Ceritra
Ceritra Warga

Tak Perlu Berbelit, Ini Etika Menyampaikan Kabar Buruk Secara Manusiawi dan Profesional

Refa - Monday, 12 January 2026 | 06:30 PM

Background
Tak Perlu Berbelit, Ini Etika Menyampaikan Kabar Buruk Secara Manusiawi dan Profesional
Ilustrasi laki-laki sedang membungkuk (Pinterest/annajahnet)

Menjadi pembawa kabar buruk adalah peran yang paling dihindari oleh siapa pun. Baik itu memberhentikan karyawan (layoff), menolak lamaran kerja, atau mengakhiri hubungan romantis, beban emosional yang dirasakan penyampai pesan sering kali memicu kecemasan.

Akibatnya, banyak orang melakukan kesalahan fatal, menunda-nunda penyampaian, berbelit-belit karena rasa bersalah, atau justru menyampaikannya lewat pesan singkat (chat) demi menghindari konfrontasi. Padahal, cara sebuah berita buruk disampaikan akan diingat selamanya oleh penerimanya.

Untuk menjaga martabat kedua belah pihak, berikut adalah protokol teknis menyampaikan berita negatif dengan tegas namun tetap memanusiakan manusia.

1. Berikan "Tembakan Peringatan" (Warning Shot)

Otak manusia membutuhkan waktu transisi untuk bersiap menerima kejutan (syok). Menyampaikan berita buruk secara tiba-tiba tanpa aba-aba dapat memicu trauma psikologis.

Lakukan teknik warning shot atau kalimat pembuka yang mengindikasikan bahwa percakapan ini akan serius. Contoh: "Saya punya kabar yang kurang menyenangkan untuk disampaikan," atau "Sayangnya, pembicaraan ini akan berat."

Jeda beberapa detik setelah kalimat ini memberikan kesempatan bagi otak penerima untuk memasang mode "siaga". Persiapan mental yang hanya sekian detik ini sangat krusial untuk mengurangi dampak hantaman emosional.

2. Hindari Metode "Sandwich" yang Membingungkan

Dulu, orang diajarkan metode Sandwich (Pujian - Kabar Buruk - Pujian) untuk memperhalus penolakan. Namun, riset psikologi modern menunjukkan metode ini justru tidak efektif.

Pujian basa-basi di awal hanya akan menunda rasa sakit dan menciptakan harapan palsu. Penerima akan merasa bingung apakah mereka sedang dipuji atau ditolak. Langsung pada inti masalah (be direct). Setelah kalimat peringatan, sampaikan fakta utama dengan jelas, ringkas, dan tidak ambigu.

3. Validasi Emosi dan Beri Ruang Hening

Setelah kabar buruk disampaikan ("bom dijatuhkan"), reaksi alamiah penerima adalah syok, marah, atau menangis. Kesalahan terbesar penyampai pesan adalah panik dan berusaha segera menghentikan emosi tersebut dengan kalimat klise seperti "Jangan sedih" atau "Ini bukan akhir dunia".

Kalimat tersebut justru meremehkan perasaan penerima. Langkah yang paling manusiawi adalah diam dan hadir. Biarkan hening sejenak. Berikan waktu bagi penerima untuk memproses informasi tersebut. Validasi perasaan mereka dengan kalimat: "Saya mengerti ini sangat mengecewakan/berat untuk didengar."

4. Berikan Alasan, Bukan Permintaan Maaf Berlebih

Kata "Maaf" memang sopan, namun jika diucapkan berlebihan, hal itu menggeser fokus dari fakta menjadi perasaan bersalah penyampai pesan. Terlalu banyak meminta maaf juga bisa menyiratkan bahwa keputusan tersebut salah atau masih bisa diubah.

Fokuslah memberikan alasan (konteks) mengapa keputusan itu diambil. Manusia memiliki kebutuhan kognitif untuk memahami "Kenapa". Penjelasan logis lebih mudah diterima akal sehat daripada penolakan tanpa alasan.

5. Fokus pada Langkah Selanjutnya (Next Steps)

Kabar buruk sering kali membuat seseorang merasa buntu dan kehilangan arah. Tugas terakhir penyampai pesan adalah memberikan peta jalan atau solusi konkret untuk masa depan.

Dalam konteks PHK, misalnya, jelaskan tentang pesangon, rekomendasi kerja, atau prosedur administrasi. Dalam konteks medis atau personal, diskusikan apa yang perlu dilakukan besok. Memberikan rencana aksi membantu mengembalikan rasa kendali (sense of control) kepada penerima berita yang sedang terguncang.

Logo Radio
🔴 Radio Live