UE Tegaskan Rusia dan AS Tak Setara dalam Sengketa Uji Coba Nuklir


Uni Eropa (UE) pada Kamis (30/10) mengeluarkan pernyataan tegas bahwa Rusia dan Amerika Serikat (AS) "tidak boleh disamakan" terkait perselisihan terbaru mengenai isu uji coba nuklir. Penegasan ini disampaikan oleh juru bicara Komisi Eropa, Anitta Hipper, di Brussels, yang menekankan perbedaan mendasar karena serangan berkelanjutan Moskow terhadap Ukraina.
Hipper menjelaskan bahwa meskipun semua pihak diharapkan menghormati komitmen internasional, situasi Rusia harus dilihat secara terpisah mengingat tindakan agresinya.
Kecaman Terhadap Uji Coba Rudal Nuklir Rusia
Pernyataan UE muncul setelah adanya laporan bahwa Rusia baru-baru ini menguji rudal jelajah bertenaga nuklir dan berdaya jangkau tak terbatas, Burevestnik. UE menilai tindakan ini sangat berbahaya dan mengkhawatirkan.
"Kami juga telah melihat pengumuman tersebut, yang jelas tidak mengarah ke arah yang benar. Ini adalah negara yang melancarkan perang agresi yang ilegal, tidak beralasan, dan tidak beralasan terhadap Ukraina," kata Hipper.
UE memperingatkan bahwa jika rudal itu benar-benar bertenaga nuklir, potensi untuk melepaskan bahan radioaktif adalah nyata. Uji coba tersebut, menurut Hipper, "menunjukkan sekali lagi bahwa alih-alih memilih perdamaian, Rusia terus meningkatkan eskalasi melalui tindakan dan retorikanya."
Sikap Berbeda UE atas Wacana Uji Coba AS
Ketika ditanya mengenai pernyataan mantan presiden AS, Donald Trump, yang baru-baru ini berjanji akan memulai kembali uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya sejak tahun 1990-an, Hipper menolak berkomentar secara rinci namun memberikan respons yang sangat berbeda.
Ia menolak menyamakan kedua negara tersebut, dengan merujuk kepada catatan kepatuhan AS terhadap moratorium uji coba nuklir. "Kami belum pernah melihat AS melakukan uji coba senjata nuklir eksplosif apa pun selama beberapa dekade," ujarnya.
Hipper menekankan harapan agar semua pihak yang berpartisipasi dan menandatangani perjanjian internasional menghormati komitmen mereka. Namun, ia menambahkan, "Saya pikir kita tidak boleh menggolongkan keduanya dalam kategori yang sama."
Uni Eropa meminta semua penandatangan untuk menghormati kewajiban internasional mereka, termasuk Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Meski demikian, Hipper secara tersirat menunjukkan harapan yang rendah terhadap kepatuhan Rusia.
Next News

Saat Laut Tak Kenal Batas Negara: Gempa di Filipina yang Membuat Indonesia Ikut Waspada
18 hours ago

Jangan Kaget! 122 Program Studi Resmi Dihapus Tahun Ini
5 days ago

Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S. Deyang Pimpin BGN
6 days ago

Usulan Bahasa Prancis di Sekolah: Ambisi Diplomasi atau Beban Baru Pendidikan?
7 days ago

Bukan Lagi Soal Gengsi, Thrifting Kini Jadi Aksi Peduli Bumi
7 days ago

Hati-Hati Jebakan Autodebet: Kenapa Gaji Cepat Habis Tiap Bulan?
11 days ago

Rahasia Sukses Pilih Kampus: Luar Negeri atau Dalam Negeri?
14 days ago

Stevia: Pemanis Alami Terbaik untuk Gaya Hidup Sehat Anak Muda
14 days ago

Tensi Timur Tengah Memanas: Dompet Dunia Mulai Terasa Berat
14 days ago

Hobi Seblak dan Boba? Kenali Risiko PCOS pada Wanita Muda
15 days ago





