Berani Lepas HP Seharian? Ini yang Akan Terjadi pada Tubuhmu
Refa - Wednesday, 14 January 2026 | 05:30 PM


Kehidupan manusia modern seolah tidak bisa dipisahkan dari layar bercahaya yang bernama telepon pintar. Dari bangun tidur hingga kembali memejamkan mata, gawai menjadi jendela utama untuk melihat dunia, bekerja, dan bersosialisasi. Namun, keterikatan yang berlebihan ini sering kali membawa dampak samping yang tidak disadari, mulai dari kelelahan mental hingga terkikisnya kemampuan untuk menikmati momen saat ini. Digital detox atau puasa gawai bukan sekadar tren gaya hidup sesaat, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk mengembalikan keseimbangan hidup yang mulai hilang ditelan algoritma dan notifikasi tanpa henti.
Meredam Kebisingan Mental dan Kecemasan
Salah satu alasan terkuat untuk melakukan jeda digital adalah untuk mengistirahatkan pikiran dari banjir informasi yang memicu kecemasan. Media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin, namun juga kerap menjadi ladang subur bagi perasaan tidak cukup baik atau insecurity. Terus-menerus melihat pencapaian hidup orang lain yang telah dikurasi dengan sempurna sering kali memicu sindrom FOMO (Fear of Missing Out) dan perasaan rendah diri. Dengan meletakkan ponsel sejenak, otak diberikan kesempatan untuk berhenti membandingkan diri dan mulai mensyukuri realitas hidup yang sedang dijalani tanpa filter atau validasi maya.
Mengembalikan Kualitas Hubungan Antarmanusia
Ironi terbesar dari kemajuan teknologi komunikasi adalah kemampuannya mendekatkan yang jauh, namun sering kali menjauhkan yang dekat. Fenomena phubbing—mengabaikan lawan bicara demi melihat layar ponsel—telah menjadi pemandangan lumrah di meja makan atau ruang keluarga. Kualitas percakapan dan kedalaman hubungan emosional menjadi dangkal karena atensi yang terpecah. Melakukan digital detox memaksa seseorang untuk hadir sepenuhnya atau mindful dalam setiap interaksi. Tatapan mata, sentuhan fisik, dan pendengaran yang utuh menjadi jembatan emosi yang tidak bisa digantikan oleh ribuan pesan teks atau emoji.
Memulihkan Fokus dan Pola Istirahat
Ketergantungan pada gawai juga berdampak signifikan pada kemampuan kognitif dan kesehatan fisik. Notifikasi yang terus bermunculan melatih otak untuk terus berpindah fokus, sehingga kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama (deep work) menjadi tumpul. Selain itu, paparan cahaya biru (blue light) sebelum tidur mengganggu produksi hormon melatonin, yang berujung pada penurunan kualitas tidur dan insomnia. Jeda dari layar, terutama beberapa jam sebelum tidur atau di akhir pekan, membantu mereset ritme sirkadian tubuh dan mengembalikan ketajaman fokus otak, sehingga produktivitas dan kesegaran tubuh dapat kembali optimal.
Next News

Ngeri! Ini Siksaan Neraka yang Dilihat Nabi Muhammad SAW Saat Isra’ Mi’raj
in 6 hours

Bukan Langsung 5 Waktu, Begini Kisah Panjang Perintah Sholat Saat Isra Mi’raj
in 6 hours

Mengungkap Kebiasaan Remeh yang Diam-Diam Merusak Kesehatan Tenggorokan
in 5 hours

Jarang Dibahas! Fakta-Fakta Tersembunyi Isra’ Mi’raj yang Tak Banyak Diketahui Umat Muslim
in 5 hours

Waspadai Nyeri Leher yang Bisa Jadi Sinyal Senyap Serangan Jantung
in 4 hours

Apa yang Terjadi di Tujuh Langit? Kisah Pertemuan Rasulullah dengan Para Nabi
in 5 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Selalu Diperingati? Ternyata Ini Mandat Terbesar dalam Islam
in 4 hours

Fakta Mengejutkan di Balik Tren Pelangsing Semaglutide yang Sedang Hype
in 3 hours

Panduan Persiapan Wajib Sebelum Menonton Konser BTS
in 3 hours

Mengapa Peran Keluarga Vital dalam Memutus Rantai Perkawinan Anak
in 2 hours






