatis.

Mesin tidak membutuhkan waktu istirahat, dapat bekerja dengan tingkat presisi tinggi dan cocok digunakan untuk pekerjaan repetitif dalam skala besar. Namun industri manufaktur bukan hanya soal operator mesin.

Semakin banyak otomatisasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap teknisi, spesialis maintenance, quality control, programmer mesin, operator berkeahlian tinggi sampai engineer. Itu sebabnya pekerja manufaktur menghadapi paradoks: beberapa pekerjaan berkurang ketika mesin datang, tetapi pekerjaan baru muncul untuk mengoperasikan dan merawat mesin tersebut.

6. Sales dan Business Development – 12 Persen

Sales biasanya identik dengan sumber pemasukan perusahaan. Tanpa penjualan, bisnis tidak berjalan. Tetapi 12 persen perusahaan tetap memangkas fungsi sales dan business development. Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara perusahaan mendapatkan pelanggan.

E-commerce, marketplace, sistem CRM, iklan digital dan sistem self-service membuat sebagian transaksi tidak lagi membutuhkan tenaga penjual dalam jumlah besar. Konsumen bisa mencari produk sendiri, membandingkan harga sendiri bahkan menyelesaikan transaksi tanpa bertemu salesperson.

Namun semakin kompleks sebuah produk, semakin penting kemampuan manusia. Menjual sebuah aplikasi perusahaan bernilai miliaran rupiah tentu berbeda dengan menjual produk konsumsi sehari-hari. Karena itu, masa depan profesi sales kemungkinan semakin bergeser dari sekadar menawarkan produk menuju konsultasi, negosiasi dan pengelolaan hubungan.

7. Corporate Sales dan Business Development – 11 Persen

Sekilas mirip dengan posisi sebelumnya, tetapi corporate sales biasanya menangani klien perusahaan atau transaksi bisnis ke bisnis. Sebanyak 11 persen perusahaan memangkas fungsi ini. Salah satu tantangannya adalah perusahaan semakin ketat menghitung produktivitas setiap posisi.

Tim corporate sales yang besar belum tentu dianggap efektif apabila sebagian besar pendapatan hanya datang dari beberapa account utama. Teknologi juga membantu perusahaan memetakan calon pelanggan, mengelola pipeline, mengirim proposal sampai memonitor aktivitas penjualan.

Meski begitu, semakin besar nilai transaksi, biasanya semakin penting pula unsur kepercayaan. Hubungan antarmanusia, kemampuan negosiasi dan pemahaman bisnis klien masih sulit digantikan sistem otomatis.

8. Teknologi Informasi atau IT – 10 Persen

Ini mungkin terdengar ironis. Teknologi berkembang, tetapi pekerja teknologi juga terkena PHK. Sebanyak 10 persen perusahaan dalam survei Jobstreet melakukan pemangkasan fungsi IT.

Fenomena serupa juga terlihat secara global. Perusahaan teknologi melakukan restrukturisasi ketika investasi bergeser ke kecerdasan buatan, infrastruktur komputasi dan bidang yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi. Namun sejumlah analisis juga mengingatkan bahwa AI bukan satu-satunya alasan PHK; kondisi pasar, restrukturisasi perusahaan dan tekanan biaya tetap memainkan peran besar.

Artinya, bekerja di industri teknologi tidak sama dengan memiliki pekerjaan yang tidak bisa digantikan. Bahkan programmer harus terus belajar.

Kemampuan menulis kode sederhana semakin mudah dibantu AI. Tetapi kemampuan membangun arsitektur sistem, memahami kebutuhan pengguna, keamanan siber, integrasi teknologi serta memecahkan masalah kompleks tetap bernilai tinggi.

Pertanyaannya bukan lagi, "Apakah kamu bisa menggunakan teknologi?" Hampir semua orang akan bisa. Pertanyaannya berubah menjadi, "Masalah apa yang bisa kamu selesaikan dengan teknologi?"

9. Engineering – 10 Persen

Engineering juga berada di angka 10 persen. Profesi engineer umumnya memiliki tingkat spesialisasi tinggi. Namun kebutuhan perusahaan terhadap engineer sangat bergantung pada proyek, investasi dan kondisi bisnis.

Saat perusahaan menunda ekspansi, pembangunan pabrik atau proyek baru, kebutuhan terhadap beberapa fungsi engineering dapat ikut berkurang. Di sisi lain, otomatisasi juga mengubah bentuk pekerjaan engineer.

Perangkat lunak dapat membantu simulasi, desain, analisis data dan perhitungan yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih lama. Namun semakin kompleks teknologi yang digunakan perusahaan, semakin dibutuhkan engineer yang mampu memahami keseluruhan sistem dan mengambil keputusan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

10. Legal dan Compliance – 8 Persen

Posisi terakhir dalam daftar adalah legal dan compliance dengan delapan persen. Pekerjaan hukum kerap dianggap relatif aman karena membutuhkan pengetahuan khusus. Namun sebagian pekerjaan legal juga terdiri dari aktivitas yang bisa distandardisasi: memeriksa dokumen, membandingkan klausul, membuat draf kontrak dasar atau mencari referensi aturan.

Teknologi dapat mempercepat pekerjaan tersebut. Perusahaan juga dapat memilih menggunakan firma hukum atau konsultan eksternal untuk kebutuhan tertentu daripada memiliki tim internal besar. Tetapi ada batas yang sulit ditembus teknologi.

Interpretasi aturan, negosiasi, membaca risiko hukum dan memahami konteks bisnis tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Karena itu, sama seperti profesi lain dalam daftar ini, yang berisiko bukan selalu nama profesinya. Yang paling rentan adalah bagian pekerjaannya yang rutin.

Yang Paling Dicari Ternyata Juga Paling Banyak Dipangkas

Ada satu bagian dari laporan Jobstreet yang terasa paradoksal. Posisi administrasi dan SDM bukan hanya menjadi pekerjaan yang paling banyak dipangkas, tetapi juga termasuk pekerjaan yang paling banyak dicari perusahaan.

Pada 2024, sekitar 39 persen perusahaan yang melakukan perekrutan mencari tenaga administrasi dan SDM. Akuntansi berada di kisaran 34 persen, disusul marketing dan branding sekitar 30 persen.

Bagaimana sebuah pekerjaan bisa banyak direkrut sekaligus banyak di-PHK? Jawabannya kemungkinan berada pada perubahan kebutuhan.

Perusahaan bisa saja mengurangi lima posisi lama kemudian merekrut dua orang dengan kemampuan yang berbeda. Perusahaan dapat menutup pekerjaan administratif manual tetapi membuka posisi HR yang memahami data.

Tim marketing berisi sepuluh orang mungkin dipangkas menjadi enam orang, tetapi perusahaan kemudian mencari satu orang yang menguasai digital marketing, analitik dan AI sekaligus. Jadi, data tersebut tidak selalu menggambarkan sebuah profesi sedang mati. Ia justru menunjukkan proses seleksi yang semakin ketat. Perusahaan tetap membutuhkan fungsi yang sama, tetapi dengan struktur lebih ramping dan keterampilan berbeda.

AI Bukan Satu-satunya Penyebab PHK

Mudah untuk menunjuk kecerdasan buatan sebagai penyebab seluruh perubahan ini. Nyatanya, persoalannya lebih rumit.

Dalam laporan Jobstreet, perusahaan menyebut sejumlah alasan pengurangan tenaga kerja, mulai dari menekan biaya operasional, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi, restrukturisasi, penggunaan tenaga kerja yang lebih fleksibel, outsourcing hingga otomatisasi pekerjaan dengan teknologi.

Dengan kata lain, AI adalah salah satu bagian dari perubahan besar cara perusahaan bekerja.

Bahkan secara global masih berlangsung perdebatan mengenai seberapa besar PHK benar-benar disebabkan langsung oleh AI dan seberapa banyak perusahaan menggunakan momentum perkembangan teknologi untuk mempercepat restrukturisasi yang memang sudah direncanakan.

Yang lebih jelas terlihat adalah perusahaan mulai bertanya: apakah pekerjaan yang dulu membutuhkan lima orang sekarang bisa dilakukan tiga orang dengan bantuan teknologi? Jika jawabannya iya, struktur organisasi kemungkinan berubah.

Jadi, Profesi Apa yang Aman?

Mungkin tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Sepuluh tahun lalu, sebagian orang mungkin berpikir programmer adalah salah satu pekerjaan paling aman di masa depan. Hari ini programmer justru menjadi salah satu kelompok yang harus belajar bekerja bersama AI.

Hal serupa dapat terjadi pada profesi lain. Karena itu, keamanan karier ke depan kemungkinan tidak lagi hanya ditentukan oleh nama jabatan. Yang lebih penting adalah seberapa sulit kemampuan seseorang digantikan.

Pekerjaan yang hanya memindahkan informasi, memasukkan data, membuat laporan rutin atau mengikuti pola yang sama berulang kali akan semakin mudah dibantu otomatisasi.

Sebaliknya, kemampuan memahami konteks, membuat keputusan, berkomunikasi, bernegosiasi, membangun hubungan, berpikir kritis dan memecahkan persoalan yang belum memiliki jawaban baku akan semakin bernilai.

Kementerian Ketenagakerjaan sendiri menempatkan peningkatan keterampilan sebagai salah satu strategi menghadapi perubahan pasar kerja. Pemerintah juga menjalankan program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), yang selain memberi manfaat uang tunai juga menyediakan akses informasi pasar kerja, pelatihan dan konseling karier bagi pekerja yang mengalami PHK.

Pada akhirnya, daftar profesi yang paling banyak terkena PHK bukan ramalan bahwa semua orang di bidang tersebut akan kehilangan pekerjaan. Angka-angka itu lebih tepat dibaca sebagai alarm. Bukan alarm untuk panik dan buru-buru berganti profesi. Tetapi alarm untuk melihat kembali pekerjaan kita sendiri.

Dari sepuluh tugas yang kita lakukan setiap hari, berapa yang sebenarnya bisa dilakukan sistem secara otomatis? Lalu, dari sepuluh tugas itu, apa yang hanya bisa dilakukan dengan pengalaman, penilaian, kreativitas dan kemampuan manusia?

Mungkin di sanalah letak pekerjaan yang perlu dipertahankan. Sebab di dunia kerja yang terus berubah, mempunyai pekerjaan saja barangkali sudah tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kemampuan kita tetap dibutuhkan.


Logo Radio
🔴 Radio Live