Ceritra
Ceritra Teknologi

Windows 10 Masih Banyak Dipakai Padahal Sudah Tidak Aman Ini Risiko Fatal dan Solusinya

Nisrina - Thursday, 12 February 2026 | 06:45 AM

Background
Windows 10 Masih Banyak Dipakai Padahal Sudah Tidak Aman Ini Risiko Fatal dan Solusinya
Ilustrasi windows update (Microsoft/PCmag)

Tahun 2026 sudah berjalan namun ada satu fenomena teknologi yang cukup mengkhawatirkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Jutaan komputer dan laptop masih setia menjalankan sistem operasi legendaris buatan Microsoft yaitu Windows 10. Padahal jika mengacu pada jadwal resminya dukungan untuk sistem operasi ini seharusnya sudah berakhir atau End of Support pada Oktober 2025 lalu.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa transisi ke Windows 11 tidak berjalan semulus yang diharapkan. Masih banyak pengguna yang enggan atau tidak bisa beralih karena berbagai alasan mulai dari kenyamanan antarmuka hingga spesifikasi perangkat keras yang tidak memenuhi syarat ketat Microsoft.

Merujuk pada laporan Teknologi Media Indonesia fenomena bertahannya pengguna di ekosistem Windows 10 ini menyimpan bom waktu keamanan yang serius. Menggunakan sistem operasi yang sudah "pensiun" bukan sekadar masalah ketinggalan fitur baru tetapi lebih kepada membuka pintu lebar lebar bagi penjahat siber untuk masuk ke data pribadi Anda.

Mengapa Windows 10 Masih Merajai Pasar

Windows 10 bisa dibilang sebagai salah satu produk tersukses Microsoft setelah Windows 7. Stabilitas performa yang ringan dan kompatibilitas yang luas membuatnya sangat dicintai. Ketika Windows 11 dirilis dengan persyaratan hardware yang ketat seperti kewajiban adanya cip TPM 2.0 jutaan perangkat lama seketika menjadi barang usang yang tidak bisa melakukan pembaruan atau upgrade secara resmi.

Inilah penyebab utama mengapa angka pengguna Windows 10 masih sangat tinggi. Banyak komputer yang secara fisik masih sangat layak pakai prosesornya masih kencang dan RAM-nya besar namun terganjal satu syarat keamanan modern. Akibatnya pengguna memilih bertahan di Windows 10 daripada harus membuang komputer yang masih berfungsi baik.

Namun keputusan untuk bertahan ini memiliki konsekuensi. Sejak akhir 2025 Microsoft telah menghentikan pembaruan keamanan gratis. Artinya jika ada lubang keamanan baru yang ditemukan oleh peretas Microsoft tidak akan lagi mengirimkan "penambal" atau patch untuk menutup lubang tersebut bagi pengguna gratisan.

Risiko Fatal Menjadi Sasaran Empuk Ransomware

Risiko terbesar menggunakan sistem operasi yang tidak didukung adalah kerentanan terhadap serangan malware dan ransomware. Penjahat siber sangat menyukai momen End of Life sebuah perangkat lunak. Mereka akan menimbun pengetahuan tentang celah keamanan atau vulnerability dan melepaskannya saat dukungan resmi dicabut.

Tanpa adanya security patch bulanan komputer Windows 10 Anda ibarat rumah tanpa kunci pintu. Antivirus terbaik pun sering kali tidak berdaya jika celah keamanannya ada di level inti sistem operasi atau kernel.

Jika komputer Anda terinfeksi ransomware seluruh data penting mulai dari skripsi dokumen kerja hingga foto kenangan keluarga bisa dikunci enkripsi oleh peretas. Mereka akan meminta uang tebusan jutaan rupiah untuk membuka kuncinya. Di tahun 2026 serangan siber semakin canggih dan otomatis menjadikan PC usang sebagai target latihan mereka.

Bahaya Pencurian Identitas dan Perbankan

Selain serangan yang merusak risiko pencurian data diam diam juga meningkat. Celah keamanan yang tidak ditambal bisa dimanfaatkan oleh spyware atau keylogger untuk merekam setiap ketikan di keyboard Anda.

Bayangkan jika Anda masih menggunakan laptop Windows 10 usang untuk melakukan transaksi perbankan internet atau belanja online. Kata sandi m-banking nomor kartu kredit dan data pribadi lainnya bisa disadap tanpa Anda sadari.

Peramban atau browser seperti Chrome dan Edge mungkin masih memberikan pembaruan untuk beberapa waktu namun jika fondasi sistem operasinya rapuh perlindungan di level aplikasi tidak akan maksimal menahan serangan yang menyerang memori sistem.

Opsi 1 Membayar Program ESU dari Microsoft

Bagi Anda yang benar benar tidak bisa beralih dari Windows 10 Microsoft sebenarnya menyediakan jaring pengaman bernama ESU atau Extended Security Updates. Program ini memungkinkan pengguna untuk tetap mendapatkan pembaruan keamanan penting namun tidak gratis.

Di tahun 2026 ini program ESU tersedia tidak hanya untuk korporasi besar tetapi juga untuk pengguna individu. Namun harganya tidak murah. Biaya berlangganan ini biasanya meningkat setiap tahunnya.

Ini adalah opsi yang paling aman dan resmi. Anda membayar ketenangan pikiran. Namun bagi banyak pengguna rumahan biaya berlangganan ini mungkin dirasa memberatkan dan lebih baik ditabung untuk membeli perangkat baru.

Opsi 2 Menggunakan Layanan Micropatching Pihak Ketiga

Jika opsi berbayar dari Microsoft terasa mahal ada alternatif lain yang disebut micropatching. Salah satu penyedia layanan ini yang cukup populer adalah 0patch.

Layanan seperti 0patch bekerja dengan cara menyuntikkan kode keamanan kecil ke dalam memori sistem yang sedang berjalan untuk menambal celah keamanan tanpa perlu me-restart komputer. Mereka menganalisis celah keamanan yang ditemukan pada Windows 10 dan membuat tambalan tidak resmi untuk melindungi pengguna.

Meskipun ini bukan solusi resmi dari Microsoft opsi ini cukup populer di kalangan pengguna teknis dan institusi yang masih memiliki ribuan komputer lama. Biayanya biasanya jauh lebih terjangkau daripada ESU resmi bahkan ada versi gratis untuk penggunaan non komersial tertentu. Namun tetap ada risiko ketergantungan pada pihak ketiga.

Opsi 3 Trik Bypass untuk Upgrade ke Windows 11

Bagi pengguna yang memiliki komputer cukup kuat namun tidak memiliki cip TPM 2.0 ada jalur "belakang" yang sering dibahas di forum teknologi. Cara ini adalah melakukan instalasi Windows 11 dengan memanipulasi registry atau menggunakan alat bantu seperti Rufus untuk melewati pemeriksaan spesifikasi.

Meskipun cara ini bisa membuat komputer Anda menjalankan Windows 11 yang lebih aman Microsoft tidak menjamin stabilitas jangka panjang. Ada risiko pembaruan di masa depan akan memblokir perangkat yang tidak didukung. Namun di tahun 2026 ini adalah salah satu cara paling populer untuk memperpanjang usia pakai perangkat keras lama dengan sistem operasi yang masih didukung.

Opsi 4 Migrasi ke Linux atau ChromeOS Flex

Jika Anda hanya menggunakan komputer untuk mengetik dokumen menjelajah internet dan menonton film mungkin ini saatnya meninggalkan ekosistem Windows. Beralih ke sistem operasi berbasis Linux atau ChromeOS Flex adalah langkah cerdas dan gratis.

Sistem operasi seperti Ubuntu Mint atau ChromeOS Flex sangat ringan dan bisa berjalan lancar di perangkat keras tua sekalipun. Keamanannya jauh lebih terjamin karena arsitekturnya berbeda dari Windows sehingga kebal terhadap sebagian besar virus Windows.

ChromeOS Flex bahkan bisa mengubah laptop Windows 10 lama Anda menjadi Chromebook yang cepat dan aman. Ini adalah solusi terbaik jika Anda tidak ingin mengeluarkan uang sepeser pun namun tetap ingin aman saat berselancar di dunia maya.

Kesimpulan Jangan Ambil Risiko

Bertahan dengan Windows 10 tanpa pengamanan tambahan di tahun 2026 adalah tindakan nekat. Data pribadi Anda jauh lebih berharga daripada harga lisensi atau perangkat baru.

Jika Anda memiliki anggaran sangat disarankan untuk membeli laptop baru yang sudah mendukung standar keamanan masa kini. Namun jika belum memungkinkan pastikan Anda mengambil salah satu langkah mitigasi di atas baik itu berlangganan ESU menggunakan micropatching atau beralih ke sistem operasi alternatif. Jangan biarkan nostalgia pada Windows 10 membuat Anda menjadi korban kejahatan siber berikutnya.

Logo Radio
🔴 Radio Live