Ceritra
Ceritra Update

Solo Berduka: Kesepian Lansia di Balik Ramainya Kota

- Tuesday, 28 October 2025 | 03:00 PM

Background
Solo Berduka: Kesepian Lansia di Balik Ramainya Kota

Aroma Pilu dari Sebuah Kesunyian: Kisah Lansia di Solo yang Meninggal Tak Terjamah Waktu

Solo, kota yang konon ramah dan sarat akan nilai-nilai kekeluargaan, belakangan dihebohkan oleh sebuah kabar yang tak hanya bikin kaget, tapi juga menyisakan pilu di hati. Bayangkan, seorang lansia ditemukan meninggal dunia di rumahnya sendiri, di tengah kota yang hiruk pikuk, dalam kondisi... ya, membusuk. Enam hari, konon, jasad itu tergeletak tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang menyadari kepergiannya. Sebuah ironi yang menampar kita semua, mengingatkan kembali betapa rapuhnya ikatan sosial di tengah geliat modernitas.

Bau Tak Sedap yang Membongkar Sebuah Rahasia Sendu

Kisah ini bermula dari hal yang paling dasar: indra penciuman. Warga sekitar, yang mulanya mungkin hanya mengira ada bangkai hewan atau tumpukan sampah yang tak sengaja terbakar, mulai merasa curiga. Aroma tak sedap itu bukan sekadar bau biasa; ada sesuatu yang ganjil, sesuatu yang menusuk, yang kian hari kian kuat menyelimuti udara di sekitar sebuah rumah sederhana di sudut kota Solo. Rumah itu, seperti kebanyakan rumah lainnya, memiliki dinding, jendela, dan pintu yang tertutup rapat, seolah menyimpan sebuah rahasia yang tak seorang pun ingin tahu. Tapi bau itu, oh, bau itu tak bisa ditipu. Ia merambat pelan, memaksa setiap orang yang melintas untuk bertanya-tanya, "Ada apa sebenarnya di sana?"

Awalnya mungkin mereka cuma saling tatap, menghela napas, lalu melanjutkan aktivitas masing-masing. "Ah, mungkin cuma tikus mati," atau "Jangan-jangan ada sampah yang busuk," begitu pikiran-pikiran klise yang mungkin melintas di benak. Namun, setelah beberapa hari, bau itu tak kunjung hilang, malah makin pekat dan bikin mual. Hingga akhirnya, kecurigaan itu memuncak menjadi kekhawatiran yang tak bisa lagi ditunda. Salah satu warga, entah siapa yang pertama kali memberanikan diri, akhirnya memutuskan untuk melapor. Bukan ke tetangga sebelah, melainkan langsung ke pihak berwajib. Sebuah langkah yang, mau tak mau, harus diambil ketika naluri berkata ada yang tidak beres dan kesunyian rumah itu mulai terasa mencekam.

Ketika Pintu Terbuka, Kesunyian Pun Berakhir

Tak lama berselang, rombongan polisi, didampingi tim medis, tiba di lokasi. Suasana yang tadinya biasa saja mendadak tegang. Warga berkerumun, saling berbisik, mata mereka terpaku pada rumah yang kini jadi pusat perhatian. Setelah serangkaian prosedur dan upaya komunikasi yang tak membuahkan hasil, pintu rumah itu akhirnya dibuka secara paksa. Dan di sanalah, sebuah kenyataan pahit terkuak. Sesosok tubuh yang sudah tak bernyawa, tergeletak sendirian, terbujur kaku, dengan tanda-tanda pembusukan yang tak bisa lagi disembunyikan. Pemandangan yang tentu saja bikin merinding dan meninggalkan pertanyaan besar di benak siapa pun yang melihatnya.

Bagaimana tidak, di tengah keramaian kota, di antara tetangga yang mungkin saja berpapasan setiap hari, ada sebuah nyawa yang pergi begitu saja tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang menyadari. Tim medis segera melakukan pemeriksaan awal di lokasi. Hasilnya? Syukurlah, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Ini penting. Artinya, dugaan sementara mengarah pada kematian alami, mungkin karena sakit yang tak tertangani, atau memang sudah takdirnya untuk pergi dengan tenang, tanpa perlawanan berarti. Sebuah akhir yang damai, tapi juga sangat menyedihkan.

Jenazah lansia malang itu kemudian dievakuasi untuk penanganan lebih lanjut di rumah sakit. Prosesnya berlangsung hati-hati, penuh dengan protokol yang ketat, mengingat kondisi jenazah yang sudah membusuk. Di balik keramaian evakuasi, ada sebuah kesunyian yang lebih dalam: kesunyian yang ditinggalkan oleh sang mendiang, dan kesunyian yang menyelimuti pertanyaan-pertanyaan besar yang kini muncul di benak kita semua. Siapa beliau? Apakah beliau punya keluarga? Mengapa sampai enam hari tak ada yang mencari? Seolah-olah, kehidupan beliau berakhir begitu saja tanpa jejak berarti.

Enam Hari, Sebuah Rentang Waktu yang Terlalu Panjang

Enam hari. Bayangkan, enam hari lamanya seorang manusia terbaring tak bernyawa di rumahnya sendiri, di tengah permukiman padat penduduk. Ini bukan cuma soal kematian, tapi soal bagaimana kita, sebagai masyarakat, melihat dan memperlakukan sesama. Khususnya mereka yang mungkin sudah sepuh, hidup sendirian, dan rentan luput dari perhatian. Fenomena "mati sendirian" atau "lonely death" ini, memang bukan hal baru di negara-negara maju yang tingkat individualisme-nya tinggi, tapi kini tampaknya mulai merambah ke negeri kita, sebuah cerminan gaya hidup modern yang serba cepat dan kadang bikin kita lupa diri.

Di kota-kota besar, atau bahkan di kota yang masih kental nuansa Jawa-nya seperti Solo, kehidupan kadang memang terlalu sibuk. Kita bangun, bekerja, pulang, tidur. Lingkaran setan ini seringkali membuat kita lupa untuk sekadar menyapa tetangga, apalagi mengintip kabar mereka yang mungkin hidup sebatang kara. "Ah, dia kan orangnya tertutup," atau "Mungkin lagi pergi ke rumah anaknya," dalih-dalih seperti ini seringkali jadi pembenar untuk tidak terlalu ikut campur. Tapi, di balik semua dalih itu, ada sebuah lubang besar bernama empati yang kadang luput kita isi dan akhirnya menciptakan sekat tak kasat mata di antara kita.

Kisah lansia di Solo ini, mau tak mau, bikin kita berpikir ulang. Apakah kita sudah cukup peduli? Apakah tetangga sebelah kita baik-baik saja? Apakah sanak saudara yang jauh di sana masih bernapas dengan tenang? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, tapi ketika tragedi seperti ini terjadi, seolah menjadi tamparan keras yang menyadarkan kita bahwa ikatan sosial itu sangat vital, terutama bagi mereka yang paling rentan. Kita lupa, bahwa manusia adalah makhluk sosial, dan kesendirian, apalagi di masa senja, bisa jadi pembunuh yang paling kejam.

Refleksi dan Tanggung Jawab Bersama

Pihak kepolisian masih terus menangani kasus ini. Tentu ada penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan semua spekulasi terjawab, meskipun dugaan sementara memang mengarah pada kematian wajar. Tapi, terlepas dari hasil akhir investigasi polisi, ada pelajaran besar yang bisa kita petik dari kejadian ini. Ini bukan cuma kisah berita, tapi juga semacam ujian bagi kemanusiaan kita.

Kita hidup di era di mana notifikasi grup WhatsApp ramai tapi sapaan langsung ke tetangga bisa dihitung jari. Era di mana status "online" jadi penentu eksistensi, tapi status nyata seseorang di dunia nyata bisa luput dari pantauan. Kejadian di Solo ini adalah pengingat betapa rapuhnya kita jika hidup terisolasi, betapa pentingnya peran komunitas, dan betapa berharganya sekadar sapaan, kunjungan singkat, atau bahkan sekadar menanyakan kabar. Kadang, secangkir kopi dan obrolan ringan bisa jadi penyelamat bagi seseorang yang sedang berjuang dalam kesendiriannya.

Semoga kejadian serupa tidak terulang lagi. Semoga kita semua bisa lebih peka, lebih peduli, dan tidak membiarkan kesunyian menjadi aroma pilu yang membusuk di tengah-tengah kita. Karena pada akhirnya, hidup ini bukan cuma soal diri sendiri, tapi juga soal bagaimana kita merajut kebersamaan, menjaga satu sama lain, agar tak ada lagi yang pergi dalam kesendirian, apalagi sampai enam hari tak terjamah dan tak terdeteksi. Mari jadikan ini "PR" kita bersama, agar kota kita tetap ramah, bukan hanya di namanya, tapi juga di hati setiap warganya.

Logo Radio
🔴 Radio Live