Ceritra
Ceritra Warga

4 Langkah Digital Detox agar Hidup Lebih Tenang

Refa - Wednesday, 14 January 2026 | 06:00 PM

Background
4 Langkah Digital Detox agar Hidup Lebih Tenang
Ilustrasi perempuan menikmati alam (Pinterest/tashfox26)

Melepaskan diri dari ketergantungan gawai tidak harus dilakukan secara ekstrem atau mendadak layaknya mencabut kabel daya. Perubahan drastis sering kali justru memicu kepanikan atau rasa kehilangan yang membuat seseorang kembali pada kebiasaan lama dengan intensitas yang lebih tinggi. Kunci keberhasilan digital detox terletak pada konsistensi melakukan perubahan-perubahan kecil yang berkelanjutan. Tujuannya bukan untuk membuang teknologi sepenuhnya, melainkan untuk mengambil alih kembali kendali atas waktu dan perhatian yang selama ini tersita oleh layar.

Menciptakan Zona Bebas Gawai di Rumah

Langkah paling efektif untuk memulai adalah dengan menetapkan batasan fisik yang jelas di dalam rumah. Area-area tertentu seperti meja makan atau kamar tidur dapat didedikasikan sebagai wilayah "zona merah" bagi ponsel pintar. Dengan membiasakan diri untuk tidak membawa gawai saat makan, kenikmatan menyantap hidangan dan interaksi dengan anggota keluarga dapat kembali terjalin. Begitu pula dengan melarang ponsel masuk ke kamar tidur; langkah sederhana ini memaksa tubuh untuk beristirahat tanpa gangguan cahaya biru atau godaan scrolling tanpa akhir sebelum terlelap, yang secara otomatis akan meningkatkan kualitas tidur.

Menjinakkan Notifikasi yang Mengganggu

Sering kali, dorongan untuk mengecek ponsel bukan datang dari keinginan internal, melainkan karena pancingan eksternal berupa bunyi atau getaran notifikasi. Melakukan kurasi terhadap aplikasi mana yang berhak meminta perhatian adalah strategi pertahanan yang krusial. Mematikan notifikasi untuk aplikasi media sosial, game, atau e-commerce, dan hanya menyisakan notifikasi untuk komunikasi penting seperti telepon atau pesan kerja, dapat menurunkan frekuensi pengecekan layar secara signifikan. Mode "Jangan Ganggu" (Do Not Disturb) juga bisa dimanfaatkan pada jam-jam tertentu agar fokus saat bekerja atau bersantai tidak terpecah.

Menerapkan Aturan Jam Emas

Pola penggunaan gawai sering kali paling parah terjadi pada dua waktu kritis: tepat setelah bangun tidur dan sesaat sebelum tidur. Menerapkan aturan "Jam Emas" atau jeda waktu 30 hingga 60 menit tanpa ponsel di pagi dan malam hari dapat memberikan dampak psikologis yang besar. Di pagi hari, waktu ini bisa digunakan untuk peregangan, minum air putih, atau menyusun rencana harian tanpa langsung terbebani oleh berita buruk atau tuntutan pekerjaan yang masuk. Sementara di malam hari, menjauhkan ponsel satu jam sebelum tidur membantu otak untuk rileks dan bersiap menuju fase istirahat yang lebih dalam.

Mengganti Kebiasaan dengan Aktivitas Analog

Kekosongan waktu yang biasanya diisi dengan menatap layar perlu segera digantikan dengan aktivitas fisik atau hobi analog agar tidak terasa membosankan. Ketika dorongan untuk membuka media sosial muncul karena rasa bosan, mengalihkannya dengan membaca buku fisik, merawat tanaman, memasak, atau sekadar berjalan kaki bisa menjadi substitusi yang sehat. Membawa kembali benda-benda fisik seperti jam tangan (agar tidak perlu cek jam di HP) atau buku catatan kecil (untuk mencatat ide) juga membantu mengurangi ketergantungan pada fungsi gawai yang serba ada.

Logo Radio
🔴 Radio Live